Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin (26/1/2026), bergerak menguat 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp16.784 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.820 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah sendiri sempat menyentuh level intraday sekitar Rp16.985 per dolar AS pada 20 Januari 2026. Hal yang harus jadi perhatian serius karena angka itu bahkan lebih lemah dibanding level intraday saat krisis moneter 1998, yang berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS.
Sementara itu, Lukman Leong analis mata uang Doo Financial Futures mengatakan penguatan rupiah pada awal pekan ini, diiringi rilis data ekonomi AS yang lemah.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang kembali mengalami sell-off menyusul rilis data ekonomi AS yang lebih lemah,” katanya seperti dikutip Antara.
Tercatat, Purchasing Managers’ Index (PMI) AS mencapai 51,9, kurang dari perkiraan yang sebesar 52. Adapun ekspektasi inflasi konsumen AS sebesar 4 persen, di bawah dugaan 4,2 persen.
Di samping itu, penguatan rupiah turut didukung komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah yang memberikan sentimen positif.
“BI umumnya intervensi di spot, obligasi, dan non deliverable forward (NDF),” ungkap Lukman.
Sebelumnya, Perry Warjiyo Gubernur BI menegaskan bahwa pihaknya siap untuk membawa rupiah menguat dengan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot.
Bank Indonesia meyakini ke depan akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat berkat dukungan imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi.
Penguatan rupiah juga akan didukung cadangan devisa (cadev) yang dinilai lebih dari cukup untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diprediksi berkisar Rp16.750-Rp16.900 per dolar AS. (ant/bil/iss)




