Ahok Pastikan Hadir Jadi Saksi Sidang Kasus Korupsi Minyak Mentah Rp285 Triliun

matamata.com
5 jam lalu
Cover Berita

Matamata.com - Mantan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) periode 2019–2024, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mengonfirmasi akan hadir dalam persidangan kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang, Selasa (27/1/2026).

"Ya, hadir," ujar Ahok singkat saat dikonfirmasi wartawan di Jakarta, Selasa pagi.

Ahok menjelaskan bahwa dirinya akan mengikuti persidangan sesuai jadwal pemeriksaan saksi pada pukul 08.00 WIB, sebagaimana tertuang dalam surat pemanggilan jaksa. Sebelumnya, Ahok sempat dipanggil pada Selasa (20/1), namun ia berhalangan hadir.

Dalam persidangan ini, Ahok akan memberikan keterangan sebagai saksi untuk sembilan terdakwa dalam kasus dugaan korupsi periode 2018–2023. Kasus ini menjadi sorotan publik lantaran ditaksir merugikan keuangan negara hingga mencapai Rp285,18 triliun.

Daftar sembilan terdakwa dalam perkara ini melibatkan petinggi di lingkungan Pertamina dan pihak swasta, antara lain:

  1. Muhammad Kerry Adrianto Riza (Pemilik manfaat PT Navigator Khatulistiwa).
  2. Agus Purwono (VP Feedstock Management PT KPI 2023–2024).
  3. Yoki Firnandi (Dirut PT Pertamina International Shipping 2022–2024).
  4. Gading Ramadhan Juedo (Komisaris PT Pelayaran Mahameru Kencana Abadi).
  5. Dimas Werhaspati (Komisaris PT JMN).
  6. Riva Siahaan (Dirut PT Pertamina Patra Niaga 2023).
  7. Maya Kusuma (Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga 2023).
  8. Edward Corne (VP Trading Produk Pertamina Patra Niaga 2023–2025).
  9. Sani Dinar Saifudin (Direktur Feedstock and Product Optimalization PT KPI 2022–2025).

Para terdakwa diduga melakukan perbuatan melawan hukum yang memperkaya diri sendiri atau korporasi. Berdasarkan audit, kerugian keuangan negara mencapai 2,73 miliar dolar AS dan Rp25,44 triliun. Selain itu, terdapat kerugian perekonomian negara sebesar Rp171,99 triliun, serta keuntungan ilegal sebesar 2,62 miliar dolar AS.

Secara teknis, kerugian tersebut bersumber dari pengadaan impor produk BBM dan penjualan solar nonsubsidi periode 2021-2023. Jaksa juga menyoroti adanya harga pengadaan BBM yang melebihi kuota, yang berdampak langsung pada beban ekonomi nasional.

Atas perbuatan tersebut, para terdakwa dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (Antara)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK Mensinyalir Kesthuri Jadi Pengepul Uang dari Biro-biro Haji Lalu Diberikan ke Pejabat Kemenag
• 15 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Bungkam Usai Diperiksa KPK, Gus Alex Serahkan Nasib Kasus Kuota Haji ke Penyidik
• 18 jam lalumatamata.com
thumb
Tradisi Ruwahan, Warga Cokrodiningratan Saling Berbagi Apem
• 19 jam lalutvrinews.com
thumb
Beda “Kelas” Perlakuan Bernardo Tavares: Di PSM Pernah Lelang Piala Demi Bayar Gaji, di Persebaya Surabaya Finansial Kuat dan Profesionalisme Terukur
• 17 jam laluharianfajar
thumb
Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI, Pengamat: Reshuffle Mungkin Terjadi dalam Konteks Luas
• 6 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.