Komisi XI DPR RI secara resmi menyepakati Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri. Keputusan tersebut diambil melalui rapat internal Komisi XI dan akan dibawa ke rapat paripurna DPR RI untuk disahkan esok hari.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil melalui mekanisme musyawarah mufakat dan telah disepakati oleh seluruh fraksi di Komisi XI. Ia menegaskan, kesepakatan ini menjadi keputusan resmi Komisi XI yang selanjutnya akan dimintakan persetujuan dalam rapat paripurna DPR RI.
“Telah dilakukan kesepakatan melalui musyawarah mufakat dan diputuskan bahwa rapat internal Komisi XI diputuskan yang menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia pengganti Juda Agung yang mengundurkan diri adalah Bapak Thomas Am Djiwandono. Hari ini kita sepakati diputuskan bersama menjadi keputusan Komisi XI di rapat di komisi XI dan akan dibawa ke Paripurna DPR RI untuk disahkan dalam rapat paripurna besok,” kata Misbakhun kepada wartawan di Kompleks Parlemen RI, Senin (26/1).
Menurut Misbakhun, Komisi XI menilai Thomas Djiwandono sebagai figur yang dapat diterima oleh seluruh partai politik. Selain itu, Thomas dinilai memiliki pemahaman yang kuat mengenai pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pertimbangannya adalah bahwa bapak Thomas adalah figur yang dapat diterima oleh seluruh partai politik dan figur bapak Thomas menjelaskan dengan sangat bagus soal bagaimana perlunya membangun sinergi antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal sehingga memberikan penguatan terhadap pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.
Sebelum penunjukan tersebut, Thomas telah menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). Dalam paparannya, Wakil Menteri Keuangan itu menekankan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam keadaan relatif solid.
Thomas menyebut inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, serta ketahanan sektor keuangan menjadi penopang utama perekonomian nasional. Ia menilai tren penurunan inflasi memberikan ruang yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi ke depan.
“Inflasi mengalami tren penurunan adalah sesuatu yang menurut saya memberikan ruang untuk ekonomi Indonesia ke depannya,” ujar Thomas.
Ia juga memaparkan kinerja ekonomi Indonesia yang dinilainya cukup risilien di tengah ketidakpastian global. Pada kuartal ketiga, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,04 persen dengan inflasi yang berada pada level rendah dan terkendali.
“Inflasi kita sangat terkendali di 2,9 persen. Sebenarnya kalau dikeluarkan emas itu di angka sekitar 1,5 persen,” katanya.
Selain dari sisi harga, Thomas menilai stabilitas ekonomi juga tercermin dari sektor riil dan eksternal. Aktivitas manufaktur masih berada di zona ekspansif, sektor keuangan dinilai cukup tahan terhadap guncangan, serta neraca perdagangan Indonesia yang terus mencatatkan surplus dalam jangka panjang.
“Surplus neraca perdagangan kita tetap baik. Sudah selama 67 bulan terakhir tetap konsisten surplus,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Thomas juga memperkenalkan strategi tematik bertajuk “Gerak” sebagai kerangka kebijakan adaptif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Strategi tersebut mencakup lima pilar utama, mulai dari penguatan tata kelola hingga akselerasi sinergi fiskal-moneter dan sektor keuangan.
“Ada 5 semacam strategi tematik. Tematik yang saya ingin cetuskan pada hari ini. Yang pertama adalah governance,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh strategi yang diusung tetap berada dalam koridor independensi Bank Indonesia sebagai bank sentral, meskipun sinergi dengan pemerintah dan otoritas lainnya terus diperkuat.
“Artinya sinergi dengan stakeholder lain, sinergi dengan fiskal, sinergi dengan OJK dan lembaga keuangan lainnya itu tidak mengurangi independensi bank Indonesia,” tegas Thomas.
Lebih lanjut, Thomas menekankan pentingnya sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inklusif, dan berkelanjutan, terutama dalam rangka menuju visi Indonesia Emas 2045.
“Saat ini hal yang saya ingin cetuskan adalah sinergi fiskal moneter khususnya di level likuiditas dan suku bunga,” ujarnya.
Profil Thomas DjiwandonoThomas Djiwandono lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972. Ia merupakan putra sulung dari Soedradjad Djiwandono dan Biantiningsih Miderawati. Dengan latar belakang keluarga tersebut, Tommy juga dikenal sebagai kakak dari Budisatrio Djiwandono yang saat ini menjabat anggota Komisi IV DPR RI.
Dari garis keluarga, Tommy memiliki hubungan darah dengan Presiden Prabowo Subianto melalui sang ibu, yang merupakan kakak kandung Prabowo sekaligus putri dari R.M. Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank BNI 45. Sementara itu, ayahnya dikenal sebagai mantan Gubernur Bank Indonesia dan kini berkiprah sebagai pengajar di Nanyang Technological University, Singapura.
Dalam kehidupan pribadi, Tommy telah berkeluarga dan dikaruniai tiga orang anak. Riwayat pendidikannya cukup panjang dan beragam. Ia meraih gelar sarjana studi sejarah dari Haverford College, Pennsylvania, kemudian melanjutkan pendidikan magister di bidang International Relations and International Economics di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies, Washington.
Karier profesional Tommy dimulai dari dunia jurnalistik. Ia pernah menjadi wartawan magang di Majalah Tempo pada 1993, kemudian berlanjut sebagai wartawan Indonesia Business Weekly pada 1994. Setelah itu, ia beralih ke sektor keuangan dan sempat bekerja sebagai analis di Whitlock NatWest Securities, Hong Kong.
Pada 2006, Tommy memasuki dunia korporasi dengan menjabat sebagai Deputy CEO Arsari Group yang bergerak di sektor agribisnis. Di bidang politik, ia juga sempat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di Provinsi Kalimantan Barat.
Selama kiprahnya di dunia politik, Tommy tercatat aktif mendampingi Prabowo Subianto, termasuk saat kontestasi Pemilihan Presiden 2014 melawan Joko Widodo. Pada periode tersebut, ia berperan dalam mengoordinasikan kebutuhan logistik Koalisi Merah Putih (KMP). Ia juga pernah menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Gerindra.
Thomas Djiwandono resmi diangkat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada 18 Juli 2024 dalam Kabinet Indonesia Maju di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Perannya kemudian berlanjut dalam Kabinet Merah Putih sejak Oktober 2025 dengan jabatan yang sama.



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F26%2F76d37697e60db8f23be612209083e8d4-WhatsApp_Image_2026_01_26_at_16.40.42.jpeg)

