Ketika Jogja Tak Lagi Selalu Murah bagi Mahasiswa Rantau

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Perubahan biaya hidup di Yogyakarta perlahan membentuk ulang keseharian mahasiswa rantau. Dalam dua tahun terakhir, terutama setelah pandemi COVID-19 berakhir, sejumlah pengeluaran mengalami penyesuaian. Mulai dari biaya kos hingga makan sehari-hari, semuanya kini menuntut perhitungan yang lebih matang. Kota yang lama dikenal sebagai Kota Pelajar itu perlahan menghadirkan realitas baru bagi mahasiswa yang datang dari luar daerah.

Bagi sebagian mahasiswa rantau, perubahan tersebut tidak serta-merta terbaca lewat lonjakan angka besar, melainkan melalui kebiasaan harian yang perlahan berubah dari memilih tempat makan, membatasi nongkrong, hingga menyesuaikan pengeluaran bulanan. Dari pengalaman itulah muncul kesadaran bahwa Jogja hari ini tidak lagi sepenuhnya sama dengan Jogja dalam cerita lama.

Pengalaman tersebut dirasakan Meidini Ismiati (19), mahasiswa semester tiga yang kini menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Meski tidak sepenuhnya asing dengan daerah ini masa kecilnya dihabiskan di Gunungkidul hingga usia delapan tahun pengalaman hidup sebagai mahasiswa membuatnya melihat Yogyakarta dari sudut pandang yang berbeda. Sebelumnya, Meidini juga sempat merantau selama tujuh tahun di Kalimantan Barat.

“Saya baru tinggal di wilayah Kota Yogyakarta sejak mulai kuliah, sekitar satu tahun empat bulan terakhir,” ujarnya. Kenaikan biaya hidup paling terasa ketika statusnya berubah menjadi mahasiswa. “Saat masih sekolah, kebutuhan bulanan saya tidak sebesar sekarang. Setelah kuliah di Yogyakarta, pengeluaran bulanan menjadi jauh lebih besar,” katanya.

Dari berbagai kebutuhan, kos menjadi pengeluaran yang paling memberatkan. “Harga kos di Yogyakarta saat ini cukup tinggi. Dengan biaya sekitar Rp800.000 hingga Rp900.000, biasanya hanya mendapatkan kamar standar tanpa AC. Jika ingin kamar ber-AC, biayanya bisa mencapai Rp1.500.000,” ucapnya. Ia membandingkan dengan temannya di Malang yang bisa mendapatkan kamar ber-AC hanya dengan satu juta rupiah.

Namun beban pengeluaran tidak berhenti di sana. Rapat organisasi dan kerja kelompok yang sering dilakukan di kafe ikut menambah biaya. “Kegiatan tersebut sebenarnya bukan untuk nongkrong, melainkan rapat atau kerja kelompok. Karena dilakukan di kafe, tetap harus mengeluarkan biaya untuk membeli makanan atau minuman.”

Untuk bertahan, Meidini mulai membagi uang bulanannya dengan lebih disiplin. “Sekarang saya mulai memantau pengeluaran harian. Jika pada hari tertentu sudah mengeluarkan cukup banyak uang, saya berusaha menahan diri untuk tidak jajan lagi.”

Kenangan masa kecilnya di Jogja membuat perubahan ini terasa semakin kontras. “Dulu, dengan harga sekitar Rp12.000, saya sudah bisa mendapatkan seporsi nasi ayam yang mengenyangkan. Sekarang, sekali makan bisa menghabiskan sekitar Rp20.000, dengan porsi yang menurut saya lebih sedikit,” ujarnya sambil tertawa pasrah.

Cerita Meidini, bukan lagi satu-satunya. Bagi Mahasiswa Rantau lain, perubahan biaya hidup jogja terasa dari sisi yang berbeda bukan dari kos, makanan melainkan dari gaya hidup dan bersosialisasi.

Pengalaman serupa juga dirasakan Nindita Aulia Choirunissa (21), mahasiswa semester lima Universitas Muhammadiyah Yogyakarta asal Banyumas. Ia mengakui bahwa biaya hidup di Yogyakarta mengalami kenaikan, meskipun tidak semua aspek terasa mencolok. “Biaya hidup memang naik, tetapi yang paling terasa justru dari kafe dan minuman kekinian,” katanya.

