Pidato Donald Trump di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada 21 Januari 2026, tentang Greenland kembali menegaskan satu pola lama: diplomasi yang dibangun di atas provokasi, bukan persuasi. Di hadapan elite ekonomi dunia, Trump melempar gagasan penguasaan wilayah strategis milik sekutu, lalu menutupnya dengan kalimat setengah menenangkan bahwa invasi “tidak akan dilakukan — untuk saat ini”. Retorika semacam ini bukan sekadar sensasi politik. Ia adalah sinyal keras tentang bagaimana Amerika, di bawah Trump, memandang dunia: sebagai arena transaksi kekuasaan.
Membaca ulasan Kathleen Parker di The Washington Post dalam artikel berjudul “This unlikely leader ended Trump — with gentlemanly clarity”, 23 Januari 2026, tentang kontras kepemimpinan global, tampak jelas perbedaan tajam antara gaya Trump dan sikap negarawan Mark Carney, Perdana Menteri Kanada. Parker menggambarkan bagaimana Carney memberi teguran besar terhadap Trump dengan kejernihan dan kesantunan. Gambaran ini penting, karena menandai keresahan global terhadap kepemimpinan yang gemar mengguncang norma internasional demi efek politik jangka pendek.
Populisme Kekuasaan dan Logika AncamanKebijakan luar negeri Trump sejak periode pertamanya konsisten dalam satu hal: skeptisisme terhadap multilateralisme. Ia mengkritik NATO sebagai “beban”, mengancam tarif terhadap sekutu, keluar dari berbagai perjanjian internasional, dan kini kembali bermain dengan gagasan ekspansi teritorial. Bagi banyak pemimpin Eropa, pernyataan tentang Greenland bukan lelucon, melainkan ancaman simbolik terhadap prinsip kedaulatan.
Sejak beberapa tahun lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memperingatkan bahwa NATO mengalami “mati otak” karena ketergantungan buta pada Amerika. Reaksi terhadap pidato Trump di Davos memperkuat argumen itu. Sejumlah diplomat Eropa menyebut ucapan Trump mengikis kepercayaan transatlantik dan mendorong Uni Eropa mempercepat agenda kemandirian strategis.
Dari NATO sendiri, kekhawatiran serupa terdengar. Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg menegaskan bahwa aliansi hanya bisa bertahan jika setiap anggota menghormati kedaulatan dan hukum internasional. Kalimat itu, meski diplomatis, dibaca banyak analis sebagai koreksi halus terhadap Trump.
Realisme Baru dan Risiko GlobalDalam kerangka teori hubungan internasional, sikap Trump dekat dengan logika realisme ofensif: negara besar cenderung memaksimalkan kekuasaan demi menjamin keamanan, bahkan jika itu merusak stabilitas sistem. Klaim sepihak atas Greenland dapat dipahami sebagai upaya memperluas dominasi strategis Amerika di Arktik, kawasan yang semakin penting karena perubahan iklim dan kompetisi dengan Rusia serta China.
Namun di dunia yang saling terhubung, logika kekuasaan mentah semacam itu membawa biaya tinggi. Banyak pakar tata kelola global menekankan bahwa stabilitas abad ke-21 bertumpu pada jaringan kerja sama lintas negara, bukan pada dominasi satu aktor. Ketika pemimpin negara adidaya justru merusak jaringan itu, dunia menghadapi risiko fragmentasi serius.
Implikasinya sudah tampak. Pertama, Eropa mempercepat pembangunan kapasitas pertahanannya sendiri. Jerman dan Prancis meningkatkan anggaran militer dan mendorong industri pertahanan regional. Kedua, negara-negara kecil mulai meragukan jaminan keamanan Amerika, membuka ruang bagi kekuatan lain untuk memperluas pengaruh. Ketiga, norma internasional tentang larangan akuisisi wilayah dengan ancaman kekuatan menjadi semakin rapuh.
Di luar aspek keamanan, ketidakpastian ini berdampak pada ekonomi global. Investor membaca ketegangan geopolitik sebagai risiko sistemik. Forum Davos yang seharusnya menjadi panggung stabilitas justru berubah menjadi arena kegelisahan. Dalam jangka panjang, volatilitas kebijakan Amerika bisa mempercepat pergeseran pusat gravitasi dunia ke Asia.
Kepemimpinan, Etika, dan Masa Depan DuniaKontras antara Trump dan Mark Carney, Perdana Menteri Kanada, bukan soal gaya bicara semata. Ia menyentuh inti persoalan kepemimpinan global. Dunia saat ini tidak kekurangan kekuatan, tetapi kekurangan kebijaksanaan. Carney, dengan bahasa yang tenang, menunjukkan bahwa pengaruh tidak harus dibangun lewat ancaman. Trump, sebaliknya, memilih jalur dramatik yang memancing ketakutan.
Pandangan kritis terhadap Trump datang bukan hanya dari Eropa. Banyak mantan pejabat Amerika sendiri memperingatkan bahaya unilateralisme ekstrem. Mereka menilai bahwa kekuatan koersif tanpa legitimasi justru akan melemahkan kepemimpinan Amerika. Jika kepercayaan sekutu runtuh, maka keunggulan strategis Amerika ikut tergerus.
Implikasi global dari kebijakan semacam ini sangat luas. Retaknya NATO akan mengubah keseimbangan keamanan dunia. Normalisasi ancaman teritorial akan memberi preseden buruk bagi konflik di kawasan lain, dari Ukraina hingga Laut Cina Selatan. Dan yang paling berbahaya, krisis kepercayaan akan membuat kerja sama internasional menghadapi pandemi, iklim, dan ekonomi semakin sulit.
Dalam konteks inilah, pidato Trump di Davos tentang Greenland bukan episode remeh. Ia adalah cermin dari arah kebijakan yang berpotensi mengguncang fondasi tata dunia pasca-Perang Dunia II. Dunia boleh saja terbiasa dengan kejutan Trump, tetapi sejarah menunjukkan bahwa stabilitas internasional jarang bertahan lama ketika dipimpin oleh retorika kekuasaan tanpa etika.



