Haru bercampur duka menyelimuti Pos Disaster Victim Identification (DVI) di Puskesmas Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Tangis keluarga korban longsor Pasir Kunci dan Pasir Kuda di Lereng Gunung Burangrang pecah silih berganti, menunggu kabar tentang orang-orang tercinta yang hingga kini belum kembali.
Wajah-wajah lelah tampak duduk di pelataran musala. Beberapa orang mencoba menenangkan keluarga yang histeris. Sebagian lain memandangi ambulans yang datang membawa kantong jenazah dengan tatapan kosong.
Berdasarkan pantauan kumparan pada Senin (26/1), tim SAR gabungan kembali membawa sejumlah kantong jenazah ke Pos DVI. Setiap kedatangan kendaraan evakuasi selalu disambut doa, sekaligus jerit tangis keluarga.
Data sementara mencatat, korban terdampak longsor di Desa Pasirlangu mencapai 105 orang, ditambah 23 korban selamat. Dari jumlah tersebut, 25 jenazah telah ditemukan pada Sabtu (24/1) dan Minggu (25/1). Hingga kini, sebanyak 80 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun material longsor.
Salah satu keluarga korban, Adria (30), masih setia menunggu di Pos DVI sejak hari pertama kejadian. Ia mengaku datang ke lokasi sejak Sabtu siang, tak lama setelah longsor terjadi.
“Di pos ini dari hari Sabtu, dari kejadian itu Sabtu dini hari. Berarti di sini Sabtu siang sampai sekarang,” ujar Adria dengan suara lirih.
Adria menyebut, dari keluarga intinya terdapat 13 orang yang menjadi korban longsor. Hingga kini, baru tiga orang yang berhasil ditemukan dan teridentifikasi.
“Kalau keluarga inti 13 orang. Alhamdulillah yang sudah ketemu tiga orang. Masih menunggu 10 orang lagi,” katanya.
Adria mengenang saat pertama kali kabar duka datang. Ia menyebut, pada hari pertama pencarian, sekitar tujuh korban berhasil ditemukan. Hari kedua pencarian kembali membawa kabar duka bagi keluarganya.
“Yang paling pertama itu uwa saya. Uwa saya yang paling pertama datang ke sini tanpa ke puskesmas sini. Terus ada korban yang lain satu orang, yang ketiga alhamdulillah itu kakak saya. Yang hari kedua alhamdulillah adik sepupu ketemu kemarin,” katanya.
Rumah Adria dan keluarganya berada di kawasan yang paling rentan terdampak longsor. Lokasinya berada di ujung permukiman.
“Lokasi rumahnya itu permukiman paling ujung, paling terakhir. Kalau misal kena dampak, permukiman kami yang paling pertama,” jelasnya.
Selama menunggu di Pos DVI, keluarga korban juga telah menjalani prosedur identifikasi, termasuk tes DNA. Hal itu dilakukan untuk mempermudah pencocokan data korban.
“Kemarin alhamdulillah keluarga-keluarga sudah tes DNA, supaya gampang petugas mengidentifikasi para korban,” ujar Adria.
Tiga jenazah anggota keluarganya yang telah teridentifikasi sudah dimakamkan. Adria mengaku waktu menunggu di posko tidak menentu.
“Kalau nunggu paling dari pagi sampai malam. Kalau tidur paling di posko,” ujarnya.
Mengenang detik-detik longsor, Adria mengatakan peristiwa itu terjadi begitu cepat dan tanpa tanda-tanda. Ia menyebut salah satu anggota keluarga melihat langsung rumah-rumah terseret arus material longsor.
“Kakak saya teriak karena lihat rumah kebawa arus air. Saya lari ke depan rumah, pas lihat sudah tanah semua,” ujarnya.
Sementara itu, Cece, keluarga korban lainnya, juga masih menunggu kabar di Pos DVI. Dari pihak keluarganya, hingga kini belum ada satu pun yang ditemukan.
“Keluarga saya ada tujuh, keluarga istri saya ada tiga. Keluarga saya belum ada yang ditemukan, jadi masih nunggu di sini,” ujar Cece singkat.
Duka juga dialami Asep Heri (45). Putrinya bernama Tasya (17), menjadi salah satu korban yang tertimbun longsor di Kampung Pasir Kuning.
Namun, ia tak mau hanya menunggu dan lebih memilih untuk mencari jasad putrinya bersama Tim SAR Gabungan sejak hari pertama.
Di sela-sela istirahat, ia mencoba tegar dan tenang meski dalam hatinya begitu resah karena hingga hari ketiga pencarian ini anaknya tak kunjung ditemukan.
“Iya, saya terjun langsung mau nyari anak saya yang belum ditemukan,” tutur Asep Heri.
Berita duka itu pertama kali diketahui anaknya yang paling besar pada Sabtu (24/1) pagi. Asep langsung bergegas dari rumahnya di Ciwidey, Kabupaten Bandung, menuju lokasi longsor untuk memastikan informasi tersebut. Anaknya kebetulan sedang menginap di rumah pamannya.
Sampai di lokasi, perasaan Asep seketika hancur melihat permukiman di Kampung Pasir Kuning yang sudah rata dengan tanah. Ada sekitar 30 rumah tertimbun longsor.
“Jadi di rumah itu ada empat orang. Anak saya, sama paman dan bibinya, dan juga satu anak kecil,” ucap Asep.
Saudaranya yang diketahui bernama Deni dan Ani serta anaknya yang masih kecil sudah ditemukan, yang disaksikan langsung oleh Asep karena terlibat dalam proses pencarian. Ani ditemukan dalam posisi sedang memeluk anak perempuannya. Selain itu, ditemukan juga dompet, KTP, serta handphone yang masih aktif.
“Posisinya itu ibunya memeluk anaknya seperti sedang melindungi. Posisi anaknya seperti sedang sujud, rambutnya masih bersih dan bajunya juga kering. HP juga ketemu masih aktif,” ujar Asep.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483287/original/088734300_1769357625-1000351486.jpg)

