Bisnis.com, JAKARTA — Dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama hari ini Senin (26/1/2026). Depresiasi dolar AS tertekan kekhawatiran investor melihat keterlibatan Amerika Serikat dalam intervensi pasar valuta asing di Jepang yang dapat memperburuk sentimen terhadap mata uang cadangan dunia tersebut.
Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan mata uang utama dunia melemah 0,4%, melanjutkan penurunan 1,6% pada pekan lalu.
Sementara itu, yen Jepang menguat 1% terhadap dolar AS. Apresiasi yen ini seiring kenaikan spekulasi bahwa otoritas Jepang tengah bersiap melakukan intervensi untuk menopang mata uangnya yang tertekan, kemungkinan dengan dukungan pemerintah AS.
Adapun, tanda-tanda dukungan AS untuk memperkuat yen kembali membuka perdebatan mengenai kemungkinan intervensi mata uang terkoordinasi guna mendorong pelemahan dolar terhadap mitra dagang utama. Kesepakatan semacam ini disebut akan membantu eksportir AS bersaing dengan rival seperti China dan Jepang.
Gareth Berry, ahli strategi di Macquarie Group Ltd., mengatakan Jika The Fed New York memutuskan untuk ikut terlibat dalam koordinasi itu maka reli yen akan berlanjut dan bukan hanya karena alasan simbolis.
“Jepang memiliki banyak dolar untuk dijual, tetapi The Fed New York memiliki jumlah yang tak terbatas. Ini juga akan ditafsirkan sebagai sinyal bahwa Trump secara umum menginginkan dolar yang lebih lemah,” kata Berry, dikutip Bloomberg pada Senin (26/1/2026).
Diskusi mengenai bantuan intervensi yen oleh AS ini menguat pada akhir pekan lalu ketika pedagang melaporkan bahwa Federal Reserve Bank of New York menghubungi lembaga-lembaga keuangan untuk menanyakan nilai tukar yen. Wall Street memandang langkah tersebut sebagai indikasi awal bahwa Jepang mungkin akan melakukan intervensi dengan bantuan AS.
Intervensi terkoordinasi untuk menopang yen tergolong jarang, dengan salah satu contohnya terjadi pada 1998, serta Perjanjian Plaza (Plaza Accord) yaitu kesepakatan tahun 1985 antara AS, Prancis, Jepang, Inggris, dan Jerman Barat saat itu, untuk melemahkan dolar.
Pekan lalu merupakan periode terburuk bagi dolar sejak Mei, setelah kebijakan AS yang tidak terduga mengguncang pasar keuangan. Presiden Donald Trump sempat mengancam akan mengenakan tarif terhadap Eropa terkait ambisinya atas Greenland, sebelum secara tiba-tiba membatalkannya. Pada hari Sabtu, ia mengancam tarif 100% terhadap Kanada jika negara tersebut mencapai kesepakatan dagang dengan China.
Risiko terhadap independensi Federal Reserve serta ekspektasi bahwa penerus Ketua The Fed Jerome Powell akan dipengaruhi oleh Trump untuk memangkas suku bunga secara agresif juga terus menekan dolar AS.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5392250/original/080775500_1761411007-InShot_20251025_234741533.jpg)

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F12%2F25%2Fc75fc87d5742444af67664e483a5421d-cropped_image.jpg)