Dugaan kebocoran informasi sensitif terkait program senjata nuklir China menjadi sorotan utama dalam penyelidikan terhadap elite militer Beijing. Laporan The Wall Street Journal (WSJ) pada Minggu (25/1) menyebut Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia diduga membocorkan data strategis nuklir China kepada Amerika Serikat (AS).
Zhang, perwira berpangkat tertinggi kedua dalam struktur pertahanan nasional China tepat di bawah Presiden Xi Jinping, juga dituding menerima suap untuk kepentingan tertentu, termasuk membantu promosi seorang perwira hingga menduduki jabatan menteri pertahanan.
Kementerian Pertahanan China pada Sabtu (24/1) secara resmi mengumumkan dimulainya investigasi terhadap Zhang Youxia dan seorang pejabat militer senior lainnya, Liu Zhenli. Dalam pernyataan resmi, keduanya disebut diduga melakukan pelanggaran disiplin dan hukum yang serius.
“Setelah dilakukan peninjauan, diputuskan untuk memulai penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan China dalam rilis resmi.
Menurut laporan WSJ yang dikutip kantor berita Kyodo, pengungkapan tuduhan terhadap Zhang disampaikan dalam sebuah pengarahan tertutup yang dihadiri jajaran tertinggi militer China. Dalam pengarahan itu, isu kebocoran informasi strategis menjadi salah satu poin paling sensitif yang dibahas.
WSJ melaporkan, indikasi kebocoran data teknis inti terkait senjata nuklir China terungkap dari penyelidikan terhadap mantan pejabat senior China National Nuclear Corporation, perusahaan raksasa milik negara yang bergerak di sektor nuklir. Namun, rincian teknis mengenai pelanggaran keamanan tersebut tidak diungkap secara terbuka.
Kasus Zhang juga dikaitkan dengan perannya dalam mendorong promosi mantan Menteri Pertahanan Li Shangfu. Promosi itu disebut-sebut terjadi dengan imbalan suap dalam jumlah besar, yang kemudian menyeret Li ke dalam pusaran skandal korupsi militer.
Surat kabar resmi militer China, PLA Daily, dalam editorialnya menyebut Zhang Youxia dan Liu Zhenli telah “mengkhianati kepercayaan besar” yang diberikan Partai Komunis serta “merusak sistem tanggung jawab tertinggi yang berada di tangan ketua CMC,” merujuk pada loyalitas kepada Presiden Xi Jinping.
Di luar China, Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo menyatakan Taipei tengah memantau secara ketat perubahan “abnormal” dalam jajaran kepemimpinan militer China, menyusul penyelidikan terhadap jenderal top Beijing.
Ia menegaskan Taiwan akan terus memperkuat pertahanan dan berbagi intelijen dengan mitra regional, karena tingkat ancaman dari China dinilai masih tinggi.



