EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Dalam rentang waktu kurang dari satu minggu, Iran dan Amerika Serikat sama-sama menunjukkan eskalasi kekuatan militer secara terbuka—memicu kekhawatiran luas akan pecahnya konflik besar yang dapat mengguncang stabilitas global.
Iran Uji Coba Rudal Balistik Antarbenua Terjauh dalam Sejarahnya
Dalam beberapa hari terakhir, Iran merilis rekaman resmi uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) jenis baru, yang disebut memiliki kemiripan dengan seri Qaem-105. Rudal ini dilaporkan memiliki jangkauan hingga 3.700 mil atau lebih dari 6.000 kilometer, menjadikannya ICBM dengan jangkauan terjauh yang pernah diuji Iran sejauh ini.
Uji coba tersebut dilakukan dari pangkalan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Semnan, wilayah tengah-utara Iran. Menurut informasi yang beredar, lintasan uji coba diarahkan ke Siberia, Rusia, dan dilakukan atas persetujuan Moskow—sebuah detail yang langsung menarik perhatian komunitas intelijen Barat.
Sebelumnya, Defense Intelligence Agency (DIA) Amerika Serikat telah memperingatkan bahwa hingga tahun 2035, Iran berpotensi memiliki sekitar 60 unit rudal balistik antarbenua, sebuah kemampuan yang secara signifikan mengubah keseimbangan strategis kawasan.
Iran Rilis Video Ancaman, Tandai Seluruh Pangkalan AS di Timur Tengah
Ketegangan meningkat tajam pada 22 Januari 2026, ketika Iran secara resmi merilis video propaganda militer yang menampilkan peta target berisi seluruh pangkalan utama Amerika Serikat di Timur Tengah.
Dalam video tersebut, terlihat dengan jelas penandaan terhadap:
- Pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain
- Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar
- Pangkalan Udara Abu Dhabi, Uni Emirat Arab
- Berbagai fasilitas militer AS di Arab Saudi dan Yordania
Pesan yang disampaikan dinilai tidak ambigu: Iran ingin menunjukkan bahwa seluruh kehadiran militer AS di kawasan berada dalam jangkauan serangan.
Drone Shahed-136 Diparkir Massal, Isyarat Persiapan Serangan
Sementara itu, citra satelit terbaru menunjukkan pemandangan mencolok di Bandara Mehrabad, dekat Teheran. Puluhan drone bunuh diri Shahed-136 terlihat diparkir secara terbuka, mengindikasikan bahwa Iran tengah mempersiapkan opsi serangan jarak jauh, termasuk kemungkinan eskalasi langsung terhadap Israel.
Maskapai Barat Hentikan Penerbangan ke Timur Tengah
Ketegangan militer mulai berdampak langsung pada sektor sipil. Pada 23 Januari 2026, sejumlah maskapai penerbangan Barat mengambil langkah drastis:
- Air France membatalkan penerbangan ke Dubai
- British Airways menyusul dengan kebijakan serupa
- Maskapai Belanda mengumumkan penghentian sementara seluruh penerbangan ke Timur Tengah, termasuk ke Tel Aviv, Riyadh, Dubai, dan Qatar
Keputusan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran akan keselamatan penerbangan sipil di kawasan konflik.
Amerika Serikat Aktifkan Postur Perang Tingkat Tinggi
Panglima CENTCOM Bergerak ke Yordania
Pada 21 Januari 2026, Panglima Komando Pusat AS (CENTCOM), Jenderal Michael “Erik” Kurilla, terbang dari Pangkalan Udara MacDill, Tampa, Florida, menuju Yordania menggunakan pesawat C-32A.
MacDill merupakan markas utama CENTCOM yang mengoordinasikan seluruh operasi militer AS di Timur Tengah, termasuk wilayah Iran, Irak, dan Israel.
Biasanya, markas komando garis depan CENTCOM berada di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar. Namun kali ini, AS memutuskan tidak menggunakan Al-Udeid sebagai pusat operasi potensial terhadap Iran, sehingga Yordania diperkirakan akan menjadi pusat komando garis depan baru.
USS Abraham Lincoln Resmi Masuk Wilayah CENTCOM
Pergerakan laut AS juga mencapai tahap krusial. Hingga 23 Januari, Kapal Induk USS Abraham Lincoln tercatat melintasi Samudra Hindia dan berada di perairan barat India, masih di bawah Komando Indo-Pasifik.
