83 Persen Jemaah Masuk Risiko Tinggi, Alarm bagi Petugas Haji

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Sekitar 70.000 calon jemaah haji atau sekitar 83 persen dari total 203.320 calon jemaah haji reguler masuk dalam kategori risiko tinggi kesehatan. Dari jumlah total jemaah itu, terdapat sekitar 33.000 orang masuk kategori jemaah lanjut usia atau lansia.

Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkapkan hal tersebut kepada wartawan peserta Pendidikan dan Latihan (Diklat) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, pada Senin (26/1/2026) sore.

Jumlah anggota jemaah haji Indonesia tahun ini 221.000 orang, terdiri atas 203.320 jemaah haji reguler dan 17.680 jemaah haji khusus. Jemaah haji reguler dilayani oleh Kementerian Haji dan Umrah yang mengerahkan 4.418 petugas haji di Arab Saudi. Adapun jemaah haji khusus dilayani oleh biro-biro perjalanan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).

Tingginya jumlah anggota jemaah dalam kategori risiko tinggi (risti) tersebut menjadi alarm bagi para petugas haji dalam memberikan pelayanan terbaik dan maksimal pada mereka.

" Secara statistik jemaah haji kita yang risti (risiko tinggi)—artinya mereka-mereka yang punya penyakit komorbid, secara fisik ada penyakitnya—itu hampir 170.000. Bayangkan, 170.000 risti," kata Dahnil.

" Di sinilah urgensi kenapa petugas-petugas haji itu adalah orang-orang yang punya tanggung jawab tinggi, disiplin tinggi, fisik tinggi, dan stamina tinggi karena akan melayani jemaah haji 170.000 (orang) yang risti dari 203.000 orang," lanjutnya.

Dahnil menambahkan, dari 170.000 calon anggota jemaah risiko tinggi itu, sebanyak 33.000 orang di antaranya adalah jemaah lanjut usia atau lansia. Mereka berusia 65 tahun ke atas. Selain itu, sekitar 55 persen dari total jemaah adalah perempuan.

"Semuanya membutuhkan perlindungan dan pendampingan amat tinggi dari para petugas haji. Karena itu kami sejak awal (mengimbau) jemaah risti, lansia, dan perempuan, yang nanti menunaikan haji harus mengikuti panduan dan arahan dari petugas haji di Kementerian Haji dan Umrah, terutama terkait kapasitas fisik, stamina, dan sebagainya," kata Dahnil.

Secara statistik jemaah haji kita yang risti (risiko tinggi)—artinya mereka-mereka yang punya penyakit komorbid, secara fisik ada penyakitnya—itu hampir 170.000. Bayangkan, 170.000 risti.

Menurut Dahnil, besarnya angka jemaah risiko tinggi kesehatan tersebut telah melewati penyaringan ketat syarat kesehatan, yang kerap disebut dengan syarat mampu (istitha'ah). "Kami melakukan pencegahan dari sini, dengan (syarat) istitha'ah yang diperketat. Ada 1.000 orang lebih yang tidak lolos istitha'ah," ujarnya.

Baca JugaPenuhi Kebutuhan Para Calon Jemaah Haji Lansia dan Perempuan

Pemerintah Arab Saudi berulang kali mengingatkan Pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah serius memperketat syarat kesehatan bagi jemaah haji Indonesia. Hal ini terkait besarnya angka kematian jemaah haji Indonesia tahun 2025 yang lebih dari 460 orang. Angka ini merupakan separuh angka kematian jemaah haji seluruh dunia tahun lalu.

Untuk menekan angka kematian jemaah haji itu, salah satu upaya Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI yakni memperketat syarat mampu (istitha’ah) bagi para calon jemaah sebelum mereka melunasi biaya haji. Keberhasilan menekan angka kematian jemaah haji jadi salah satu indikator kesuksesan penyelenggaraan haji tahun ini.

