Digitalisasi kini menjadi kata kunci di banyak organisasi. Sekolah, kantor, hingga lembaga pelayanan publik berlomba mengadopsi teknologi baru. Aplikasi diperkenalkan, sistem diperbarui, dan proses kerja diubah agar terlihat lebih modern. Namun di balik semangat itu, tidak sedikit individu yang merasa tertinggal dan kebingungan.
Teknologi terus bergerak maju, sementara manusia di dalam organisasi tidak selalu punya ruang yang cukup untuk beradaptasi. Di sinilah masalah sering bermula.
1. Digitalisasi sering dipahami hanya sebagai soal teknologiBanyak organisasi menganggap digitalisasi selesai ketika sistem atau aplikasi berhasil dipasang. Selama teknologi tersedia, perubahan dianggap sudah terjadi. Padahal, digitalisasi bukan sekadar mengganti kertas dengan layar atau proses manual dengan aplikasi.
Tanpa perubahan cara berpikir dan cara bekerja, teknologi hanya menjadi alat baru dengan pola lama. Akibatnya, digitalisasi terlihat aktif di permukaan, tetapi tidak membawa perubahan berarti dalam keseharian kerja.
2. Perubahan datang tanpa ruang adaptasiTeknologi sering diperkenalkan dengan target dan tenggat waktu yang ketat. Pegawai diharapkan segera menyesuaikan diri, memahami alur baru, dan bekerja lebih cepat. Namun proses adaptasi manusia tidak selalu bisa dipercepat.
Ketika tidak ada ruang untuk belajar dan mencoba, kesalahan dianggap kegagalan, bukan bagian dari proses. Hal ini membuat sebagian orang memilih bermain aman dan kembali pada cara lama yang sudah mereka kuasai.
3. Beban kerja meningkat, bukan berkurangSalah satu janji digitalisasi adalah efisiensi. Namun dalam praktiknya, digitalisasi justru kerap menambah beban kerja. Proses lama belum sepenuhnya dihapus, sementara proses digital sudah diwajibkan.
Pegawai akhirnya bekerja ganda: menjalankan sistem baru sekaligus menjaga proses lama tetap berjalan. Kondisi ini membuat teknologi dipandang sebagai tambahan beban, bukan solusi.
4. Pendekatan seragam mengabaikan konteks organisasiSetiap organisasi memiliki karakter, kemampuan sumber daya manusia, dan budaya kerja yang berbeda. Namun digitalisasi sering diterapkan dengan pendekatan yang sama untuk semua unit.
Ketika konteks diabaikan, ketidaksesuaian pun muncul. Sistem yang cocok di satu tempat belum tentu relevan di tempat lain. Tanpa penyesuaian, digitalisasi justru menciptakan jarak antara kebijakan dan realitas lapangan.
5. Manusia sering terlupakan dalam agenda perubahanDalam banyak agenda digitalisasi, fokus utama tertuju pada sistem, target, dan laporan capaian. Sementara itu, aspek manusia sering menjadi pelengkap. Padahal, manusialah yang menjalankan, merawat, dan memberi makna pada teknologi.
Tanpa perhatian pada kesiapan mental, kemampuan, dan kebutuhan pengguna, digitalisasi akan kehilangan arah. Teknologi bisa berjalan, tetapi tidak benar-benar membantu.
Digitalisasi adalah perjalanan, bukan tujuanDigitalisasi seharusnya dipahami sebagai perjalanan bersama, bukan sekadar proyek teknologi. Ia membutuhkan waktu, pendampingan, dan empati terhadap manusia yang mengalaminya.
Ketika teknologi dan manusia bergerak seiring, digitalisasi dapat menjadi alat yang memperkuat organisasi. Namun tanpa kesiapan manusia, teknologi hanya akan menjadi simbol perubahan bukan perubahan itu sendiri.



