JAKARTA, KOMPAS — Sehari setelah terpilihnya Thomas Djiwandono terpilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka dan bergerak di zona merah, Selasa (27/1/2026). Ini adalah dinamika pada perdagangan pagi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah setelah dibuka di level 8.974 pada perdagangan Selasa ini. Data RTI Business sampai pukul 10.30 WIB menunjukkan, IHSG turun sekitar 50 poin atau 0,6 persen ke level 8.920.
Tekanan tersebut terjadi seiring dominasi saham yang melemah. Sebanyak 424 saham melemah, 226 saham menguat, dan 149 saham stagnan. Dalam sepekan terakhir, IHSG melemah setelah mencetak rekor di atas 9.100 dengan tekanan jual bersih asing sekitar Rp 2 triliun.
Tekanan pada IHSG salah satunya sangat dipengaruhi oleh sentimen terhadap institusi kebijakan, terutama Bank Indonesia (BI).
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai, tekanan pada IHSG salah satunya sangat dipengaruhi oleh sentimen terhadap institusi kebijakan, terutama Bank Indonesia (BI).
"IHSG saat ini menunjukkan koreksi setelah tekanan jual asing masih mendominasi. Meskipun saham komoditas sempat menjadi penopang indeks, sentimen terhadap kebijakan moneter dan independensi BI tetap menjadi kunci untuk meredam aksi jual asing,” ujar Rully.
Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono, terpilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Hal ini diputuskan dalam rapat internal Komisi XI DPR RI terkait uji kelayakan dan kepatutan atas tiga kandidat di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, pada Senin (26/1/2026).
Thomas mengalahkan dua kandidat lain yang berasal dari internal BI. Mereka adalah Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Dicky Kartikoyono dan Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Solikin M Juhro. Thomas menggantikan Juda Agung yang telah mengundurkan diri sebelumnya.
Dinamika politik di Senayan ini menjadi perhatian pelaku pasar. Di satu sisi, Thomas yang masih menjabat sebagai wakil menteri keuangan itu dipersepsikan bisa memperkuat koordinasi fiskal–moneter.
Namun di sisi lain, dia adalah keponakan Presiden Prabowo Subianto sekaligus kader Partai Gerindra. Kedua aspek ini memberi sinyal penting bagi pasar.
Rully menambahkan, posisi indeks yang turun sejak pagi mencerminkan pasar masih berada dalam fase wait and see, terutama menjelang rilis data ekonomi dan kebijakan moneter berikutnya.
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, berpendapat bahwa penunjukan Thomas sebagai Deputi Gubernur BI tidak direspon negatif oleh pasar. Alasannya, hal ini tidak akan merubah arah kebijakan moneter secara fundamental.
"Keberlanjutan kebijakan BI masih dianggap terjaga, sehingga sentimen ke IHSG lebih netral mengenai dampak penunjukan ini," ujarnya kepada Kompas.
Pemerintah berpotensi meningkatkan penerbitan bruto Surat Berharga Negara (SBN), dari Rp 1.600 triliun menjadi Rp1.750 triliun karena anggaran terbatas.
Dari pasar surat utang atau obligasi, Analis Mirae Asset, Jessica Tasijawa, menyoroti tantangan fiskal ke depan. Pemerintah berpotensi meningkatkan penerbitan bruto Surat Berharga Negara (SBN), dari Rp 1.600 triliun menjadi Rp1.750 triliun karena anggaran terbatas.
Anggaran belanja pemerintah 2026 menggelembung 11 persen dari APBN 2025. Sementara, penerimaan negara masih terbatas.
Pemerintah juga menyiapkan skema Devisa Hasil Ekspor (DHE) melalui SBN valas untuk menopang likuiditas dolar AS dan stabilitas nilai tukar, meski besarnya pasokan menuntut kredibilitas kebijakan serta koordinasi erat antara BI dan Kementerian Keuangan.
Apalagi, saat ini kepemilikan asing atas SBN turun ke rekor terendah, 13,2 persen. Meski demikian, imbal hasil SBN tenor 10 tahun justru turun ke 6,33 persen, seiring penguatan rupiah ke Rp 16.777 per dolar AS dan pelemahan indeks dolar (DXY) ke level 97.
Di pasar global, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun ke 4,2 persen. Ini menjaga spread INDOGB–UST relatif stabil di kisaran 210 basis poin.
Dari sisi global, likuiditas pasar meningkat di tengah posisi investor yang masih berhati-hati. Sentimen kembali tertekan oleh meningkatnya retorika proteksionisme AS. Hal ini muncul setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menerapkan tarif hingga 100 persen terhadap barang dari Kanada jika Ottawa melanjutkan kerja sama dagang dengan China.
Situasi mutakhir ini semakin memperparah fragmentasi perdagangan global, risiko pembalasan, serta volatilitas aset.
Kami tetap merekomendasikan obligasi tenor pendek hingga menengah untuk menyeimbangkan risiko volatilitas dan imbal hasil.
Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi dan permintaan aset safe haven yang kuat—dengan harga emas menembus 5.000 dolar AS per troy ounce—Jessica Tasijawa menegaskan, strategi defensif tetap relevan.
“Kami tetap merekomendasikan obligasi tenor pendek hingga menengah untuk menyeimbangkan risiko volatilitas dan imbal hasil,” ujarnya.



