Sama-sama di Era Tavares: Solo Run Ramadhan Sananta Ala Gareth Bale di PSM dan Aksi Rachmat Irianto Layaknya Diego Maradona

harianfajar
1 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SURABAYA — Bernardo Tavares bukan hanya dikenal sebagai pelatih bertangan dingin. Ia juga dikenal sebagai pelatih yang peka terhadap momen. Ia tahu kapan sebuah gol bukan sekadar gol, melainkan simbol.

Di era kepemimpinannya—baik di PSM Makassar maupun kini bersama Persebaya Surabaya—lahir dua momen yang terasa seperti potongan sejarah kecil:
solo run Ramadhan Sananta yang mengingatkan pada Gareth Bale, dan aksi individu Rachmat Irianto yang membuat Tavares spontan menyebut nama Diego Armando Maradona.

Dua pemain. Dua klub. Dua momen berbeda.
Namun satu benang merah: kepercayaan pelatih, keberanian pemain, dan kebebasan berekspresi di lapangan.

Maradona di Bantul: Lahirnya Julukan Ikonik

Pekan ke-18 Super League 2025/2026, Stadion Sultan Agung, Bantul.
Persebaya Surabaya menutup laga kontra PSIM Yogyakarta dengan kemenangan 3-0, Minggu (25/1/2026). Namun skor bukan cerita utama.

Cerita utamanya adalah gol ketiga.

Rachmat Irianto—gelandang bertahan, bukan winger, bukan penyerang—melakukan solo run dari tengah lapangan. Ia membawa bola, menembus ruang, melewati hadangan, lalu menuntaskan dengan tembakan akurat ke gawang.

Gol itu bukan tentang posisi.
Bukan tentang skema.
Tapi tentang insting dan keberanian.

Bernardo Tavares terpaku.

“Kalau saya melihat gol ini hari ini dan saya belum pernah melihat Rian sebelumnya, saya akan mengira namanya Diego Armando Maradona.”

Kalimat itu spontan. Jujur. Emosional.
Dan langsung menjadi kutipan ikonik.

Bukan karena Tavares menyamakan kualitas Rian dengan Maradona,
tetapi karena esensi golnya: dribel panjang, kepercayaan diri, keberanian menantang ruang.

Dari seorang gelandang bertahan.

Statistik memperkuat narasi:

Main 28 menit

1 tembakan

1 gol

Akurasi tembakan 100%

Umpan 4/4 sukses

3 intersep

1 clearance

Efektif. Senyap. Mematikan.

Gol itu bukan hanya mengunci kemenangan, tapi melahirkan identitas baru:
Rian, pemain pekerja, kini juga simbol keberanian.

Flashback ke Makassar: Bale-nya Bernama Sananta

Beberapa musim sebelumnya, di Makassar, publik PSM pernah menyaksikan momen serupa.

Ramadhan Sananta.
Masih muda. Masih mentah.
Tapi punya keberanian.

Dalam salah satu laga bersama PSM di era Tavares, Sananta melakukan solo run dari sisi lapangan, memanfaatkan ruang, kecepatan, dan power, sebelum mengakhiri dengan penyelesaian klinis.

Gaya larinya.
Arah dribelnya.
Cara ia memanfaatkan ruang kosong.

Mengingatkan banyak orang pada Gareth Bale versi Tottenham dan Real Madrid:
bukan sekadar cepat, tapi eksplosif dan vertikal.

Di momen itu, Sananta bukan hanya mencetak gol.
Ia menciptakan ikonografi:
pemain muda Indonesia yang berani membawa bola jauh, tidak ragu, tidak menoleh ke belakang.

Pola yang Sama: Kebebasan dalam Struktur

Menariknya, baik Sananta maupun Rachmat Irianto lahir dari sistem yang sama:
sistem Bernardo Tavares.

Disiplin tinggi.
Struktur ketat.
Organisasi kuat.

Namun di dalam struktur itu, Tavares memberi satu ruang penting:
ruang untuk ekspresi individu.

Ia tidak membunuh kreativitas.
Ia tidak mematikan insting.
Ia mengatur fondasi—lalu membiarkan pemain berani mengambil risiko di momen yang tepat.

Hasilnya:

Sananta berani solo run di PSM

Rian berani membawa bola dari tengah di Persebaya

Dua aksi itu lahir bukan dari chaos,
tapi dari rasa aman dalam sistem.

Dari Bale ke Maradona: Dua Gaya, Satu Filosofi

Sananta = vertikal, eksplosif, direct
Rian = progresif, tenang, elegan

Gareth Bale = kekuatan dan kecepatan
Maradona = kontrol dan keberanian ruang sempit

Berbeda gaya.
Berbeda karakter.
Namun satu esensi yang sama: keberanian mengambil alih momen.

Dan di era Tavares, keberanian itu tidak dihukum—justru dirawat.

Lebih dari Sekadar Gol

Dua momen ini bukan sekadar highlight.
Bukan sekadar konten media sosial.
Bukan sekadar viral.

Ini adalah identitas sepak bola:

bahwa pemain Indonesia bisa berani,

bisa percaya diri,

bisa mengeksekusi aksi individual tanpa kehilangan disiplin kolektif.

Sananta dan Rian adalah simbol:
bahwa dalam sistem yang benar,
pemain lokal bisa tumbuh jadi karakter, bukan sekadar pelengkap.

Dari Makassar ke Surabaya, dari Bale ke Maradona

Era Tavares membuktikan satu hal:

Struktur membangun tim,
tapi keberanian membangun legenda kecil.

Dan di antara ribuan gol yang tercipta setiap musim,
hanya sedikit yang benar-benar diingat.

Gol Sananta dikenang.
Gol Rian dikenang.

Bukan karena skornya.
Tapi karena ceritanya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Indonesia Mundur Jadi Tuan Rumah, BWF Buka Bidding Baru untuk Kejuaraan Dunia Junior 2026
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Terjerat Kasus Judi, Anggota DPRD Kudus Divonis Kerja Sosial 60 Jam
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Terkini! 17 dari 26 Kantong Jenazah Korban Longsor di Bandung Barat Teridentifikasi | KOMPAS SIANG
• 46 menit lalukompas.tv
thumb
Polisi Ungkap Peristiwa Dini Hari Sebelum Lula Lahfah Ditemukan Meninggal
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Apa Maksud “Dakwaan Tidak Jelas” Seperti di Kasus Khariq Anhar?
• 2 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.