Imbas respons positif pasar terhadap komitmen Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas rupiah, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin (26/1/2026), bergerak menguat 38 poin atau 0,23 persen menjadi Rp16.782 per dolar AS. Sebelumnya nilai rupiah sebesar Rp16.820 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi analis pasar uang menyakini ke depan kurs rupiah bakal stabil.
“Pasar mendukung komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah yang memberikan sentimen positif, dengan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot,” katanya dilansir dari Antara.
Ibrahim melihat kecenderungan menguat berkat dukungan imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi.
International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh menjadi 5,1 persen pada 2026. Angka ini meningkat dari pertumbuhan di 2025 sebesar 5,0 persen.
Selain itu penguatan juga didukung cadangan devisa yang lebih dari cukup untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar. Kalau dari sisi global, Ibrahim melihat sentimennya terpengaruhi ketegangan AS dan NATO.
“Retorika Trump tentang kepentingan strategis AS di wilayah Arktik telah memperketat hubungan transatlantik, memicu kekhawatiran tentang dampak diplomatik dan ekonomi yang lebih luas,” ujarnya. (ant/lea/saf/ipg)



