Relevansi Cita-Cita Tinggi, dengan Skill dan Kompetensi

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Mimpi yang tinggi, pasang cita-citamu setinggi-tingginya. Jangan takut bermimpi! begitu kalimat tegas saya kepada anak-anak. Suatu malam ketika sedang berkumpul dan mendampingi mereka untuk belajar.

Bagi saya mimpi yang tinggi itu wajib, karena dengan begitu kita akan mulai berpikir bagaimana untuk mencapainya. Bagaimana mengusahakannya dengan maksimal.

Mindset Orang Sukses

Mindset atau pola pikir sangat berpengaruh bagi seseorang yang ingin sukses. Tidak ada kata sukses jika mindset nya begitu lemah atau bahasa kerennya 'cetek'.

Banyak orang sukses yang awalnya dari keluarga tidak mampu, dari minoritas yang terkucilkan. Tapi ternyata sejak kecil mereka punya mimpi besar. Kenapa?

Karena keadaan ternyata membentuk mereka dan seakan memaksa mereka untuk keluar dari siklus keterpurukan. Ada mimpi besar dan imajinasi yang ingin mereka wujudkan, tentu saja dengan tekad dan keinginan yang besar. Dengan berbagai daya dan upaya.

Lazimnya, mindset seperti ini punya ciri-ciri seperti:

1. Berpikir Jangka Panjang

Orang sukses tidak hanya fokus hasil cepat, tapi membangun sesuatu yang bernilai dalam waktu lama. Mindset yang dibangun adalah “Apa yang saya bangun hari ini akan berguna 10–20 tahun ke depan.”

2. Kegagalan adalah guru, Bukan Akhir segalanya

orang dengan mental sukses tidak pernah takut gagal. Kegagalan dianggap data untuk memperbaiki strategi. mindsetnya adalah “Saya belum gagal, saya sedang belajar.”

3. Bertanggung Jawab Penuh

Ketika menemui kegagalan, mereka cenderung tidak menyalahkan keadaan, orang lain, atau latar belakang. Tapi sebaliknya, mindsetnya adalah self evaluation, yaitu “Apa yang bisa saya perbaiki dari diri saya?”

4. Terus Belajar & Adaptif

Dunia berubah cepat, orang sukses mau belajar ulang dan menyesuaikan diri. Tidak pernah malu untuk belajar lagi, dan lebih senang bergaul bersama mereka yang punya ilmu. Mindsetnya adalah “Kalau cara lama tidak berhasil, saya cari cara baru. belajar dari orang yang lebih tahu".

5. Berani Bermimpi Besar

Mereka punya mimpi yang pada masanya dianggap tidak masuk akal, cita-cita yang menurut orang lain tidak mungkin digapai.

Namun mental mereka ternyata terlalu kuat untuk dijatuhkan, karena mindsetnya adalah “Kalau mimpi saya tidak ditertawakan, berarti terlalu kecil.". Bahkan tak jarang mereka cuek dan berbisik sendiri "Tidak ada yang tidak mungkin, saya pasti bisa".

Meningkatkan Skill dan Kompetensi

Tak ada mimpi besar tanpa usaha dan pengorbanan. Kerja keras untuk mewujudkannya adalah satu hal yang wajib! Tak ada negosiasi, bahkan mereka yang duduk dengan laptop di tangan bisa tumbang ketika berusaha mengejar mimpi.

Jadi jangan membayangkan mereka yang berjuang dari nol dengan bentuk kerja fisik saja, ada mental juga yang harus ditempa. Faktanya, mimpi besar itu butuh skill dan kompetensi juga.

Yang harus kita pahami adalah mimpi Besar ini sebuah tujuan yang ingin dicapai. Nah Skill dan Kompetensi adalah Tangga yang akan membawa kita ke sana, mencapainya. Lalu apa itu skill dan kompetensi?

Skill adalah kemampuan teknis (misalnya: desain, komunikasi, coding, negosiasi), sedangkan kompetensi adalah skill yang diasah melalui pengalaman, sikap dan hasil nyata yang pernah diraih.

Bayangkan jika sebuah mimpi besar, seperti ingin membangun bisnis nasional/memimpin perubahan/menciptakan teknologi tapi tidak punya tangganya. Bisa dibayangkan kita hanya bisa menatap ke atas dan tak pernah bergerak.

Tapi dengan adanya tangga (skill dan kompetensi yang terus di asah) maka kita bisa naik satu level demi satu level. Lalu bagaimana caranya agar bisa meningkatkan skill dan kompetensi?

