Sejak kecil, kita sering mendengar kalimat laki-laki harus kuat. Kalimat ini seperti mantra yang terus diulang, diwariskan dari generasi ke generasi. Orang tua mengatakannya pada anak lelakinya, guru pada muridnya, seolah kekuatan adalah satu-satunya identitas yang pantas disandang seorang pria. Seolah tanpa kekuatan itu, ia kehilangan nilainya.
Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, sampai kapan mereka harus kuat? Kapan seorang pria boleh merasa lelah, merasa cukup? Sejak kecil, banyak anak lelaki dibesarkan dengan pola asuh yang menekan ekspresi emosi. Coba bayangkan, seorang anak lelaki terjatuh, bukannya dipeluk dan ditenangkan, ia malah disuruh segera bangkit. Sejak saat itu, ia belajar bahwa perasaan adalah sesuatu yang harus disembunyikan, ditahan rapat-rapat. Menangis dianggap memalukan, takut dianggap tidak jantan, sedih dianggap cengeng.
Pola ini terus terbawa hingga mereka dewasa. Pria tumbuh menjadi ahli dalam menahan diri, memendam emosi dalam-dalam, alih-alih belajar bagaimana cara mengolahnya dengan sehat. Mereka diajarkan untuk bertahan, bukan untuk berbagi. Akibatnya, ketika dewasa dan menghadapi berbagai tekanan hidup, pekerjaan, masalah ekonomi, hubungan yang rumit, atau urusan keluarga, banyak pria merasa kesulitan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Mereka seolah kehilangan kata-kata, tidak tahu bagaimana cara menyampaikan emosi yang berkecamuk di dalam diri.
Dalam masyarakat kita, pria seringkali diposisikan sebagai tulang punggung keluarga. Mereka diharapkan untuk selalu stabil secara finansial, tegas dalam mengambil keputusan, dan siap menghadapi segala krisis tanpa goyah. Ketika mereka berhasil, itu dianggap sebagai hal yang wajar, sudah seharusnya begitu. Namun, ketika mereka gagal, mereka seringkali merasa sendirian, terisolasi dari dunia luar.
Coba kita bayangkan seorang ayah yang baru saja kehilangan pekerjaannya. Ia merasa malu untuk mengakui kegagalannya pada keluarganya, merasa tidak becus sebagai seorang kepala rumah tangga. Ia memendam rasa frustrasi dan ketakutan yang mendalam, takut mengecewakan orang-orang yang dicintainya.
Di balik wajah yang tampak tegar dan tanpa cela, tidak sedikit pria yang berjuang dengan rasa gagal yang menghantui, rasa malu yang mendalam, dan ketakutan yang mencekam akan kehilangan harga diri. Mereka jarang mengeluh, bukan karena hidup mereka baik-baik saja, tetapi karena mereka takut dianggap lemah dan tidak berguna jika mengakui kerapuhan mereka.
Ironisnya, sikap diam ini seringkali disalahartikan. Pria sering dianggap tidak peka, tidak komunikatif, atau bahkan tidak peduli. Padahal, bagi banyak pria, diam adalah satu-satunya cara yang mereka tahu untuk bertahan. Bukan karena mereka tidak ingin berbicara, tetapi karena sejak awal mereka tidak pernah diajarkan bagaimana caranya.
Budaya maskulinitas yang sempit telah menjebak pria dalam standar yang begitu melelahkan. Maskulin harus tegar, maskulin harus dominan. Maskulin harus selalu bisa melakukan segalanya. Padahal, standar yang tidak realistis ini tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga melukai pria itu sendiri.
Di tengah meningkatnya kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental, pria justru masih menjadi kelompok yang rentan, namun suaranya jarang terdengar. Banyak pria mengalami stres berat, kecemasan yang berlebihan, bahkan depresi yang melumpuhkan, namun mereka enggan mencari bantuan profesional. Mengakui bahwa mereka membutuhkan pertolongan masih dianggap sebagai sebuah kegagalan pribadi.
Lebih menyedihkan lagi, ruang aman bagi pria untuk berbagi perasaan dan pengalaman mereka masih sangat terbatas. Ketika mereka mencoba untuk membuka diri, curahan hati mereka seringkali dianggap sebagai drama yang berlebihan, atau bahkan dianggap sebagai tanda kelemahan. Lalu, di mana lagi mereka bisa mencari pertolongan? Akhirnya, banyak pria memilih untuk menutup diri sepenuhnya, memendam luka mereka sendirian, hingga suatu saat luka itu meledak dalam bentuk kemarahan yang tak terkendali, penarikan diri dari lingkungan sosial, atau bahkan kelelahan mental yang parah.
Kita perlu menyadari bahwa cara pria mengekspresikan emosi seringkali berbeda dengan cara perempuan. Mereka tidak selalu menangis atau berbicara panjang lebar. Terkadang, mereka hanya membutuhkan kehadiran seseorang yang bisa menemani mereka dalam diam, tanpa menghakimi. Terkadang, mereka hanya ingin didengarkan dengan penuh perhatian, tanpa diberi solusi instan. Terkadang, mereka hanya ingin diyakinkan bahwa perasaan mereka valid dan pantas untuk dirasakan.
Memahami pria bukan berarti membenarkan semua sikap mereka, atau mengabaikan kesalahan yang perlu dikritik. Namun, memahami berarti membuka ruang dialog yang manusiawi, ruang di mana pria boleh merasa lemah tanpa kehilangan harga dirinya.
Sudah saatnya kita merevisi makna dari kata kuat. Kuat bukan berarti tidak pernah runtuh, tidak pernah merasa sakit. Kuat adalah berani mengakui keterbatasan diri. Kuat adalah berani berkata, Aku sedang tidak baik-baik saja. Kuat adalah mau belajar untuk memahami diri sendiri, bukan terus-menerus menyangkal perasaan yang ada.
Pria juga ingin dipeluk dan ditenangkan, bukan hanya diminta untuk berdiri tegak dan tegar. Mereka juga ingin dimengerti dan dihargai, bukan hanya diminta untuk bertanggung jawab atas segalanya. Mereka juga ingin didengarkan dengan penuh perhatian, bukan hanya dijadikan sebagai sandaran ketika orang lain membutuhkan.
Jika kita benar-benar ingin membangun masyarakat yang lebih sehat secara emosional, maka empati tidak boleh berhenti pada satu gender saja. Pria juga membutuhkan ruang aman untuk menjadi manusia seutuhnya, dengan segala kekuatan dan kerentanan yang mereka miliki.
Mari kita mulai mengubah narasi tentang maskulinitas yang selama ini kita yakini. Mari kita berikan ruang bagi pria untuk menjadi diri mereka sendiri, tanpa rasa takut atau malu. Ingatlah selalu, di balik setiap pria, ada hati yang merindukan pemahaman, bukan hanya tuntutan untuk selalu kuat.




