BGN Pastikan Tidak Memaksa Sekolah yang Menolak MBG

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang memastikan tidak memaksa sekolah yang menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Ia juga menegaskan kepada seluruh kepala satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) agar tidak memaksa sekolah atau siswa menjadi penerima manfaat MBG.

"Para kepala SPPG tidak boleh memaksa. Kalau ada sekolah yang tidak mau menerima MBG karena misalnya para siswa sekolah itu anak-anak orang yang mampu, ya enggak apa apa," kata Nanik dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (26/1/2026), dilansir dari ANTARA.

Baca juga: Pimpinan Komisi IX Usul BGN Buat Kanal Aduan Online Progam MBG

Nanik menyampaikan penekanannya itu saat seorang kepala SPPG dari salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang kesulitan meningkatkan jumlah penerima manfaat MBG di wilayahnya.

Kesulitan tersebut dihadapi ketika beberapa sekolah elite di Kabupaten Banyuwangi menolak menerima MBG.

Ia menjelaskan, MBG diberikan kepada seluruh anak Indonesia agar tidak ada seorang pun anak Indonesia yang tidak mendapatkan gizi yang baik.

Namun, ia menyampaikan bahwa penerimaan MBG sifatnya sukarela.

"Tidak boleh ada pemaksaan apalagi intimidasi dari SPPG atau dari instansi manapun, bahwa seolah-olah sekolah yang tidak mau menerima MBG berarti tidak menyukseskan program pemerintah," jelas Nanik.

Baca juga: Pamerkan Program MBG di WEF 2026, Prabowo: Ciptakan 600.000 Pekerjaan

Jika sekolah-sekolah itu mampu mencukupi kebutuhan gizi para siswanya, maka hal itu tidak menjadi masalah ketika mereka menolak MBG.

"Pokoknya, untuk para kepala SPPG, kami dari BGN tidak ada unsur pemaksaan sedikitpun," ucap Nanik.

Ia pun menyarankan para kepala SPPG berkeliling di wilayah cakupannya untuk mencari penerima manfaat lain yang lebih membutuhkan.

Baca juga: BGN Akui Sejumlah Dapur MBG Cianjur Belum Sesuai Standar, Apa Sebabnya?

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Misalnya ke pesantren-pesantren kecil, anak-anak putus sekolah, atau anak-anak jalanan yang masih usia sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

"Masih banyak yang belum menerima MBG, sementara mereka sangat membutuhkan," jelas Nanik.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Wamenkumham: Aparat Siap Terapkan KUHP Baru, Tantangan Terberat Ada pada Pola Pikir Masyarakat
• 2 jam lalusuara.com
thumb
Makin Banyak Wanita Melahirkan di Usia 35 Tahun ke Atas, Pola Persalinan Berubah
• 5 menit lalugenpi.co
thumb
Bintang-Bintang yang Menyala di Piala Dunia 1934
• 18 jam lalutvrinews.com
thumb
JPO Seberang Stasiun KA Bekasi Mulai Dibangun
• 5 jam laludetik.com
thumb
Ranking Sementara Proliga 2026, Jakarta Lavani Juara Putaran Pertama
• 6 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.