FAJAR.CO.ID,JAKARTA — Mantan sekertaris BUMN, Said Didu juga ikut memberikan pernyataan soal klarifikasi dari Ahmad Ali.
Komentar Said Didu ini merupakan komentar yang membalas langsung pernyataan dari Hendri Satrio.
Dimana, Analis Komunikasi Politik itu juga memberikan sorotan tajam ke arah Ahmad Ali usai menyampaikan klarifikasinya.
Hensa menyebut ekspresi yang diperlihatkan oleh Mad Ali seolah pusing dan habis diomelin pimpinan.
“Pusing dia,” tulisnya dikutip Senin (26/1/2026).
“Mungkin abis diomelin, mungkin ya…,” ungkapnya.
Pernyataan ini yang kemudian dibalas oleh Said Didu juga lewat unggahan di media sosial X-nya.
Ia menyebut kemungkinan ada alasan besar yang membuat Mad Ali harus memberikan klarifikasi.
Said Didu menduga salah satu faktor mungkin soal pertahanan untuk menutupi borok yang sangat sulit untuk saat ini.
“Mungkin pertahanan untuk menutupi borok makin sulit ditutupi,” jelasnya.
Klarifikasi Ahmad Ali
Ada dua podcast jadi tempat Ahmad Ali mengungkap kesiapan dari Wakil Presiden (Wapres) RI itu.
Dua podcast itu, secara konsisten membahas hubungan baik antara Presiden terpilih Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Jokowi serta kesinambungan kepemimpinan nasional yang saat ini tercermin dalam duet Prabowo, Gibran Rakabuming Raka.
Adapun klarifikasinya soal judul pemberitaan yang beredar berpotensi menimbulkan asumsi berbeda dari isi pembahasan sebenarnya
Karena menurutnya juga, apa yang disampaikan tidak mencerminkan keseluruhan konteks percakapan dari Ahmad Ali.
“Kalau podcast itu ditonton secara utuh, saya sama sekali tidak sedang bicara soal menjadikan Mas Gibran sebagai lawan politik Pak Prabowo,” ujar Ahmad Ali dalam siaran tertulis.
Soal Gibran yang hangat jadi pembahasan, ia menyebut bahwa sosoknya merupakan Wakil Presiden dengan potensi dan kapasitas yang sangat kuat.
“Mas Gibran punya pengalaman, punya akar rumput, dan punya dedikasi kerja. Itu kualitas yang nyata,” ungkapnya.
Ada penekanan, bahwa Prabowo tidak mungkin menggandeng Gibran jika tidak melihat potensi dan kecocokan dalam bekerja untuk bangsa.
“Pak Prabowo tentu tidak akan memilih pendamping yang tidak punya kapasitas. Kalau hari ini Mas Gibran mendampingi beliau, itu karena dinilai mampu dan punya potensi,” sebutnya.
Di klarifikasinya ini, ia tegas mengatakan pembahasan dalam podcast tersebut bukanlah spekulasi politik Pilpres 2029, melainkan penekanan pada fokus kerja pemerintahan ke depan.
“Pak Prabowo ingin bekerja untuk Indonesia. Beliau belum memikirkan 2029. Soal politik ke depan, itu nanti saja kita lihat,” terangnya.
(Erfyansyah/fajar)




