Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.779 per Senin, 26 Januari 2026. Posisi rupiah itu menguat 59 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.838 pada perdagangan Jumat, 23 Januari 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 27 Januari 2026 hingga pukul 09.06 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.790 per dolar AS. Posisi itu melemah 8 poin atau 0,05 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.782 per dolar AS.
- vstory
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar mendukung komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah yang memberikan sentimen positif, dengan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot.
BI meyakini ke depan akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat berkat dukungan imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi. Penguatan rupiah juga akan didukung cadangan devisa (cadev) yang dinilai lebih dari cukup, untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar.
Selain itu, pasar merespon positif Thomas Djiwandono yang telah menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) hingga akhirnya terpilih sebagai Calon Deputi Gubernur BI di Komisi XI DPR RI kemarin sore.
Sebelumnya, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengatakan proses pengisian jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang ditinggalkan Juda Agung, berjalan sesuai mekanisme konstitusional dan ketentuan perundang-undangan.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 16.750 - Rp16.900," ujarnya.
Sebagai informasi, meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan sekutu NATO terkait Greenland, telah mengguncang pasar global. Retorika Trump tentang kepentingan strategis AS di wilayah Arktik telah memperketat hubungan transatlantik, memicu kekhawatiran tentang dampak diplomatik dan ekonomi yang lebih luas.
Memperparah ketegangan geopolitik tersebut, Trump meningkatkan gesekan perdagangan dengan Kanada akhir pekan ini, dan berjanji untuk mengenakan tarif 100 persen pada barang-barang Kanada jika Ottawa melanjutkan kesepakatan perdagangan dengan China.




