Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Putra Nababan, mendesak Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk berani menetapkan angka pasti terkait target utilisasi industri nasional pada tahun 2026. Desakan tersebut direspon positif oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dengan menyepakati angka psikologis sebesar 70 persen.
Dalam rapat kerja di Gedung DPR RI, pada Senin 26 Januari 2026, Putra Nababan menyoroti rendahnya angka utilisasi industri pengolahan nonmigas pada tahun lalu yang hanya mencapai 61,89 persen. Menurutnya, kondisi ini merupakan sinyal bahaya bagi ketahanan industri dalam negeri.
“Saudara menteri, tahun lalu utilisasi industri pengolahan nonmigas hanya 61,89%, di bawah angka psikologi yakni 70%. Kami bisa menduga, banyak mesin-mesin di pabrik yang tidak digunakan untuk berproduksi. Buat kami, ini seperti ‘lampu kuning’ untuk industri nasional kita,” ujar Putra dalam rapat tersebut.
Putra menekankan bahwa penetapan target yang jelas sangat krusial untuk menahan laju impor yang berlebihan serta memastikan mesin-mesin produksi dalam negeri kembali beroperasi maksimal.
"Saya justru meminta Saudara Menteri untuk bisa menetapkan target utilisasi untuk 2026 meskipun variabelnya banyak. Kalau punya target, artinya ada yang mau dicapai, termasuk bagaimana mengunci keran-keran impor supaya mesin-mesin produksi kita bergerak," tegas Putra.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan persetujuannya. Ia mengakui bahwa angka 70 persen merupakan target ideal yang ingin dicapai pemerintah, namun membutuhkan sinergi lintas sektoral.
"70 persen sangat sepakat sekali, memang itu angka psikologis. Kita menginginkan number 70, kalau boleh minta (dicatat) didukung oleh Kementerian/Lembaga lain," jawab Menperin Agus Gumiwang.
Berdasarkan interaksi tersebut, pimpinan rapat mengetok palu kesepakatan bahwa Komisi VII dan Kementerian Perindustrian sepakat meningkatkan target utilisasi industri Tahun Anggaran 2026 sebesar 70 persen.
Putra Nababan juga memberikan catatan kritis mengenai ketimpangan antara tingginya realisasi investasi tahun 2025 yang mencapai Rp 552 triliun dengan rendahnya utilitas produksi. Ia mengusulkan peningkatan target dari 61 persen menjadi 70 persen demi mendorong penyerapan tenaga kerja di sektor padat karya.
"Angka psikologisnya 70 persen utilisasi. Saya khawatir PDB bagus, investasi luar biasa, tapi utilisasinya (rendah). Mesin di pabrik harus didorong bisa bergerak lagi, banyak pekerja bisa bekerja," ujar legislator PDI Perjuangan tersebut.
Selain isu utilisasi, Putra juga menyoroti minimnya dukungan perbankan, khususnya Bank Himbara, terhadap industri kecil. Ia menyayangkan adanya bank milik pemerintah yang belum menetapkan target debitur untuk sektor industri kecil.
"Kok berani-beraninya masih ada bank pemerintah yang belum menetapkan jumlah target debiturnya. Padahal ini program kredit untuk industri kecil. Bagaimana mungkin rapat ditutup kalau masih nol. Jangan yang begini dibiarkan ibu pimpinan rapat, Pak Menteri perlu memberikan pengawasan," pungkas Putra.
Editor: Redaktur TVRINews





