Changan Lumin menambah pilihan mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) berukuran mungil di pasar Indonesia pada akhir tahun lalu. Setelah peluncuran harga yang cukup membuat heboh, tiba saatnya awak media mencobanya.
kumparan mendapat kesempatan menjajal micro BEV ini guna menjawab kemampuan yang ditawarkannya. Dijual dengan harga Rp 199 juta (Rp 183 juta khusus untuk periode terbatas), apakah cukup jadi bekal minat masyarakat?
Perjalanan yang saya lakoni seharusnya tidak membutuhkan waktu lama. Namun mengetahui rute jelajahnya berada di kawasan Jakarta, ceritanya menjadi agak berbeda.
Kabin dan ergonomi berkendara Changan LuminSebelum jalan, ada baiknya membahas impresi pertama soal posisi duduk sebagai pengemudi di Changan Lumin ini. Kesan awal cukup canggung, dengan tinggi badan saya 173 cm masih dapat ruang kepala dan kaki yang sangat memadai.
Lalu apa yang membuatnya tak biasa? Begini, secara umum Lumin tak jauh berbeda dengan Micro BEV lain yang tersedia di pasaran saat ini, utamanya adalah bagaimana pabrikan tidak banyak memberikan fleksibilitas posisi berkendara.
Tak ada pengaturan sudut kemudi, ketinggian jok, dan pedal akselerator yang terlalu dekat untuk kaki saya yang cukup panjang. Absurdnya lagi bahwa kaki kiri punya ruang yang sangat luas, sebuah rasa duduk di mobil yang kurang ideal.
Namun hal itu tidak bisa dibantah bahwa ruang kabin Changan Lumin boleh dibilang yang terasa paling lega di kelasnya. Kacanya luas membantu visibilitas di sekeliling kendaraan, ruang penumpang belakang juga cukup.
Lumin bisa menampung 4 orang dewasa, tentunya perlu negosiasi posisi kursi pengemudi dan penumpang di depannya. Sisanya? Hamparan dasbor juga dirancang dengan sederhana tetapi tidak terkesan murahan.
Rasa berkendaraSaya baru mendapat giliran mengemudi di tengah perjalanan setelah mencapai titik poin pertama. Lalu lintas macet langsung menyambut kami, apalagi di tengah guyuran hujan deras membuat durasi perjalanan kian lama.
Kemudahan operasi khas mobil listrik sudah barang tentu ada pada Lumin. Untuk mengaktifkannya cukup mengantongi kunci remot, kemudian tekan tombol start stop sambil injak pedal rem, putar kenob ke posisi D atau R jika hendak mundur.
Begitu pedal akselerator diinjak secara gradual, mobil tidak seketika menghentak atau menciptakan sensasi melompat. Motor listrik penggerak yang tersemat pada roda depan mampu menyalurkan tenaga secara halus.
Spesifikasi teknis bukan yang paling gahar untuk ukuran BEV, dinamonya itu hanya memproduksi tenaga puncak 35 kW atau setara 46 daya kuda. Gambarannya setara mesin bensin berkubikasi 800-1.000 cc.
Dua modus berkendara disediakan yakni Eco dan Sport, yang pertama sangat sesuai untuk lalu lintas cenderung santai hingga macet. Sementara Sport saya coba saat melintasi ruas jalan tol, kedua karakternya sangat mirip mobil konvensional.
Bahas aspek lain, bobot kemudi terbilang pas dan pedal rem juga sama apiknya. Kalau tidak berlebihan, mungkin untuk yang satu ini, Changan Lumin jadi yang paling bagus di antara rival sekelasnya.
Soal dimensi memang tidak bohong, Lumin panjangnya tak sampai 4 meter atau tepatnya 3.270 mm, lebar 1.700 mm, dan tinggi 1.545 mm. Serta jarak sumbu roda yang membentang 1.980 mm.
Efeknya? Selalu mengasyikan membawa model BEV seperti ini, pengalaman mengendarai yang juga ditemui pada Wuling Air ev atau Seres E1 saat berkelana di jalan sempit, putar balik, hingga membelah kemacetan terasa begitu mudah.
Agak mengejutkan karena Lumin dapat memberikan suasana kabin yang cukup senyap. Suara dari luar seperti kendaraan lalu lalang atau tetesan air hujan tidak begitu terdengar, bahkan lebih sering tidak mengganggu kami yang ada di dalamnya.
KesimpulanSetelah menempuh jarak lebih kurang 60 kilometer dengan kurun waktu nyaris 10 jam, terima kasih kepada lalu lintas Jakarta yang sangat macet setelah hujan, akhirnya sampai pada kesimpulan soal impresi perdana dari Changan Lumin ini.
Lumin bisa dibilang ideal untuk dipakai mobilitas dengan jarak radius 60 kilometer sehari, baik itu perkotaan atau bahkan di daerah. Posisi mengemudi yang canggung itu masih bisa termaafkan bila kita berkendara berdurasi di bawah 3 jam.
Soal fitur sebenarnya lebih dari cukup, Anda mendapat sarana hiburan berupa sistem multimedia layar sentuh berukuran 10,25-inci. Lengkap dengan konektivitas Apple CarPlay dan CarAuto, alternatif serupa Android Auto.
Suhu ruangan patut diacungi jempol karena dapat menghempaskan embusan angin sejuk hingga dingin merata ke penjuru kabin, termasuk penumpang belakang. Apalagi, cara pengaturan fitur ini yang masih mengandalkan tombol fisik.
Untuk konsumsi daya, yang satu ini saya hanya sekadar memberi gambaran karena gaya berkendara setiap orang berbeda-beda, belum lagi pada sesi ini kami bergantian menyetir. Baterai 89 persen turun menjadi 71 persen.
Pada layar multi information display atau MID menampilkan konsumsi daya rata-rata sebesar 10,9 kWh per 100 kilometer, artinya setiap 9,1 kilometer menghabiskan daya 1 kWh. Kapasitas baterai 28,1 kWh diklaim untuk 301 kilometer (CLTC).
Namun Changan Lumin bukan tanpa cela, menurut saya masih ada cukup ruang peningkatan agar membuatnya kian ideal. Sangat disayangkan absennya fitur electric parking brake (EPB) dan auto hold, kemudian tidak adanya hill start assist (HSA).
ProsDesain main aman yang menonjolkan kesan imut dan lucu
Proposi terlihat mobil normal pada sudut tertentu
Kenyamanan kabin, fitur, dan rasa berkendara.
Pengaturan spion manual, posisi kaca harus ditekan menggunakan jari
Pengoperasian tuas pintu luar model terlipat yang agak merepotkan, utamanya soal safety concern
Penempatan tuas lampu dan wiper seharusnya bisa mengikuti kaidah kendaraan setir kanan.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2026%2F01%2F26%2Fa9b6b644-0400-4bf1-b9af-6cf2478bb943.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5112587/original/078794900_1738160493-9e0f1ff6-f03a-4602-a108-e6e1a594be5e.jpeg)

