Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas menembus level US$5.000 per ons untuk pertama kalinya, didorong eskalasi ketidakpastian geopolitik akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump serta pelarian investor dari mata uang dan obligasi pemerintah.
Melansir Bloomberg pada Senin (26/1/2026), harga emas sempat naik sekitar 2% ke atas US$5.085 per ons sebelum memangkas tipis penguatannya menjadi 1,7% ke US$5.072,80 per ons.
Kenaikan itu terjadi seiring dengan pelemahan dolar AS yang semakin memperkuat permintaan. Indeks dolar AS tercatat telah turun hampir 2% dalam enam sesi terakhir, di tengah spekulasi bahwa AS dapat membantu Jepang untuk menopang nilai yen.
Kondisi tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap independensi Federal Reserve serta arah kebijakan Trump yang dinilai tidak konsisten.
Selain itu, harga perak juga melesat lebih dari 5% ke rekor tertinggi, setelah pada sesi sebelumnya menembus level US$100 per ons. Reli perak didukung kuatnya permintaan investor ritel, mulai dari Shanghai hingga Istanbul.
Lonjakan harga emas yang signifikan—lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun terakhir—kembali menegaskan peran historis emas sebagai indikator ketakutan di pasar keuangan.
Baca Juga
- Harga Buyback Emas Antam Rekor Baru 12 Kali hingga Senin (26/1)
- Investor Serbu Safe Haven, Harga Emas Tembus US$5.000 per Troy Ons
- Harga Buyback Emas Antam Hari Ini Senin 26 Januari 2026 Dibanderol Rp2,75 Juta per Gram
Setelah mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 1979, harga emas telah naik lebih dari 17% sepanjang tahun ini, terutama didorong oleh apa yang disebut sebagai debasement trade, yakni strategi investor meninggalkan mata uang dan obligasi pemerintah.
Aksi jual besar-besaran di pasar obligasi Jepang pekan lalu menjadi contoh terbaru meningkatnya penolakan investor terhadap kebijakan belanja fiskal yang agresif.
Dalam beberapa pekan terakhir, langkah-langkah pemerintahan Trump—mulai dari serangan verbal terhadap The Fed, ancaman aneksasi Greenland, hingga intervensi militer di Venezuela—telah mengguncang pasar keuangan global. Di tengah ketidakpastian tersebut, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai kian menguat.
“Emas adalah kebalikan dari kepercayaan. Ini adalah lindung nilai terhadap lonjakan inflasi yang tak terduga, koreksi pasar, serta meningkatnya risiko geopolitik," ujar Max Belmont, manajer portofolio di First Eagle Investment Management.
Pada akhir pekan lalu, Trump juga mengancam Kanada dengan tarif 100% atas seluruh ekspor ke AS apabila Ottawa menjalin kesepakatan dagang dengan China, yang semakin meningkatkan ketegangan bilateral.
Di sisi lain, ketidakpastian politik domestik AS masih tinggi setelah pemimpin mayoritas Demokrat di Senat, Chuck Schumer, berjanji akan memblokir paket belanja besar kecuali Partai Republik mencabut pendanaan untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri. Langkah ini meningkatkan risiko penutupan sebagian pemerintahan AS.
Lonjakan utang publik di negara-negara maju juga menjadi pilar penting reli emas. Sejumlah investor jangka panjang menilai inflasi pada akhirnya akan menjadi satu-satunya jalan bagi pemerintah untuk menjaga keberlanjutan fiskal, sehingga emas dipilih sebagai instrumen untuk melindungi daya beli.
“Dalam tiga tahun terakhir, kekhawatiran terhadap arah utang jangka panjang meningkat tajam. Argumen soal pelemahan nilai dan utang paling kuat kami temukan di kalangan family office, yang fokus pada perlindungan kekayaan lintas generasi, bukan keuntungan jangka pendek," ujar John Reade, kepala strategi World Gold Council.
Tren debasement trade mencapai puncaknya pada akhir 2025, ketika investor ternama seperti CEO Citadel Securities Ken Griffin dan pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio menyoroti lonjakan harga emas sebagai sinyal peringatan bagi pasar.
Saat ini, investor menantikan keputusan Trump terkait calon ketua The Fed berikutnya, setelah Presiden AS itu menyatakan telah menyelesaikan proses wawancara kandidat.
Penunjukan ketua The Fed yang lebih dovish berpotensi memperbesar ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini—kondisi yang umumnya menguntungkan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
“Banyak ketidakpastian geopolitik akibat kebijakan Trump tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat,” kata Vasu Menon, Managing Director Investment Strategy di Oversea-Chinese Banking Corp Ltd.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat emas masih berpeluang tetap menjadi pilihan investor dalam beberapa bulan bahkan tahun ke depan, meski pasar perlu mewaspadai potensi koreksi setelah kenaikan tajam dalam 12 bulan terakhir.



