Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai harga komoditas timah secara internasional melonjak sangat signifikan disebabkan semakin ketatnya pengawasan produksi timah di Indonesia.
Berdasarkan situs London Metal Exchange (LME), harga timah berada di level USD 56.816 per ton atau melesat 9,52 persen pada penutupan perdagangan Jumat (23/1). Jika dibandingkan pada 2 Januari 2026 lalu, harganya sudah melesat 40,6 persen.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengatakan kenaikan harga komoditas mineral bergantung pada kondisi pasokan dan permintaan (supply and demand), terutama akibat berkembangnya industri semikonduktor.
"Hal ini sejalan dengan Industri yang berkembang saat ini adalah industri teknologi, semiconductor dan industri elektronik yang membutuhkan bahan baku timah," jelasnya saat dihubungi kumparan, Senin (26/1).
Menurutnya, hal ini salah satunya dipengaruhi semakin ketatnya pengawasan produksi timah di Indonesia, sehingga penyelundupan bijih timah keluar negeri semakin minim.
"Dengan semakin ketatnya pengawasan produksi timah menyebabkan semakin sempitnya ruang penyeludupan dan juga akibat gangguan produksi di Myanmar," ungkap Yuliot.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Tbk (TINS), Suhendra Yusuf Ratu Prawiranegara, kenaikan harga timah saat ini juga disebabkan faktor isu logam tanah jarang atau rare earth element yang menjadi incaran pasar internasional.
"Kenaikan harga saat ini kemungkinan bukan karena faktor fundamental. Ada faktor supply demand juga menjadi faktor terus naiknya harga timah global," tuturnya.
Suhendra menjelaskan, kenaikan harga komoditas ini tentunya menguntungkan bagi kinerja perusahaan setidaknya sepanjang semester I 2026 ini.
"Dari sisi PT Timah tentu kenaikan harga dalam kurun waktu lebih dari 1 semester ini berdampak positif terhadap kinerja keuangan atau bottom line dari perusahaan," imbuhnya.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bakhtiar, mengatakan fluktuasi harga timah dipengaruhi spekulasi pasar dan permintaan global yang relatif besar, ditambah faktor permintaan dari sektor elektronik dan energi terbarukan yang mulai meningkat.
Di sisi lain, Bisman juga menilai isu pengetatan dan pemberantasan penyelundupan timah dari Indonesia memang menjadi salah satu pemicu sentimen, sebab Indonesia merupakan eksportir utama timah dunia.
"Hal ini dianggap berpotensi mengurangi pasokan ilegal yang selama ini menekan harga. Walaupun sebenarnya faktor ini tidak terlalu signifikan menjadi variabel penyebab," tandas Bisman.




