Jakarta, VIVA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghantui industri teknologi global di awal 2026. Setelah dua tahun terakhir diwarnai efisiensi besar-besaran, sejumlah raksasa teknologi belum sepenuhnya menghentikan langkah penghematan biaya.
Amazon menjadi salah satu perusahaan yang kembali dikabarkan melakukan PHK besar-besaran. Di tengah performa keuangan yang masih solid, perusahaan e-commerce raksasa asal Amerika Serikat ini justru bersiap melakukan penyesuaian besar di level korporasi.
Baru-baru ini, Amazon dilaporkan tengah mempersiapkan gelombang kedua PHK global yang dapat dimulai paling cepat pekan ini. Perusahaan menargetkan pemangkasan sekitar 10 persen karyawan kantoran secara global, atau setara kurang lebih 30.000 posisi.
Melansir dari Modaes, Senin, 26 Januari 2026, jumlah posisi yang terdampak pada gelombang kedua ini bisa mencapai hingga 14.000 posisi, dengan skala yang serupa dengan PHK yang dilakukan pada Oktober tahun lalu.
Pemangkasan ini diperkirakan akan menyentuh sejumlah divisi penting, mulai dari Amazon Web Services (AWS), operasi ritel, Prime Video, hingga departemen sumber daya manusia (HR). Hingga kini, Amazon belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait rencana PHK terbaru tersebut.
Sebelumnya, Amazon telah memangkas 27.000 pekerjaan pada 2022. Jika rencana pengurangan total 30.000 peran korporasi ini tuntas, maka langkah tersebut akan menjadi PHK kolektif terbesar sepanjang 30 tahun sejarah Amazon.
- Amazon
Dalam gelombang PHK sebelumnya, Amazon tetap menggaji karyawan terdampak selama 90 hari dan memberi kesempatan bagi mereka untuk melamar posisi internal lain setelah masa tersebut berakhir.
Pada tahun lalu saja, Amazon memangkas sekitar 14.000 posisi di seluruh dunia, angka yang nyaris identik dengan skala PHK yang diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat ini.
Sejumlah analis menilai bahwa gelombang PHK terbaru ini berkaitan erat dengan meningkatnya penggunaan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan (AI) di internal Amazon. Namun, analis lain berpendapat bahwa langkah ini lebih merupakan penyesuaian organisasi, guna memangkas tingkat birokrasi internal yang dinilai telah mencapai level tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Di Eropa, Amazon juga telah melakukan efisiensi serupa. Di Spanyol, perusahaan menjalankan program redundansi (ERE) tahun lalu yang berdampak pada 1.200 karyawan. Sejalan dengan strategi globalnya, pemangkasan tersebut hanya menyasar posisi korporasi, termasuk di Amazon Digital Spain di Madrid serta Amazon Spain Service di Barcelona.




