Pantau - Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menegaskan bahwa hubungan antara Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) sangat penting untuk menjaga stabilitas kawasan Teluk, di tengah ketegangan terkait konflik di Yaman.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin, 26 Januari 2026, dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Polandia, Radoslaw Sikorski, di Warsawa.
"UEA telah memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari Yaman, dan saya percaya ini penting untuk kelanjutan hubungan yang kuat dengan UEA," ujar Pangeran Faisal.
Ia menambahkan bahwa "hubungan yang positif dan kuat antara Arab Saudi dan UEA sangat penting sebagai bagian fundamental dari Dewan Kerja Sama Teluk."
UEA Dituding Dukung STC, Arab Saudi Ambil Alih Wilayah PerbatasanMeskipun Pangeran Faisal menekankan pentingnya kerja sama, pernyataan tersebut muncul setelah konfrontasi serius antara Arab Saudi dan UEA terkait dinamika militer di Yaman.
Bulan sebelumnya, kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC) merebut dua provinsi penting di Yaman, yakni Hadhramaut dan Al-Mahra, yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi.
Riyadh menuding Abu Dhabi berada di balik operasi militer STC tersebut, dengan mendorong mereka untuk bergerak di sepanjang perbatasan selatan Kerajaan Saudi.
Namun, UEA secara resmi membantah tuduhan tersebut dan tidak memberikan komentar tambahan atas pernyataan terbaru dari Menteri Luar Negeri Saudi.
Sebagai tanggapan, koalisi Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi memberikan dukungan kepada pasukan pemerintah Yaman untuk merebut kembali provinsi Hadhramaut dan Al-Mahra pada awal Januari 2026.
Setelah ketegangan tersebut memuncak, Uni Emirat Arab menarik seluruh pasukannya dari wilayah Yaman, mengakhiri keterlibatan militernya di negara yang dilanda konflik tersebut.
Perpecahan ini disebut sebagai salah satu yang paling serius dalam koalisi anti-Houthi selama beberapa tahun terakhir.


