EtIndonesia. Seorang pemilik peternakan memelihara banyak domba. Tetangganya adalah seorang pemburu yang memelihara sekawanan anjing pemburu yang ganas di halaman rumahnya.
Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan menyerang anak-anak domba di peternakan.
Pemilik peternakan sudah beberapa kali meminta sang pemburu agar mengurung anjing-anjingnya dengan baik. Sang pemburu selalu mengiyakan secara lisan, tetapi beberapa hari kemudian, anjing-anjing itu kembali melompat ke peternakan, berlari liar, dan menggigit beberapa ekor anak domba.
Tak tahan lagi, pemilik peternakan pun pergi mengadu kepada hakim di kota.
Setelah mendengar keluhannya, hakim yang bijaksana berkata: “Aku bisa menghukum pemburu itu, atau mengeluarkan perintah agar dia mengurung anjing-anjingnya. Namun jika itu kulakukan, kamu akan kehilangan seorang teman dan justru mendapatkan seorang musuh. Menurutmu, lebih baik bertetangga dengan musuh atau dengan seorang teman?”
“Tentu saja bertetangga dengan teman,” jawab pemilik peternakan.
“Baik, aku akan memberimu sebuah cara. Lakukan seperti yang aku katakan. Bukan hanya dombamu akan aman, kamu juga akan mendapatkan seorang tetangga yang ramah,” kata hakim.
Hakim pun menjelaskan rencananya dengan rinci, dan pemilik peternakan mengangguk setuju.
Sesampainya di rumah, pemilik peternakan memilih tiga anak domba yang paling lucu dan menggemaskan, lalu memberikannya kepada tiga orang anak sang pemburu.
Melihat anak-anak domba yang putih dan jinak itu, ketiga anak pemburu sangat gembira. Setiap hari sepulang sekolah, mereka bermain dan bercanda bersama anak-anak domba di halaman rumah.
Karena takut anjing-anjingnya melukai anak-anak domba milik anak-anaknya, sang pemburu pun membuat kandang besi besar dan mengurung anjing-anjingnya dengan kuat.
Sejak saat itu, kawanan domba di peternakan tidak pernah lagi diganggu.
Sebagai ungkapan terima kasih atas kebaikan tetangganya, sang pemburu mulai sering mengirimkan hasil buruan kepadanya. Sebaliknya, pemilik peternakan juga kerap membalas dengan daging domba dan keju.
Lambat laun, keduanya pun menjadi sahabat baik.
Untuk meyakinkan seseorang, cara terbaik adalah memikirkan kepentingannya—dan membuatnya ikut memperoleh manfaat.
Hikmah Cerita
Setelah membaca kisah sederhana ini, kita diingatkan akan satu kebenaran penting: cara paling efektif untuk meyakinkan seseorang bukanlah dengan paksaan, melainkan dengan empati dan kepedulian.
Banyak kata bijak terdengar sederhana dan mudah dipahami, tetapi menerapkannya dalam kehidupan nyata membutuhkan latihan dan kedewasaan batin.
Saat berhadapan dengan tetangga atau orang lain yang menyulitkan, kemarahan sering kali menutupi kebijaksanaan. Akibatnya, kita memilih jalan konfrontasi dan saling melukai, padahal ada jalan lain yang jauh lebih damai dan cerdas.
Semoga kisah ini tidak hanya dipahami, tetapi juga benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.(jhn/yn)



