Pada awal sesi, IHSG tercatat naik 0,92% ke posisi 9.028. Penguatan juga terjadi pada indeks unggulan lainnya. LQ45 dibuka naik ke level 880, sementara indeks saham syariah Jakarta Islamic Index (JII) melonjak ke 617.
Baca juga: Jelang Akhir Pekan, IHSG Loyo dan Tertekan Aksi Ambil Untung
Sebelumnya, pada perdagangan akhir pekan lalu, IHSG ditutup melemah 0,46% atau turun 41,17 poin ke level 8.951.
Dalam sepekan terakhir, performa IHSG tercatat turun 1,37%, seiring dengan outflow investor asing di pasar ekuitas yang mencapai Rp3,25 triliun per 23 Januari 2026. Saham BBCA menjadi yang paling banyak dilepas investor asing, dengan nilai jual mencapai Rp3,71 triliun, sehingga harga sahamnya terkoreksi 5,26% secara mingguan.
Selain itu, aksi profit taking pada saham-saham perbankan turut membebani pasar, sejalan dengan respons investor terhadap berlanjutnya tekanan depresiasi rupiah.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, menyebut pergerakan IHSG hari ini dipengaruhi sejumlah sentimen domestik dan global. IHSG pada hari ini diperkirakan bergerak rebound dalam rentang 8.860–9.000. Wall Street Wait and See, Emas Cetak Rekor Baru Dari mancanegara, pergerakan Wall Street cenderung terbatas pada akhir pekan lalu. Pelaku pasar menanti rilis laporan keuangan emiten teknologi besar seperti Microsoft, Meta, Tesla, IBM, hingga Apple yang dijadwalkan pekan ini.
Sementara itu, harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi (all time high/ATH), menembus level USD5.000 per troy ounce pada 23 Januari 2026, atau naik sekitar 15% secara year to date (YtD). Lonjakan ini dipicu oleh peralihan investor dari dolar AS dan obligasi AS ke emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Permintaan emas dari bank sentral juga meningkat. People’s Bank of China (PBoC) melaporkan pembelian emas sepanjang 2025 mencapai 27 ton, sehingga cadangan emas China kini mencapai 2.306 ton, atau sekitar 8,5% dari total cadangan devisa. Koreksi Dinilai Wajar Head of Research & Chief Economist, Rully Arya Wisnubroto, menilai Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan bias kebijakan akomodatif untuk mendukung program pemerintah. Namun, ruang pelonggaran moneter perlu dijalankan secara hati-hati agar tidak menambah tekanan terhadap rupiah.
“Stabilitas nilai tukar tetap menjadi fokus utama,” ujarnya.
Secara umum, Rully melihat prospek ekonomi Indonesia pada 2026 berpotensi lebih baik dibandingkan 2025. Ia menilai tren IHSG di awal 2026 masih positif, meski sempat terkoreksi dan kembali ditutup di bawah level 9.000 akibat kekhawatiran pasar terhadap rencana perubahan metodologi free float MSCI.
“Koreksi ini wajar setelah kenaikan yang sangat cepat, dan lebih mencerminkan penyesuaian teknikal jangka pendek,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)