Namun pada 24 Januari 2026, kapal ini memasuki Laut Arab bagian tengah dan secara resmi berada di bawah kendali CENTCOM, menandai eskalasi militer terbuka terhadap Iran.
Komposisi Kekuatan Laut AS di Kawasan
Saat ini, kekuatan laut AS di Timur Tengah mencakup:
- 1 kapal induk USS Abraham Lincoln
- 6 kapal perusak kelas Arleigh Burke
- 2 kapal selam nuklir:
- USS South Dakota (kapal selam serang)
- USS Georgia (kapal selam rudal jelajah)
USS Abraham Lincoln membawa:
- 1 skuadron F-35C
- 3 skuadron F/A-18 Super Hornet
- 1 skuadron EA-18G Growler (perang elektronik)
- 1 skuadron E-2D Hawkeye
- 2 skuadron helikopter
- 1 skuadron MV-22 Osprey
Yang mengejutkan, Penjaga Pantai AS juga mengerahkan 6 kapal perang ke Teluk Persia, terutama untuk patroli dan pengamanan jalur laut.
Selain itu, AS mengoperasikan kapal logistik, 3 kapal tempur litoral, serta kapal komando USS Mount Whitney di kawasan Teluk Arab.
Yordania Jadi Pusat Operasi Kunci
Dalam beberapa hari terakhir, AS secara masif mengirimkan pesawat tempur dan logistik ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania. Saat ini, penempatan udara AS di Timur Tengah dan Eropa meliputi:
- 2 skuadron F-35A
- 3 skuadron F-15
- 1 skuadron F-16
- 1 skuadron A-10 Thunderbolt II
Jet F-15 terlihat berulang kali lepas landas dari pangkalan di Inggris dan mendarat di Yordania.
Berbeda dengan konflik sebelumnya, Yordania kini menjadi pusat utama operasi AS, setelah:
- Arab Saudi melarang penggunaan wilayah udara dan pangkalannya untuk menyerang Iran (dua minggu sebelumnya)
- Qatar dan Oman menunjukkan sikap berhati-hati karena khawatir serangan balasan Iran
Secara geografis, Muwaffaq Salti sangat strategis:
- Sekitar 900 km dari perbatasan Iran
- Sekitar 1.300 km dari Teheran
- Jalur langsung melintasi Irak
Kekuatan Bawah Laut dan Opsi Serangan
Di bawah laut:
- USS South Dakota mampu membawa 12 rudal jelajah Tomahawk
- USS Georgia, kapal selam kelas Ohio yang dimodifikasi, mampu membawa hingga 154 rudal Tomahawk
Baru-baru ini, sebuah lembaga pemikir AS mengusulkan skenario serangan menyeluruh terhadap:
- Kilang minyak di Teheran dan Isfahan
- Fasilitas energi dan pelabuhan Bandar Abbas
- Kementerian Pertahanan Iran
- Kantor Pemimpin Tertinggi Iran
Iran Balas Ancam Israel
Sebagai respons, pada 23 Januari 2026, Iran merilis peta target Israel, mencakup:
- Lebih dari 10 pangkalan militer
- Kilang minyak utama
- Markas Mossad dan Shin Bet
- Bandara Internasional Ben Gurion
Akankah Perang Meletus?
Meski eskalasi sangat nyata, sejumlah analis menilai serangan AS belum akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Alasannya:
- Konsentrasi militer belum sepenuhnya rampung
- USS George H.W. Bush telah meninggalkan Norfolk seminggu lalu, namun belum melintasi Selat Gibraltar
- Sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD masih dalam tahap pengerahan dan instalasi
Dalam Perang 12 Hari tahun lalu, Iran meluncurkan lebih dari 20 rudal balistik ke Pangkalan Al-Udeid, yang hampir seluruhnya berhasil dicegat oleh Patriot—menunjukkan pentingnya kesiapan pertahanan sebelum serangan.
Kesimpulan
Amerika Serikat telah mengerahkan kekuatan militer dalam skala yang sangat besar, namun belum mencapai tahap final. Bahkan setelah semua aset siap, keputusan menyerang Iran tetap berada sepenuhnya di tangan Presiden Donald Trump.
Yang pasti, jika keputusan itu diambil, militer AS di Timur Tengah siap bergerak dalam hitungan jam. Namun apakah langkah tersebut akan benar-benar diambil, akan sangat bergantung pada situasi internal Iran, kalkulasi risiko regional, serta keyakinan AS dan Israel untuk menjatuhkan rezim Teheran.
Dunia kini menahan napas.



