KBM di Sumatera Mulai Normal, Kemendikdasmen Kebut Perbaikan Sekolah Rusak Berat

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pembelajaran di wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara telah kembali berjalan sepenuhnya. Meski demikian, kerusakan berat pada ribuan sekolah masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat usai rapat koordinasi percepatan rehabilitasi pascabencana Sumatera bersama kementerian dan lembaga terkait di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Senin (26/1).

“Secara total, jumlah sekolah yang terdampak di tiga provinsi itu 4.859, dengan proporsi yang terbesar di Provinsi Aceh itu 3.773, di Sumatera Barat 527, dan Sumatera Utara 1.259. Namun alhamdulillah sampai saat ini untuk proses pembelajaran di ketiga provinsi tersebut sudah terlaksana 100% untuk proses pembelajarannya,” ujar Atip.

Atip menjelaskan, sebagian sekolah dapat kembali digunakan karena hanya mengalami kerusakan ringan. Namun, sejumlah sekolah lain masih terpaksa menggunakan tenda atau ruang kelas darurat akibat bangunan yang rusak berat.

“Yang masih tersisa dan harus segera dilaksanakan adalah perbaikan sarana fisiknya. Dengan rinciannya untuk di Aceh yang sudah melakukan pembelajaran di sekolah asal itu 2.966. Artinya di sekolah tersebut hanya dilakukan pembersihan karena kondisinya tergolong rusak ringan. Sementara yang belajar di tenda dan kelas darurat sekitar 82 sekolah. Dan ini yang memerlukan dan akan dilakukan perbaikan secepatnya,” jelasnya.

Ia menargetkan sekolah-sekolah yang masih menggunakan tenda darurat dapat segera ditangani.

“Dan mudah-mudahan pada Februari ini sudah bisa diselesaikan untuk yang sekolah di tenda dan sekolah darurat,” ujarnya.

Selain itu, terdapat sekolah yang harus direlokasi karena lokasi lama dinilai tidak aman untuk digunakan kembali.

“Nah, sedangkan yang statusnya menumpang di Provinsi Aceh sebanyak 25, dan ini perlu relokasi ke tempat yang betul-betul jauh dari wilayah bencana karena tidak mungkin dibangunkan di tempat asal. Kami memerlukan di sini dari pemerintah daerah lokasinya dan juga dari BNPB untuk menjamin keamanan dari lokasi baru tersebut. Nah, untuk pendanaannya ini akan dilakukan dari dana revitalisasi pada tahun ini,” jelas Atip.

Meski pembelajaran telah berjalan, tingkat kehadiran siswa belum sepenuhnya normal, khususnya di Aceh.

“Jadi khusus untuk Provinsi Aceh pada tanggal 5 Januari 90% guru sudah hadir. Nah, siswanya 70% karena berbagai kendala, antara lain transportasi yang belum memungkinkan mereka untuk hadir pada tanggal 5 Januari,” ungkapnya.

Kemendikdasmen telah menyalurkan berbagai bantuan pendidikan darurat, mulai dari 30.500 paket school kit, 168 tenda darurat, 147 ruang kelas darurat, hingga dana operasional pendidikan darurat sebesar Rp 12,2 miliar kepada 1.339 satuan pendidikan.

“Secara umum kami sampaikan kembali bahwa pembelajaran sudah berjalan 100%, tinggal sarana fisiknya khususnya di yang termasuk kategori rusak berat yang relokasinya memerlukan keakurasi dari lokasi tanahnya,” tutup Atip.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Wapres Gibran Temui Warga Korban Bencana Longsor Cisarua
• 15 jam lalurepublika.co.id
thumb
Chelsea bawa pulang tiga poin usai taklukkan Crystal Palace 3-1
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Buku “Swipe Therapy” angkat refleksi cinta dan era aplikasi kencan
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Sekeluarga Korban Longsor di Cisarua Ditemukan Tewas Berangkulan
• 10 jam laludetik.com
thumb
Iran nyatakan lebih siap untuk respons serangan lawan
• 2 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.