Fase kritis Armuzna

Dengan profil kesehatan para calon jemaah haji tahun, fase pelaksanaan ibadah haji yang harus diantisipasi dengan serius adalah tahapan ibadah wukuf di Arafah serta bermalam (mabit) di Muzdalifah dan Mina. Fase ibadah dalam rentang sekitar tujuh hari ini kerap diistilahkan dengan Armuzna, singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Saat memberikan materi tentang prioritas layanan bagi lansia dan perempuan kepada para calon petugas haji, pekan lalu, anggota Amirul Hajj Perempuan 2023-2024, Alissa Qatrunnada Munawaroh Wahid, menyebutkan, angka kematian jemaah haji biasanya meningkat drastis sepekan setelah armuzna.

Baca JugaMaklumat Arab Saudi Terkait Fase Armuzna, Waspadai Suhu hingga 50 Derajat

”Kritik pada petugas haji tahun lalu antara lain, petugasnya kurang pro-aktif. Tips melayani jemaah lansia yakni petugas harus proaktif, harus lebih banyak bertanya (mengenai hal-hal yang dibutuhkan jamaah) dan memberikan tawaran solusi (atas kesulitan jamaah),” ujar Alissa.

Dahnil menyebutkan, upaya lain untuk melindungi para jamaah kategori risiko tinggi itu dengan menyiapkan skema murur dan tanazul pada fase ibadah Armuzna.

Dua skema itu disiapkan untuk mengakomodasi layanan bagi jemaah lanjut usia (lansia), difabel, dan sakit serta untuk mengatasi kepadatan jemaah di Mina. Puncak ibadah haji berlangsung melalui wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah, yang diperkirakan jatuh pada 26 Mei 2026.

Baca JugaKemenhaj Siapkan Skema Murur dan Tanazul Pascawukuf di Arafah

Setelah menyelesaikan wukuf, jemaah bergeser dan bermalam di Muzdalifah, lalu ke Mina untuk melempar jamrah atau batu kecil sebagai simbol melempar setan yang menggoda Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar ketika Ibrahim akan melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail sebagai ujian ketaatan kepada-Nya.

Skema murur dilakukan dengan membawa jemaah lansia, difabel, dan pendamping masing-masing dengan bus tanpa berhenti (murur) di Muzdalifah. Mereka langsung menuju Mina.

Adapun skema tanazul dilakukan jemaah yang telah melempar jamrah untuk kembali ke hotel masing-masing di sekitar Mina, tanpa tinggal di tenda-tenda di kawasan itu. Dari hotel-hotel mereka, jemaah bisa kembali melanjutkan melempar jamrah di lokasi melempar jamrah.

”Ada 49.000 jemaah yang tinggal di hotel-hotel di kawasan Syisyah dan Raudhah yang direncanakan akan mengikuti skema murur dan tanazul agar tidak ada penumpukan (jemaah) di Mina,” kata Dahnil.

Ujung tombak

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menyebut para petugas haji adalah ujung tombak Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj). Keberhasilan para petugas haji akan sangat berpengaruh secara langsung pada keberhasilan Kemenhaj.

Saat meninjau langsung Diklat PPIH di Asrama Haji Pondok Gede, Gus Irfan—panggilan akrabnya—ingin memastikan bahwa para petugas haji benar-benar siap dan memiliki semangat yang tinggi. ”Mereka adalah ujung tombak Kementerian Haji dan Umrah di Arab Saudi,” ucapnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, para petugas haji dibagi ke dalam tiga daerah kerja (daker), yaitu Daker Makkah, Madinah, dan bandara. “Saya telah melihat pembagian pola kerja serta pengaturan konsumsi, semuanya dipersiapkan. Insya Allah, dengan persiapan lebih matang seperti sekarang, kita akan memperoleh hasil lebih baik,” kata Gus Irfan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ahok Pastikan Hadir Jadi Saksi Sidang Kasus Korupsi Minyak Mentah Rp285 Triliun
• 11 jam lalumatamata.com
thumb
Gempa Bumi M4,5 Terjadi di Bantul, Terasa hingga Solo dan Pacitan
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Tanggapi Kekhawatiran Pasar, DPR Minta Publik Beri Kepercayaan ke BI Usai Pergantian Deputi Gubernur
• 3 jam laludisway.id
thumb
Investor Serbu Aset Safe-haven, Harga Emas dan Perak Cetak Rekor Baru!
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Emas Fisik Jarang Tersedia, Ini Pilihan Investasi Lainnya
• 2 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.