Lima puluh tahun bukan sekadar waktu, melainkan perjalanan panjang tentang kesetiaan, pengabdian, dan kerendahan hati yang terus diuji oleh zaman. Semangat ini dihayati dalam Pesta Emas Ulang Tahun Imamat ke-50 Kardinal Ignatius Suharyo, sebuah ungkapan syukur atas anugerah imamat bagi Gereja dan Bangsa.
Perayaan syukur ini diwujudkan melalui Misa Syukur yang diselenggarakan pada hari Senin, 26 Januari 2026, pukul 16.30 WIB di Gereja Katedral Jakarta. Misa dipersembahkan oleh Kardinal Ignatius Suharyo dengan konselebrasi bersama Para Uskup Regio Jawa serta Kuria Keuskupan Agung Jakarta.
Alih-alih menceritakan seluruh kisah hidupnya, Kardinal Suharyo memilih untuk berbagi pengalaman rohani yang berakar pada Alkitab karena ayat-ayat inilah yang membentuk penghayatan imamatnya. Ayat itu tertuang pada ayat Roma 1:16 yang menjadi fondasi awal panggilan dan digunakannya sebagai semboyan imamat saat tahbisan tahun 1976.
"Ayat-ayat itulah yang membentuk penghayatan imamat saya dan meyakinkan saya bahwa perjalanan imamat adalah perjalanan formasi yang terus-menerus tidak pernah berhenti," kata Kardinal Suharyo.
Ia mengakui bahwa pada awalnya makna semboyan itu masih samar. Namun, seiring perjalanan waktu, terutama ketika mendalami Kitab Suci, maknanya semakin menajam dan hidup.
Refleksi imamatnya kemudian diperdalam melalui Surat kepada Orang Ibrani, yang ia sebut sebagai satu-satunya tulisan Perjanjian Baru yang secara eksplisit menampilkan Yesus sebagai Imam Agung. Dari sana, ia merumuskan dua pilar utama imamat Kristiani: Yesus adalah imam agung yang menaruh belas kasih dan setia kepada Allah.
Kalimat ini bahkan selalu ia sertakan dalam surat-surat kepada para diakon yang akan ditahbiskan. "Dengan harapan, para imam yang akan ditahbiskan itu seperti Yesus yang sungguh menaruh belas kasih dan setia kepada Allah," ucapnya.
Sejak awal penunjukan saya sebagai uskup, saya khawatir dan selalu bertanya.
Pencarian makna “belas kasih” membawanya pada pendalaman konsep compassion. Setelah mendalami itu, ia menyadari bahwa berbagai terjemahan seperti “murah hati” belum sepenuhnya menangkap makna terdalamnya.
Pada akhirnya ia sampai pada keyakinan bahwa terjemahan dari kata compassion yang paling mendekati makna dasarnya adalah bela rasa. Konsep bela rasa ini kemudian menjadi inspirasi pastoral yang nyata, terutama ketika ia melayani di Keuskupan Agung Jakarta.
Dari sana lahir berbagai fokus pastoral tahunan, termasuk semboyan tahun 2014: “Semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbela rasa.”
Refleksi ini ditutup Kardinal Suharyo dengan ajakan rohani yang inklusif dan penuh harapan. Dengan keyakinan akan rahmat Tuhan, umat diajak untuk terus berjalan bersama, menanggapi panggilan masing-masing, dan bertumbuh menuju kepenuhan hidup Kristiani.
"Marilah kita saling mendoakan agar di dalam panggilan kita yang berbeda-beda kita terus siap sedia untuk menjadi rekan seperjalanan, kawan sekerja, sesama saudara, ataupun pembantu-pembantu di dalam pewartaan Kerajaan Tuhan," tutur Kardinal Suharyo.
Kardinal Ignatius Suharyo lahir di Sedayu, Yogyakarta, pada tahun 1950. Ia berasal dari keluarga besar dengan sepuluh bersaudara, dua putera menjadi imam dan dua orang puteri menjadi suster.
Ia telah memasuki pendidikan seminari sejak SMP di Mertoyudan, Magelang, kemudian melanjutkan ke Seminari Tinggi Santo Paulus di Kentungan, Yogyakarta. Pada tahun 1981, ia memperoleh gelar Doktor Teologi Biblikal dari Universitas Urbaniana di Roma, Italia. Pada 26 Januari 1976, beliau ditahbiskan sebagai imam.
Sepanjang perjalanan hidupnya, Kardinal juga berkarya dalam dunia akademis. Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Teologi, Guru Besar Ilmu Teologi, hingga Direktur Program Pascasarjana di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Pada tanggal 21 April 1997, ia diangkat sebagai Uskup Agung Semarang, menggantikan Kardinal Julius Darmaatmadja yang dipindahkan ke Keuskupan Agung Jakarta.