Tips Upgrade Skill dan Kompetensi Secara Bertahap

Berikut beberapa tips untuk upgrade skill dan kompetensi secara bertahap, agar bisa konsisten.

1. Tentukan Skill Utama yang dimiliki (Core Skill)

Pilih 1 sampai dengan 2 skill utama yang menurut anda paling berdampak. Jangan pernah belajar banyak hal sekaligus, karena pastinya tidak akan efektif. Pilih yang paling berdampak dan membuat anda konsisten mempelajarinya.

Contohnya :

Karier>> komunikasi, problem solving.

Bisnis>> marketing, negosiasi

Teknis>> desain, IT, konstruksi, dan lain-lain

2. Belajar Terarah dan Konsisten (Bukan Acak)

Gunakan formula seperti perbandingan : Teori 20% → Praktik 80%. Hal ini untuk mempercepat pemahaman terhadap skill yang ingin dikuasai.

Contohnya:

Belajar presentasi → langsung latihan presentasi

Belajar desain → langsung buat proyek kecil

Karena pada dasarnya belajar Skill tanpa praktik adalah sama dengan ilusi kemampuan.

3. Latihan dengan Standar Nyata

Melatih skill itu harus bertahap, dari tahap paling mudah hingga yang paling sulit. Naikkan level latihan anda seperti :

Latihan pribadi>>Simulasi kasus nyata>>Proyek sungguhan

Terapkan juga latihan dengan Deadline & tekanan, karena tekanan yang tepat akan menghasilkan kompetensi naik lebih cepat.

4. Cari Feedback/Penilaian dari ahlinya (Ini yang Banyak Orang Takut)

Faktanya, banyak orang takut di nilai, apalagi oleh orang yang memang ahlinya atau sudah ahli. Padahal Feedback seperti ini justru mempercepat pertumbuhan.

Beberapa sumber feedback yang dapat membantu pertumbuhan kompetensi kita seperti:

Jangan takut atau malu bahkan merasa gengsi untuk bertanya “Apa yang kurang dan bisa saya perbaiki?”. Atau bisakah beri masukan bagaimana saya bisa memperbaikinya?"

5. Dokumentasikan Hasilnya Sebagai Perbandingan

Dokumentasikan jika perlu setiap proses yang sudah anda jalani. Agar bisa jadi perbandingan. Sedikit banyak ini akan membuat anda semakin termotivasi.

Bukti kompetensi dalam bentuk sertifikat juga pastinya akan sangat berguna untuk membantu anda menggapai mimpi. Adapun bentuk dokumentasi yang bisa anda buat antara lain :

Contoh Orang Sukses dalam Sejarah

Kita bisa melihat contoh yang tertulis dalam sejarah, seperti mimpi seorang Thomas Alva Edison yang bermimpi ingin menciptakan lampu listrik yang bisa dipakai semua orang.

Tantangan yang dihadapi justru gagal lebih dari 1.000 kali, namun dalam dirinya justru melakukan afirmasi positif dan terus mencoba, "Saya tidak gagal 1.000 kali. Saya menemukan 1.000 cara yang tidak berhasil.” belajar lagi.

Hasilnya Lampu pijar dan revolusi listrik dunia yang hingga saat ini dinikmati seluruh dunia.

Contoh lain juga, seperti Walt Disney dengan mimpi besarnya Membangun dunia hiburan imajinatif untuk keluarga. Tantangannya saat itu justru ia dipecat karena “kurang kreatif”, bahkan bangkrut berkali-kali.

Namun semangatnya tak patah, hasilnya Disney menjadi simbol hiburan global mendunia hingga saat ini. Nah sudah ada gambaran mau mulai dari mana?

Semoga tulisan ini dapat sedikit menginspirasi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gempa Magnitudo 5,5 Guncang Pacitan Jawa Timur Hari Ini, BMKG Ungkap Ada Aktivitas Deformasi Lempeng
• 5 jam laludisway.id
thumb
Pemerintah Cari Solusi Terkait Tiga Desa di Perbatasan Indonesia-Malaysia
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Komandan ICE Amerika Dipecat Buntut Penembakan Minneapolis, Trump Kirim Utusan Khusus
• 7 jam laludisway.id
thumb
Hari Ini, Ahok Bakal Jadi Saksi Sidang Kasus Tata Kelola Minyak Mentah
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Longsor Ciasura, KDM akan Adili Perusahan Lakukan Alih Fungsi Lahan
• 3 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.