Sering kali kita bertanya, mengapa sekolah dan kuliah hari ini terasa seperti "pabrik" pencetak ijazah? Jawabannya mungkin bukan pada kurikulumnya, melainkan pada sistem ekonomi yang mendiktenya.
Mekanisme ekonomi kapitalisme yang tumbuh subur pasca-Perang Dingin telah menjadi fondasi utama penggerak dunia (Saeng, 2012). Sayangnya, pendidikan kini seolah "disandera" oleh kepentingan pasar. Nilai-nilai kemerdekaan dalam belajar sulit tumbuh selama masyarakat masih dibayangi ketakutan akan masa depan finansial.
Pendidikan dalam Dikte KapitalismeSejarah mencatat bahwa pola pendidikan sebagai pencetak tenaga kerja murah sudah dimulai sejak zaman kolonial melalui Politik Etis 1901 (Ingelson, 2015). Ironisnya, di abad ke-21, polanya masih serupa.
Data BPS 2024 menunjukkan angka pengangguran lulusan sarjana hingga doktor mencapai lebih dari 842 ribu orang (Young & Ashari, 2025). Di sisi lain, kebijakan PTN-BH mendorong komersialisasi kampus yang membuat biaya kuliah meroket (Nadzifah dkk., 2026). Fenomena ini menciptakan paradoks: biaya pendidikan mahal, namun upah kerja tetap rendah.
Akibatnya, generasi muda menjadi sangat pragmatis. Minat Gen-Z menjadi guru hanya 11% karena upah profesi ini termasuk yang terendah di Asia Tenggara (Ali, 2026). Semua orang berbondong-bondong memilih jurusan STEM atau ekonomi hanya karena "jaminan kerja", bukan karena minat atau potensi diri.
Alienasi dan Hilangnya Nilai KemanusiaanKetika pendidikan hanya fokus pada pemenuhan industri, nilai-nilai humaniora pun tersingkir. Lembaga pendidikan berubah menjadi arena kompetisi untuk menjadi tenaga kerja yang patuh, bukan manusia yang kritis (Illich, 1971). Jika ilmu pengetahuan menjadi bebas nilai dan tidak berpihak pada kemanusiaan, hal ini hanya akan menjadi malapetaka bagi peradaban (Sindhunata, 2025).
Penerapan pendidikan humanis seharusnya mengikuti kerangka pemikiran Jurgen Habermas (1968):
Pembelajaran Teknis: Menguasai sains untuk manfaat alam.
Pembelajaran Praktis: Memahami realitas sosial melalui humaniora.
Pembelajaran Emansipatoris: Menumbuhkan kesadaran untuk melawan penindasan dan menjaga martabat manusia.
Kesimpulan: Ekonomi Sehat, Pendidikan BeradabPendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Negara harus hadir menyelesaikan ketimpangan upah dan ketersediaan lapangan kerja. Selama "urusan perut" belum selesai, pendidikan humanis hanya akan menjadi slogan indah tanpa makna.
Pemerataan ekonomi adalah kunci. Jika setiap profesi dihargai secara layak, siswa akan bebas mengasah bakatnya tanpa rasa takut. Dari sinilah lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara teknis, tapi juga memiliki empati dan kesadaran kritis untuk membangun peradaban yang adil.