Tahbisan Uskup dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 1997 dengan motto tahbisan Serviens Domino Cum Omni Humilitate “Aku melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati”, seperti tertulis dalam Kisah Para Rasul 20:19.
Ia diangkat sebagai Uskup Keuskupan Agung Jakarta pada tahun 2010, serta menjabat sebagai Uskup Ordinariat Militer Indonesia sejak tahun 2006. Selain itu, ia dipercaya sebagai Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) selama dua periode, yakni dari tahun 2012 hingga 2022. Pada 5 Oktober 2019, ia secara resmi diangkat menjadi Kardinal oleh Bapa Suci Paus Fransiskus.
"Sejak awal penunjukan saya sebagai uskup, saya khawatir dan selalu bertanya di dalam hati mampukah saya menjalankan tugas-tugas pelayanan sebagai uskup," ungkap Kardinal Suharyo.
Meski sudah berusia 75 tahun dan mengajukan surat pengunduran diri ke Vatikan, Kardinal Suharyo tetap ditugaskan untuk melayani umat Katolik di Indonesia, khususnya di Keuskupan Agung Jakarta hingga tahun 2027.
Pesta Emas Imamat ini tidak hanya diwujudkan dalam doa dan liturgi, tetapi juga melalui pemajuan kebudayaan Indonesia. Pada malam hari, pukul 19.00 WIB, halaman Gereja Katedral Jakarta berubah menjadi panggung seni melalui Pagelaran Ketoprak Rohani bertajuk “Raja Airlangga Mandita.”
Ketoprak Rohani ini disutradarai oleh Aries Mukadi bersama Sanggar Ketoprak DNA (Dharma Nusantara Adhiluhung). Para pemainnya berasal dari berbagai kalangan, antara lain para romo dan suster Keuskupan Agung Jakarta, Putri Indonesia 2025 Firsta Yufi Amarta Putri, dan para artis seperti Glen Alinskie.
Selain itu para pemainnya berasal dari kalangan bankir yakni Lisawati, Fransisca Nelwan, Aviliani, dan Rita Mirassari, jajaran Jenderal TNI/Polri yakni Komjen Pol Chrysnanda, Irjen Pol Daniel Tifaona, Mayjen TNI Agustinus Purboyo, dan Letjen dr. A. Budi Sulistiyo.
Ada pula pemikir kebangsaan Sukidi Mulyadi, pegiat media Rosiana Silalahi dan Andreas Maryoto, pejabat publik Yustinus Prastowo, Andi Gani Nena Wea, dan Simon A. Mantiri, serta olahragawan Haryanto Arbi, dan tokoh-tokoh lainnya.
Mereka akan berkisah tentang para raja penguasa Worawari, Wengker, dan Matahun, bersama perwakilan Kerajaan Sriwijaya, berkumpul untuk membagi wilayah Kerajaan Medang yang sebelumnya direbut dari Raja Dharmawangsa.
Raja Worawari kemudian membagi wilayah tersebut: bagian utara diserahkan kepada Kerajaan Wengker, bagian selatan kepada Kerajaan Matahun, bagian barat kepada Kerajaan Sriwijaya, sedangkan bagian timur tetap berada di bawah kekuasaan Raja Worawari sendiri.
Kemudian datang Raja Airlangga, menantu Raja Dharmawangsa, yang menggantikan Raja Dharmawangsa sebagai penguasa Medang. Ia membangun kekuatan di Watan Mas dengan tujuan merebut kembali kekuasaan Kerajaan Medang. Peperangan pun terjadi. Raja Wurawari beserta pengikutnya berhasil dikalahkan dan dihancurkan.
Pada tahun 1037 M, Raja Airlangga memindahkan pusat pemerintahannya ke Kahuripan. Ia kemudian dinobatkan dengan gelar Sri Maharaja Rakai Halu Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa.
Setelah mengalami masa kejayaan di Kahuripan, Raja Airlangga berniat lengser dari tahta dan menyerahkan kekuasaan kepada putrinya, Sanggramawijaya Tunggadewi. Namun, sang putri menolak karena memilih menjalani hidup sebagai seorang pertapa. Oleh sebab itu, Airlangga menempatkannya di Pertapaan Pucangan.
Karena Raja Airlangga masih memiliki dua orang putra, Kerajaan Kahuripan kemudian dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Jenggala dan Panjalu. Putra sulungnya, Dyah Garasakan Wijayengrana, memerintah wilayah Jenggala dengan gelar Sri Pratita Dikdaya Dyah Garasakan Wijayengrana.
Sementara itu, putra keduanya, Dyah Samara Wijayanegara, memerintah wilayah Panjalu dengan gelar Sri Mapanji Sawara Dyah Samara Wijayanegara. Setelah menyerahkan kekuasaan, Raja Airlangga memilih menjalani kehidupan sebagai seorang brahmana di Gunung Penanggungan, Jawa Timur, dengan nama Hyang Resi Gatayu Jatiningrat.




