EtIndonesia. Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Partai Komunis Tiongkok, Zhang Youxia, tiba-tiba disingkirkan. Pertarungan internal PKT yang brutal dinilai kini terbuka ke publik. Para analis di luar negeri menyatakan bahwa peristiwa ini cukup untuk mengguncang struktur kekuasaan militer PKT, dan rezim PKT sedang menuju keruntuhan.
Seiring dengan diumumkannya kejatuhan Zhang Youxia dan anggota KMP Liu Zhenli, dari tujuh anggota KMP PKT kini hanya tersisa dua orang: Ketua KMP Xi Jinping dan Wakil Ketua Zhang Shengmin. Bahkan wakil ketua tetap KMP yang memegang kekuasaan riil atas militer pun disingkirkan, sehingga pertarungan internal PKT yang kejam ini tak lagi bisa ditutupi dengan dalih “antikorupsi”.
Direktur Eksekutif Indo-Pacific Strategic Think Tank sekaligus jurnalis senior Jepang, Akio Yaita, menulis di platform X bahwa ini adalah peristiwa politik besar yang cukup untuk mengguncang situasi politik PKT serta struktur kekuasaan militernya. KMP kini hanya tersisa dua orang, dan Zhang Shengmin pun dipandang sebagai bawahan dekat Zhang Youxia, sehingga setiap saat bisa terseret ke dalam kasus Zhang Youxia.
Ia menyatakan bahwa rasa curiga Xi Jinping telah mencapai tingkat yang sangat parah. Xi bukan hanya tidak mampu menoleransi suara yang tidak sejalan, tetapi bahkan mulai memandang semua orang di sekitarnya sebagai ancaman potensial.
Profesor hukum Universitas Manajemen Singapura, Gao Shuchao (Henry Gao), juga menulis bahwa dengan bahasa yang mudah dipahami, apa yang sedang terjadi di Tiongkok dapat dijelaskan sebagai berikut: logika kediktatoran adalah kekuasaan absolut; ini berarti Anda tidak bisa mempercayai siapa pun; ini berarti Anda harus menyingkirkan semua orang terdekat; dan ini berarti bahwa kecuali seseorang menjadi diri Anda sendiri, maka tidak ada seorang pun yang benar-benar aman.
Akio Yaita menulis bahwa militer PKT sedang dikuras sedikit demi sedikit oleh cara kerja kekuasaan semacam ini. Sejak 2013, di bawah kepemimpinan Xi Jinping, militer berulang kali menjalani kampanye antikorupsi, namun hasilnya bukanlah pembangunan militer yang terinstitusionalisasi dan profesional, melainkan gelombang demi gelombang pembersihan politik. Antikorupsi yang berlangsung terus-menerus pada akhirnya membuat seolah-olah semua orang menjadi pejabat korup.
Ia menilai, dari sudut pandang ini, makna kejatuhan Zhang Youxia bukan hanya urusan internal militer, tetapi juga akan mempengaruhi keseluruhan struktur kekuasaan PKT. Struktur kepemimpinan, hati dan pikiran, serta moral pasukan kemungkinan mengalami kerusakan fatal. Rezim ini bahkan belum dihancurkan oleh musuh eksternal, namun telah lebih dulu mengalami kehancuran dari dalam.
Ia menyimpulkan bahwa PKT hari ini sedang perlahan melangkah menuju titik sejarah kehancuran diri. Ketika kekuasaan hanya menyisakan rasa takut sebagai perekat, ketika loyalitas menggantikan kemampuan sebagai satu-satunya standar, rezim ini mungkin masih tampak besar dari luar, tetapi di dalamnya sudah rapuh tak tertahankan. Struktur seperti ini mungkin tidak akan runtuh seketika, namun hampir pasti tidak akan mampu menghadapi badai yang sesungguhnya. (***)



