Pantau - Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyatakan bahwa persepsi pasar terhadap arah kebijakan Bank Indonesia (BI) menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini mengalami tren pelemahan.
"Tren rupiah melemah sudah terjadi sejak tahun ini dan berpotensi semakin memburuk di bulan-bulan mendatang. Faktor paling krusial yang perlu diantisipasi adalah stabilitas fiskal dan kebijakan moneter yang semakin didominasi oleh kepentingan fiskal (fiscal dominance)", ungkapnya.
Ia menyoroti bahwa salah satu risiko utama yang harus diwaspadai ke depan adalah potensi melemahnya independensi kebijakan moneter akibat tekanan fiskal.
Deputi Gubernur BI Baru Diuji, Sentimen Pasar Dinilai TemporerTerkait dengan pengangkatan Deputi Gubernur BI yang baru, Thomas Djiwandono, Wijayanto menilai bahwa Thomas perlu segera menunjukkan kapasitas dan integritasnya untuk meredam kekhawatiran pasar atas independensi BI.
"Sifat sentimen yang muncul menurut hemat saya temporer saja. Ia (Thomas) harus membuktikan kapasitasnya, dan memastikan kehadirannya tidak semakin memperburuk imej BI terkait independensi", tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar pelemahan rupiah tidak hanya dilihat dalam konteks perbandingan terhadap dolar AS saja, mengingat mata uang Amerika tersebut juga mengalami tekanan global.
"Dalam satu tahun terakhir, dolar AS melemah hampir 10 persen terhadap tujuh mata uang utama dunia", jelasnya.
Jika nilai rupiah dibandingkan dengan basket currency tersebut, depresiasi rupiah mencapai hampir 14 persen.
"Ini kondisi yang tidak boleh dianggap enteng", ia menambahkan.
Komitmen BI Direspons Positif Pasar, Rupiah Sempat MenguatMeski tren jangka menengah masih melemah, nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa, tercatat menguat tipis 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.780 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.782.
Sehari sebelumnya, pada penutupan perdagangan Senin sore, rupiah juga menguat 38 poin atau 0,23 persen dari Rp16.820 menjadi Rp16.782 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan ini disebabkan oleh respons positif pasar terhadap sikap aktif BI.
"Pasar mendukung komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah yang memberikan sentimen positif, dengan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot", ujarnya.



