Bisnis.com, JAKARTA — Lonjakan harga emas global ke level tertinggi sepanjang masa diproyeksikan memberikan dampak positif bagi kinerja emiten pertambangan emas. Pasar pun mulai mengantisipasi potensi kenaikan margin keuntungan dan penguatan arus kas emiten pada periode 2026.
Melansir Bloomberg, harga emas di pasar spot kini berada di level US$5.092,66 per troy ounce pada Senin (26/1/206) hingga pukul 17.54 WIB. Harga ini mencerminkan kenaikan 2,11% dibandingkan banderol sebelumnya.
Sementara itu, harga emas berjangka Comex Amerika Serikat (AS) kontrak April juga meningkat sebesar 2,26% ke level US$5.130,50 per troy ounce.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menjelaskan bahwa kenaikan harga emas menjadi sentimen positif bagi emiten yang telah beroperasi penuh dan memiliki struktur biaya produksi yang efisien.
Sejumlah nama seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) diprediksi menjadi penerima manfaat utama dari tren kenaikan tersebut.
“Secara fundamental, tren ini berpotensi mendorong kenaikan harga jual rata-rata [average selling price/ASP] secara signifikan,” ujar Miftahul kepada Bisnis.
Baca Juga
- Lonjakan Harga Emas ke US$5.000 Diramal Poles Kinerja Emiten Logam
- Pendar Saham EMAS, ANTM, hingga HRTA Makin Silau Tersengat Rekor Baru Harga Emas
- Harga Emas Tembus Level US$5.000, Pasar Dihantui Kebijakan Trump
Dia menambahkan dalam beberapa kasus, hal tersebut juga dapat memperbaiki volume transaksi jika permintaan emas fisik dan kontrak offtake tetap kuat.
Di samping itu, dengan asumsi harga emas tetap bertahan di level tinggi, perolehan laba bersih emiten emas pada tahun ini disebut memiliki peluang untuk melampaui proyeksi awal 2026. Kenaikan ASP juga akan memberikan kontribusi pada lini atas dan bawah laporan keuangan emiten.
Meski demikian, pelaku pasar diminta tetap mewaspadai risiko volatilitas harga emas global yang tinggi. Dinamika eskalasi geopolitik serta ketidakpastian kebijakan perdagangan AS disebut dapat menjadi pemicu koreksi tajam.
“Strategi yang bijak adalah fokus pada emiten dengan cadangan besar, biaya produksi rendah, neraca sehat, serta visibilitas produksi yang jelas,” ucapnya.
Dihubungi terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menyatakan bahwa lonjakan harga emas dunia menjadi katalis positif bagi kinerja jangka pendek emiten pertambangan.
Nafan menambahkan bahwa dampak positif tersebut diperkirakan akan semakin nyata sepanjang tahun ini, khususnya jika harga emas mampu bertahan secara konsisten di atas level psikologis US$5.000 per troy ounce.
“Kenaikan harga emas dunia berpotensi meningkatkan kinerja sektor pertambangan. Dampaknya akan mulai terlihat pada laporan kinerja full year, terutama pada kuartal empat, ketika tekanan kontraksi mulai mereda dan mulai muncul hasil yang lebih positif bagi kinerja emiten,” ujar Nafan.
Di tengah tren kenaikan harga emas, Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga tertinggi mencapai Rp5.000 per saham. Rekomendasi serupa juga disematkan kepada BRMS dan MDKA dengan target harga masing-masing mencapai Rp1.410 dan Rp3.640 per saham.
Sementara itu, Mirae turut memberikan rekomendasi beli kepada PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) dengan target harga tembus Rp2.200 per saham.
________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





