BEKASI, KOMPAS.com – Berawal dari keresahan yang sama terhadap kondisi fasilitas umum di Kota Bekasi, sekelompok anak muda yang tergabung dalam komunitas Gen Bergerak (GenBurgeract) memilih turun langsung ke lapangan.
Tanpa melabeli diri sebagai organisasi formal, mereka membersihkan halte, menandai jalan rusak, hingga menyusuri titik-titik rawan kecelakaan, hingga mengedukasi warga lewat media sosial.
Aksi-aksi tersebut kerap dibagikan melalui akun Instagram @genburgeract, yang memperlihatkan kegiatan mereka saat malam hari.
Baca juga: Banjir Berulang, Warga Perumahan Subsidi di Kabupaten Bekasi Pilih Tinggalkan Rumah
Aktivitas tersebut dilakukan secara mandiri dengan peralatan seadanya yang mereka bawa sendiri.
Salah satu anggota tim GenBurgeract, Ilham Haristianto (26), mengatakan gerakan ini lahir dari kegelisahan yang telah lama mereka rasakan bersama sebagai warga Bekasi.
“Sebenarnya kami sudah cukup lama merasakan keresahan yang sama. Akhirnya kami bergerak atas dasar apa adanya, tanpa perlu embel-embel apa pun,” ujar Ilham saat ditemui Kompas.com, Senin (26/1/2026).
Menurut Ilham, GenBurgeract hadir sebagai ruang tengah bagi masyarakat, khususnya anak muda, yang merasakan persoalan serupa tetapi tidak tahu harus memulainya dari mana.
“Banyak khalayak umum itu sebenarnya merasakan hal yang sama, cuma mereka enggak tahu harus melakukannya seperti apa. Di sinilah GenBurgeract hadir, memberikan edukasi, memberikan informasi, dan menyajikannya seperti media,” kata dia.
Mereka mendokumentasikan aksi mereka untuk membuka mata publik bahwa masih banyak fasilitas sosial dan fasilitas umum di Kota Bekasi yang kondisinya jauh dari kata layak.
“Kami menyurvei, mempresentasikan, dan menyajikannya supaya orang bisa tahu kondisi sebenarnya,” ujar dia.
Baca juga: Duduk Perkara Warung Bekasi: Pemilik Pergoki Bocah Mencuri, Dimintai Rp 50 Juta
Terkait pendanaan, Ilham menyebut seluruh kegiatan GenBurgeract masih dilakukan secara swadaya dengan dana pribadi yang dikumpulkan bersama.
“Dananya patungan. Kami melihat kemampuan kami di taraf seperti apa. Kami enggak muluk-muluk sampai menutup jalan atau mengaspal. Tapi pakai resource yang kami punya dulu,” jelasnya.
Ia mengatakan, bentuk aksi pun disesuaikan dengan kemampuan, mulai dari mengecat marka peringatan menggunakan piloks, membersihkan halte dengan alat kebersihan pribadi, hingga mengandalkan tenaga sendiri.
“Anak muda itu ya bergerak dulu aja. Soal nanti ada kritik atau tanggapan, silakan. Dari situ justru ada diskusi dan evaluasi,” kata Ilham.
Usai mengunggah berbagai aksi ke media sosial, respons publik pun datang beragam. Selain dukungan, kritik juga kerap muncul.





