PERNYATAAN Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berpotensi menjadi kompetitor kuat di Pemilihan Presiden 2029, patut dibaca lebih dari sekadar komentar personal.
Pernyataan itu adalah sinyal politik awal, sekaligus upaya membangun posisi tawar agar Gibran tetap berada di lingkar inti kekuasaan—terutama jika skema kembali berpasangan dengan Prabowo Subianto benar-benar menguat.
Dalam politik, pernyataan elite jarang berfungsi menutup peta. Justru sebaliknya, ia kerap dipakai untuk membuka gelanggang.
Pilihan kata “kompetitor” menunjukkan bahwa peta 2029 belum mengerucut pada satu figur dominan. Arena justru sedang melebar, dengan sejumlah nama mulai diposisikan sejajar dalam satu lintasan awal.
Dalam kerangka ini, Gibran diakui relevan, tetapi relevansi itu tidak berdiri sendiri. Ia hadir bersamaan dengan figur lain yang membawa modal politik berbeda-beda.
Artinya, Gibran bukan satu-satunya pusat gravitasi, melainkan salah satu poros awal dalam pembacaan peta kekuasaan 2029.
Sebagai wakil presiden aktif, Gibran memiliki visibilitas tinggi dan akses langsung ke pusat kekuasaan.
Baca juga: Ketika Pilkada Tak Jadi Diutak-atik: Demokrat Terlanjur Basah
Namun, posisi strategis tidak selalu identik dengan posisi dominan. Dalam politik elektoral, kedekatan dengan kekuasaan kerap menjadi pedang bermata dua: memberi keuntungan, tetapi sekaligus menimbulkan beban.
Karena itu, posisi Gibran lebih tepat dipahami sebagai titik awal persaingan, bukan titik akhir penentuan.
Lorong sempit kekuasaanJika dinamika 2029 dipersempit ke satu simpul krusial, maka posisi calon wakil presiden Prabowo adalah titik temu berbagai kepentingan elite.
Jabatan ini bukan sekadar posisi pendamping, melainkan ruang konsolidasi lintas partai, lintas generasi, dan lintas kepentingan.
Teori sirkulasi elite Vilfredo Pareto membantu menjelaskan mengapa kursi ini menjadi sangat diperebutkan.
Kekuasaan memang berputar, tetapi akses menuju pusatnya selalu menyempit di titik tertentu. Dalam konteks hari ini, kursi cawapres Prabowo adalah lorong sempit itu.
Analogi sederhananya seperti jalan tol dengan satu jalur khusus menuju pusat kota. Semua kendaraan bisa melaju, tetapi hanya yang masuk jalur itu yang tiba paling cepat dan paling terlihat.
Kursi cawapres Prabowo adalah jalur khusus tersebut, sehingga wajar jika banyak figur berebut masuk, meski harus saling serobot.




