Pemerintah Kabupaten Pemalang menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari, terhitung mulai 24 Januari hingga 6 Februari 2026.
Sebelumnya, pada Sabtu (24/1) dan Minggu (25/1), sejumlah desa di lereng Gunung Slamet diterjang banjir bandang dan tanah longsor. Dua orang meninggal dunia, sementara satu orang lainnya masih hilang.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) mengatakan, berkaca dari musibah ini, pihaknya akan mengusulkan kepada pemerintah pusat agar kawasan hutan lindung Gunung Slamet benar-benar diperkuat.
“Nah, momen ini sebenarnya pas untuk bagaimana menyatukan dari lima kabupaten (Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, Brebes) ini untuk berbicara bersama-sama, mengirim bersama-sama berkasnya, bahwa hutan lindung benar-benar harus kita kuatkan,” ujar Gus Yasin, Senin (26/1).
Dari pengamatan awal di lapangan, Taj Yasin melihat adanya pohon-pohon yang tergerus banjir bandang dengan kondisi akar masih segar. Hal tersebut mengindikasikan pohon-pohon tersebut tercabut murni akibat banjir.
“Kalau melihat akarnya masih segar, itu karena tergerus derasnya arus,” jelasnya.
Selain itu, batang pohon yang hanyut tersebut merupakan sisa kebakaran hutan pada tahun 2017. Namun demikian, pihaknya akan melakukan pendalaman untuk mengetahui penyebab pasti bencana tersebut.
“Dalam waktu dekat ini kita coba nanti kita lihat situasi, karena situasinya masih mendung, masih gelap,” sebut Gus Yasin.
Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Pemalang, bencana banjir melanda wilayah Kabupaten Pemalang, tepatnya di Kecamatan Pulosari dan Kecamatan Moga, sebagai dampak hujan ekstrem yang mengguyur lereng Gunung Slamet sejak Jumat malam, 13 Januari 2026.
Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan meluapnya Sungai Kali Soso, Kali Penakir, dan Sungai Gintung, sehingga air menggenangi permukiman warga serta merusak infrastruktur di sejumlah desa.
Akibat peristiwa ini, sebanyak 1.805 warga Pulosari mengungsi ke tempat yang aman.
Satu orang dilaporkan meninggal dunia di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, setelah terseret banjir. Selain itu, satu orang warga Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, meninggal dunia akibat longsor dan satu lainnya masih hilang. Kedua korban merupakan ayah dan anak.
Sementara itu, tujuh orang warga Desa Sima, Kecamatan Moga, mengalami luka-luka dan telah mendapatkan penanganan medis.
Banjir juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur vital. Jembatan Walim dan Jembatan Beser di Desa Gunungsari, yang merupakan penghubung Dusun Silegok-Sipendil, dilaporkan terputus.
Jembatan di Dusun Batursari pada Sungai Comal, perbatasan Desa Penakir, juga mengalami kerusakan berat hingga terputus.
Selain itu, Jembatan Sungai Reas di Desa Jurangmangu rusak, serta jaringan perpipaan di desa yang sama hanyut terbawa arus.
Kerusakan turut terjadi pada sektor perumahan warga. Sebanyak delapan unit rumah hanyut, 18 unit rumah mengalami rusak berat, dan 24 unit rumah rusak sedang.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483872/original/083132600_1769405420-IMG-20260125-WA0119.jpg)