Untuk urusan makan, ia tidak selalu memperhatikan detail harga. Namun beberapa menu favorit mahasiswa membuatnya sadar bahwa waktu telah berubah. Salah satunya sate taichan. “Dulu sate taichan masih bisa didapatkan dengan harga sekitar Rp20.000, sekarang bisa mencapai Rp30.000,” katanya.

Meski begitu, kos bukanlah pengeluaran yang paling memberatkan baginya. Saat awal kuliah, ia tinggal di asrama dengan biaya terjangkau. Pengeluaran mulai terasa membengkak ketika ia semakin sering nongkrong bersama teman-temannya.

Untuk menekan biaya, ia mulai memasak sendiri di kos. “Setidaknya saya memasak nasi sendiri dan membeli lauk secukupnya. Jika diajak nongkrong, saya juga mulai berani menolak,” tuturnya.

Sementara itu, Al Putri Pinata (22) mahasiswa rantau asal Sulawesi Selatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang kini berada di semester tujuh, memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Pada awal masa perkuliahan, ia menilai biaya hidup di Yogyakarta masih relatif terjangkau. Namun, setelah beberapa semester dijalani, persepsi tersebut perlahan berubah, terutama pada kebutuhan transportasi.

“Pada awal kuliah, biaya hidup di Yogyakarta terasa lebih murah. Namun, setelah beberapa semester, pengeluaran terasa semakin sama dengan daerah asal saya, terutama untuk transportasi,” ujarnya.

Salah satu pengalaman di warung makan menjadi penanda perubahan tersebut. “Saat makan di warung dan memilih beberapa lauk saja, saya harus mengeluarkan sekitar Rp25.000,” ujarnya.

Untuk bertahan, ia menerapkan pola hidup yang lebih selektif. “Saya mencoba memprioritaskan kebutuhan dibandingkan keinginan, mengurangi nongkrong, dan lebih sering memasak sendiri di kos,” katanya.

Di balik cerita Mahasiswa Rantau, ada pemilik kos di kawasan Kabupaten Bantul, Yogyakarta yang juga menghadapi dilema serupa. Restuti Andrianingsih (60), mulai mengelola kos sejak 2012 setelah membeli rumah yang awalnya hanya bangunan biasa.

“Waktu itu rumah biasa, terus saya renov tiga tahun baru jadi kos-kosan,” katanya. Awalnya kos tersebut digunakan untuk putra dan putri secara bergantian, sebelum akhirnya diubah menjadi kos putri karena dianggap lebih tertata.

Renovasi besar dilakukan pada 2016–2018. Setelah kos berjalan stabil, pandemi COVID-19 datang. Banyak kamar kosong, meski beberapa penyewa tetap membayar karena barang-barang mereka tertinggal.

Soal harga, ia mengaku sangat berhati-hati. Tarif kos yang awalnya Rp500.000 baru dinaikkan menjadi Rp600.000 pada 2023. “Saya merasa tidak tega jika harus menaikkan harga kos terlalu tinggi,” tuturnya. Padahal biaya operasional terus berjalan dan perlahan ikut naik. Setiap bulan, ia harus membayar wifi sebesar Rp300.000, digunakan atau tidak tetap harus dibayar. Listrik dan air untuk lampu serta kebutuhan bersama menghabiskan sekitar Rp200.000 dalam dua bulan. Meski demikian, ia tetap berusaha menahan tarif.

“Yogyakarta memang masih bisa dikatakan terjangkau, tetapi dibandingkan sebelum pandemi, kondisinya sudah berbeda,” ujarnya.

Cerita mahasiswa rantau dan pemilik kos menunjukkan bahwa perubahan biaya hidup di Yogyakarta tidak berdiri di satu sisi. Mahasiswa belajar mengatur pengeluaran, sementara pemilik kos menahan harga di tengah kenaikan kebutuhan. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh kondisi mahasiswa di Yogyakarta, melainkan menggambarkan pengalaman beberapa mahasiswa rantau dalam menyikapi perubahan biaya hidup sehari-hari.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jadi Calon Deputi Gubernur BI, Dicky Usung Ekonomi Digital Demi Pecut Pertumbuhan
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ada Bencana, Operasi Kurangi Hujan Tinggi Digelar di Langit Jawa Barat
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Profil Dicky Kartikoyono, Kandidat Deputi Gubernur BI Nomor Urut Dua
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi Ungkap Fakta Baru: Lula Lahfah Habis Operasi Batu Ginjal
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Klasemen Liga Italia: Inter kokoh di puncak, Milan di peringkat kedua
• 11 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.