Seabad Ramalan Tesla: Mengapa Kita Masih Tersesat di Persimpangan?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Persis seratus tahun yang lalu, di tahun 1926, sebuah majalah (Collier, terbit di Amerika Serikat) memuat wawancara yang hari ini terasa seperti tamparan. Nikola Tesla—sang jenius penemu teknologi nirkabel—mengeluarkan ramalan berjudul "When Woman is Boss".

​Tesla bukan sekadar bicara soal gender. Ia sedang melihat jauh ke depan, ke sebuah masa di mana peradaban tidak lagi didominasi oleh kekuatan otot dan fisik yang selama ini identik dengan laki-laki.

Ia meramalkan bahwa yang akan memimpin—menjadi "bos"—adalah kecerdasan, ketelitian, dan intuisi; kualitas yang ia yakini akan semakin menonjol pada perempuan di era teknologi (mungkin maksudnya adalah proses feminisasi peradaban).

Ia membayangkan bahwa kita akan terhubung secara instan lewat alat seukuran saku—yang sekarang kita sebut smartphone—sehingga manusia bebas dari tugas-tugas kasar dan bisa menggunakan sayap pikiran untuk hal-hal yang lebih mulia.

​Bagi Tesla, teknologi adalah jembatan menuju kemerdekaan yang digerakkan oleh pemikiran, bukan otot.

​Realitas yang Ambigu

​Namun, tepat di tahun 2026 ini, realitas justru membingungkan. Alih-alih merdeka, kita sering kali merasa terjebak. Kita memang memegang smartphone di saku, tapi kita bukan lagi subyek yang bebas.

Artinya, kita bukan lagi pengendali utama atas pilihan hidup kita sendiri. Sering kali, justru algoritma di balik layar yang mendikte apa yang harus ditonton, dibeli, bahkan apa yang harus disuka atau dibenci.

​Kita terjebak dalam apa yang saya sebut sebagai "Kasta Akses". Ini bukan soal perbedaan kasta lama, melainkan soal kesenjangan baru di mana dunia terbelah menjadi dua kelompok.

Tesla mengatakan bahwa dunia memang terhubung seperti satu "otak raksasa", tetapi sekarang otak itu sering kali sakit karena penuh hoaks dan cenderung hanya mengejar keuntungan.

​Menengok ke Timur sebagai Solusi

​Jika narasi Barat terjebak antara mengejar kecanggihan tanpa batas atau ketakutan akan kiamat, mungkin sudah saatnya kita menyodorkan kebijakan dari Timur sebagai penyeimbang.

​Di Timur, peradaban tidak dibangun hanya untuk menaklukkan alam atau menciptakan mesin yang paling cepat. Kebijakan Timur mengajarkan kita tentang "harmoni".

​Penutup

Setelah seratus tahun setelah ramalan Tesla, tugas kita bukan lagi sekadar menjadi lebih pintar secara digital, melainkan juga menjadi lebih bijak sebagai manusia. Kita mungkin butuh teknologi seperti layaknya imajinasi Nikola Tesla, tetapi kita juga butuh nurani Timur untuk mengemudikannya agar tidak kebablasan.

​Majulah dengan alat-alat yang hebat, tetapi pulanglah ke nurani.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sosok Irjen Achmad Kartiko Akpol 1991 Letting Kapolri Promosi Kalemdiklat Polri, Mantan Kapolda Aceh
• 6 menit lalutribuntimur.com
thumb
Perpaduan Sains, Teknologi, dan Kecantikan, dalam Beauty Science Tech 2026
• 4 jam lalugrid.id
thumb
Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Kopilot Pesawat ATR 42-500
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPK Ungkap Skenario Pemeriksaan Jokowi di Kasus Kuota Haji
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Anggota Komcad TNI AD Jual Senpi, Polisi Ungkap Asal Usulnya
• 6 menit laluviva.co.id
Berhasil disimpan.