Di era digital saat ini, kemarahan seolah menemukan rumah barunya di internet. Kolom komentar dipenuhi kata-kata keras, unggahan bernada sinis mudah viral, dan perdebatan panas terjadi hampir setiap hari di media sosial. Namun, ketika kita kembali ke dunia nyata, situasinya sering berbanding terbalik. Banyak orang memilih diam, menghindari konflik, atau sekadar mengangguk meski sebenarnya tidak setuju. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: mengapa kita begitu mudah marah di internet, tetapi justru bungkam ketika berhadapan langsung?
Salah satu jawabannya terletak pada jarak. Internet menciptakan ruang tanpa tatap muka, tanpa ekspresi wajah, dan tanpa konsekuensi sosial yang terasa langsung. Ketika seseorang menulis komentar pedas, ia tidak melihat raut wajah orang yang diserang, tidak mendengar nada suara yang terluka, dan tidak merasakan ketegangan emosional secara langsung. Jarak inilah yang membuat empati sering kali tertinggal. Amarah menjadi lebih mudah diekspresikan karena tidak harus berhadapan dengan dampaknya secara nyata.
Anonimitas juga memainkan peran besar. Di dunia maya, identitas bisa disamarkan atau bahkan disembunyikan sepenuhnya. Akun anonim memberi rasa aman semu, seolah setiap kata yang dilontarkan tidak akan kembali pada penuturnya. Kondisi ini mendorong orang untuk berkata lebih kasar, lebih berani, bahkan lebih agresif dibandingkan ketika berbicara langsung. Di dunia nyata, reputasi, relasi sosial, dan rasa sungkan masih menjadi rem yang menahan emosi.
Selain itu, media sosial dirancang untuk memicu reaksi. Algoritma cenderung menonjolkan konten yang memancing emosi kuat, termasuk kemarahan. Unggahan kontroversial lebih cepat menyebar, komentar pedas lebih banyak mendapat perhatian, dan perdebatan panas sering kali dianggap “ramai” serta “menarik”. Tanpa disadari, kita dilatih untuk bereaksi cepat, bukan berpikir tenang. Dalam kondisi seperti ini, marah menjadi respons instan yang terasa wajar.
Berbeda dengan dunia nyata yang menuntut keberanian emosional. Mengungkapkan ketidaksetujuan secara langsung berarti siap menghadapi reaksi lawan bicara, risiko salah paham, atau bahkan konflik terbuka. Banyak orang memilih diam demi menjaga harmoni, menghindari canggung, atau takut dianggap tidak sopan. Budaya sungkan dan keinginan untuk tetap diterima secara sosial membuat ekspresi emosi di dunia nyata lebih terkontrol, bahkan terpendam.
Namun, diam di dunia nyata dan meledak di dunia maya bukan tanpa konsekuensi. Amarah yang diluapkan di internet sering kali tidak menyelesaikan masalah, justru memperkeruh suasana. Salah paham mudah terjadi karena keterbatasan teks, dan konflik bisa melebar tanpa kendali. Di sisi lain, kebiasaan memendam emosi di dunia nyata dapat menumpuk tekanan batin, menimbulkan stres, dan menciptakan jarak dalam hubungan sosial.
Fenomena ini juga mencerminkan krisis komunikasi. Kita semakin terbiasa berbicara melalui layar, tetapi semakin canggung berdialog secara langsung. Padahal, komunikasi tatap muka memberi ruang untuk klarifikasi, empati, dan penyelesaian yang lebih manusiawi. Nada suara, bahasa tubuh, dan ekspresi wajah membantu kita memahami maksud orang lain secara utuh, sesuatu yang sering hilang di dunia digital.
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Pertama, menyadari bahwa di balik setiap akun ada manusia nyata dengan perasaan yang sama seperti kita. Kesadaran ini penting untuk menahan diri sebelum menulis komentar bernada marah. Kedua, belajar mengekspresikan ketidaksetujuan secara sehat, baik di dunia maya maupun nyata. Tidak semua perbedaan harus direspons dengan amarah; dialog yang tenang sering kali lebih efektif.
Ketiga, melatih keberanian untuk berbicara di dunia nyata dengan cara yang santun. Mengungkapkan pendapat tidak harus berarti menyerang. Dengan komunikasi yang jujur dan empatik, perbedaan bisa dibicarakan tanpa merusak hubungan. Keempat, mengelola emosi sebelum bereaksi, terutama di media sosial. Memberi jeda sejenak sebelum berkomentar dapat mencegah penyesalan di kemudian hari.
Pada akhirnya, internet hanyalah alat, bukan penyebab utama. Yang perlu dibenahi adalah cara kita mengelola emosi dan berkomunikasi. Jika kita mampu membawa empati dunia nyata ke ruang digital, dan keberanian dunia maya ke percakapan langsung yang sehat, maka kemarahan tidak lagi menjadi bahasa utama kita. Dunia digital akan tetap ramai, tetapi tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.



