MALANG, KOMPAS-Gempa bumi dengan magnitude 5,7, sebelumnya diinformasikan M 5,5, mengguncang wilayah selatan Jawa Timur hingga Jawa Tengah, Selasa (27/1/2026) sekitar pukul 08.20 WIB. Gempa juga dirasakan beberapa wilayah di Bali.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa yang berpusat di darat, tepatnya sekitar 24 kilometer areh tenggara Pacitan dengan kedalaman 122 kilometer. Gempa tidak berpotensi tsunami.
Salah satu warga Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan, Pacitan, Eny Susilowati (39), menuturkan, guncangan gempa sempat membuat warga, termasuk dirinya panik dan keluar rumah. Sejauh ini, menurut Eny tidak ada dampak kerusakan di daerahnya.
Hanya saja, barang-barang kecil, seperti sirup dan minuman kemasan botol yang ada di rak dagangan ada yang berjatuhan. Eny sendiri merupakan salah satu pedagang di pasar setempat. “Horeg (bergetar), orang-orang pada berlarian keluar rumah,” ujarnya saat dihubungi dari Malang.
Di Trenggalek, Kepala Pelaksaana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek Stefanus Triadi Atmono menunjukkan foto aktivitas di SDN 3 Pogalan saat gempa terjadi. Beberapa guru dan siswa tampak berada di lapangan di depan sekolah.
“Sementara belum ada laporan kerusakan. Yang laporan masih genteng kantor Kecamatan Dongko bagian depan melorot. Ada tiga orang pegawai yang luka ringan akibat kejatuhan material,” ucapnya.
Beberapa warga di Malang juga merasakan guncangan. Hera Rahmawati (45), salah satu warga Singosari, yang tengah menonton televisi merasakan guncangan. Bahkan, air isi akuarium arwana berukuran 1 meter yang ada di ruang tamu ikut bergoyang. “Terasa beberapa detik,” katanya.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Malang di Karangkates, Mamuri, mengatakan, guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah, mulai dari Pacitan, Tulungagung, Karangkates (Malang) dengan intensitas III-IV MMI (dirasakan orang di dalam rumah);
Nganjuk, Ponorogo, Blitar, dengan skala III MMI (getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seolah-olah ada truk sedang melintas); hingga Denpasar, Karangasem, Jember, Kuta, dan Mojokerto dengan intensitas II-III MMI (getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seolah-olah ada truk sedang melintas).
Daerah lainnya, seperti Yogyakarta, Kulonprogo, Bantul, Semarang, dan Mataram juga merasakan guncangan dengan intensitas II MMI (dirasakan beberapa orang, benda tergantung bergoyang).
Menurut Mamuri, dengan melihat lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi di Pacitan merupakan gempa menengah akibat aktivitas deformasi batuan dalam lempeng. Hasil analisa mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik. Hingga pukul 08.35 hasil monitoring BMKG belum menunjukkan aktivitas gempa susulan.
Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop 8) 8 Surabaya menghentikan sementara perjalanan kereta api di wilayah terdampak. Hal ini dilakukan untuk memastikan kondisi sarana dan prasarana perkeretaapian pascagempa, khususnya lintas Bangil (Pasuruan)-Wlingi (Blitar).
Manajer Humas PT KAI Daop 8 Surabaya Mahendro Trang Bawono mengatakan, penghentian sementara perjalanan kereta dilakukan untuk memastikan jalur rel, jembatan, dan seluruh sarana perkeretaapian aman dan layak dilalui sebelum operasional kembali.
“Pada pukul 08.23 KAI Daop 8 segera berkoordinasi dengan unit terkait. Seluruh perjalanan kereta api di wilayah tersebut dilakukan berhenti luar biasa untuk menunggu laporan dari petugas mengenai kondisi prasarana,” ujarnya.




