Bisnis.com, BATAM - Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau mendorong masyarakat menjadikan pasar modal sebagai bagian dari resolusi finansial awal tahun 2026, seiring tantangan ekonomi yang kian kompleks dan tingginya risiko inflasi terhadap nilai tabungan.
Perwakilan BEI Kepulauan Riau Aurelia mengatakan bahwa pengelolaan keuangan tidak lagi cukup hanya mengandalkan kebiasaan menabung. Inflasi yang terus menggerus daya beli membuat masyarakat perlu mengelola aset secara lebih produktif dan terencana.
"Resolusi finansial awal tahun perlu diarahkan pada pengelolaan keuangan yang mampu menjaga dan meningkatkan nilai aset dalam jangka panjang. Pasar modal menjadi salah satu instrumen yang relevan untuk tujuan tersebut," kata Aurelia belum lama ini.
Menurutnya, pasar modal menawarkan beragam pilihan instrumen investasi yang dapat disesuaikan dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan jangka waktu masing-masing individu, mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang.
"Selain memberikan potensi imbal hasil di atas inflasi, investasi di pasar modal juga berperan dalam mendukung pertumbuhan perusahaan nasional dan memperkuat fondasi perekonomian Indonesia," kata dia.
Aurelia menekankan, investasi di pasar modal bukan sarana mencari keuntungan instan atau aktivitas spekulatif. Dibutuhkan perencanaan yang matang, pemahaman yang memadai, serta kedisiplinan agar investasi dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga
- Pasar Industri Cukup Tinggi, Produk BBM B40 Performance Masuk Sumbagsel
- Harga TBS Sawit Sumut Hari Ini (26/1) Tembus Rp3.517 per Kg
- OJK Dukung Bank Sumsel Babel Jadi Regional Champion
"Setiap keputusan investasi harus didasarkan pada tujuan keuangan yang jelas, pemahaman risiko, dan jangka waktu investasi. Dengan pendekatan ini, pasar modal akan menjadi alat pengelolaan keuangan yang rasional, bukan sumber kecemasan," ucap dia.
Memasuki 2026, tantangan ekonomi global dan domestik diperkirakan masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik, percepatan teknologi, serta transformasi industri.
Namun, kondisi tersebut juga membuka peluang bagi investor untuk menempatkan dana pada perusahaan yang inovatif, resilien, dan memiliki prospek pertumbuhan berkelanjutan.
Dalam mendukung realisasi resolusi finansial masyarakat, BEI terus memperkuat program literasi dan inklusi pasar modal.
Sepanjang 2025, BEI telah menyelenggarakan 29.474 kegiatan literasi, inklusi, dan aktivasi secara luring dan webinar yang diikuti 2.820.702 peserta.
Selain itu, terdapat 17.575 kegiatan edukasi pasar modal virtual melalui media sosial dengan jangkauan lebih dari 24,09 juta peserta di berbagai wilayah Indonesia. Program edukasi ini juga memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.
"Literasi keuangan menjadi fondasi utama agar masyarakat dapat berinvestasi secara bijak, memahami legalitas produk, serta terhindar dari penawaran investasi yang tidak masuk akal," ujar Aurelia.
Aurelia menambahkan, membuka rekening efek melalui perusahaan sekuritas juga menjadi langkah awal penting bagi calon investor untuk mendapatkan pendampingan dan informasi pasar yang sesuai dengan karakter dan tujuan investasi masing-masing.
"Pada akhirnya, membangun keuangan yang sehat adalah proses jangka panjang. Dengan memanfaatkan pasar modal secara bijak, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk membangun ketahanan finansial yang berkelanjutan," tutupnya.





