jpnn.com, JAKARTA - Seperti rutinitas yang telah dia jalani selama beberapa bulan terakhir, Dokter Rosa, mitra pengemudi GrabCar, mulai mengaktifkan aplikasi seusai Magrib atau Isya.
Waktu tersebut dia pilih setelah seluruh tanggung jawab rumah tangga rampung: pekerjaan utama selesai, anak-anak terurus, dan rumah dalam keadaan tenang.
BACA JUGA: Bangkit di Tengah Duka, Keluarga Almarhum Dandi Punya Harapan Baru Melalui GrabKios
Pada Senin malam (19/1), Rosa kembali memulai aktivitas on-bid, memanfaatkan waktu luangnya sebagai driver GrabCar yang telah dia tekuni sejak Oktober 2025.
“Pada akhirnya saya memilih menyalurkan waktu dengan menjadi driver online. Lumayan untuk tambahan jajan anak-anak. Selain itu, saya bisa bertemu banyak orang, menambah wawasan, bahkan membantu mereka yang sedang membutuhkan,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima, Senin (26/1).
BACA JUGA: KDM Bikin Aplikasi Pesaing Grab dan Gojek? Tawarkan Solusi Driver Lebih Sejahtera
Menurut Rosa, GrabCar menjadi pilihannya karena sistem aplikasinya yang dinilai ramah, baik bagi mitra pengemudi maupun penumpang. Di tengah aktivitasnya sebagai driver online, ia mengaku kerap dihadapkan pada situasi tak terduga yang membutuhkan kepekaan dan keahlian medis.
“Saya senang bisa menolong banyak orang, terutama yang membutuhkan penanganan medis. Saya sudah tidak ingat berapa kali membantu. Tapi pengalaman menolong persalinan di dalam mobil itu sangat berkesan,” tuturnya.
BACA JUGA: Kolaborasi Antara Grab dengan Hotel Sukses Dongkrak Bisnis Pariwisata Indonesia
Dia menjelaskan, kondisi kehamilan penumpang tersebut tergolong kebobolan. Sang ibu tidak mengetahui usia kehamilan karena tidak pernah melakukan pemeriksaan medis dan secara fisik juga tidak tampak seperti sedang hamil.
Menanggapi peristiwa tersebut, CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menyampaikan apresiasinya. Dia menilai kejadian di Surabaya itu mencerminkan nilai kemanusiaan, kepedulian, dan profesionalisme yang tumbuh di dalam ekosistem Grab.
“Fakta bahwa mitra pengemudi kami juga merupakan tenaga medis menunjukkan bagaimana fleksibilitas Grab memungkinkan individu dengan latar belakang dan keahlian yang beragam untuk memberikan dampak positif bagi keluarga dan masyarakat, bahkan dalam situasi yang tidak terduga,” ujarnya.
Neneng menambahkan bahwa fleksibilitas bukan sekadar soal pengaturan waktu kerja.
“Fleksibilitas adalah tentang membuka ruang agar mitra dapat menjalani peran hidupnya secara utuh sebagai profesional, anggota keluarga, sekaligus bagian dari komunitas. Kami sangat mengapresiasi tindakan cepat dan penuh empati Dokter Rosa. Grab akan terus berkomitmen menghadirkan ekosistem yang aman, suportif, dan menjunjung tinggi keselamatan serta nilai kemanusiaan dalam setiap perjalanan,” ujar dia.
Dokter Rosa sendiri telah bergabung sebagai mitra pengemudi GrabCar sejak Oktober tahun lalu. Dengan jadwal kerja utama yang tidak menentu serta tanggung jawab keluarga, fleksibilitas menjadi faktor penting baginya.
“Grab memberi saya ruang untuk bekerja saat saya mampu,” katanya.
Kadang dia menarik penumpang di malam hari, kadang hanya beberapa jam saja. Penghasilan dari on-bid tersebut dia gunakan untuk kebutuhan harian, mulai dari belanja dapur, pengeluaran kecil rumah tangga, hingga jajan anak-anak.
Rosa hanyalah satu dari sekian banyak mitra Grab dengan latar belakang beragam.
Di balik kemudi GrabCar dan GrabBike, terdapat mahasiswa, orang tua, pekerja profesional, hingga tenaga kesehatan. Grab membuka peluang pendapatan tanpa mengikat, tanpa menanggalkan identitas utama para mitranya. (cuy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Grab Kawal Parade Atlet SEA Games 2025, Lautan Armada Hijau Bakar Semangat Indonesia
Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan



