Bisnis.com, JAKARTA — Uni Eropa (UE) dan India telah merampungkan perundingan kesepakatan dagang strategis. Kesepakatan itu merupakan upaya kedua pihak mempererat hubungan ekonomi sekaligus mengantisipasi dampak tarif yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Melansir Bloomberg, kesepakatan dagang itu disebut akan diumumkan pada Selasa (27/1/2026) waktu setempat. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa hadir di New Delhi untuk menandai tercapainya kesepakatan tersebut, yang sekaligus menutup hampir dua dekade proses negosiasi.
Kesepakatan tersebut akan memangkas tarif atas sebagian besar barang konsumsi dan industri yang diperdagangkan antara India dan negara-negara anggota UE, meski sejumlah produk pertanian diperkirakan dikecualikan.
Selain itu, Uni Eropa juga akan memperoleh akses pasar yang lebih luas untuk ekspor mobil, meskipun dibatasi oleh kuota tertentu.
Perjanjian ini diperkirakan akan ditandatangani secara resmi setelah melalui proses penelaahan hukum yang diproyeksikan memakan waktu sekitar enam bulan. Parlemen Eropa juga masih harus memberikan ratifikasi.
Rampungnya perundingan setelah bertahun-tahun berjalan tersendat mencerminkan cepatnya pergeseran peta aliansi global di bawah kepemimpinan Trump. Uni Eropa, yang selama ini kerap berselisih dengan India dalam isu perdagangan, kini berupaya mengurangi ketergantungan ekonominya terhadap AS dan China.
Di sisi lain, India tengah berusaha mengikis citra proteksionisnya serta meredam dampak tarif Trump yang mencapai 50%, sembari tetap menyeimbangkan hubungannya dengan Rusia.
“Negara-negara kini semakin bersedia mengubur perbedaan di tengah atmosfer ketidakpastian kebijakan Trump,” ujar Amitendu Palit, peneliti utama bidang perdagangan dan ekonomi di Institute of South Asian Studies.
Menurutnya, diversifikasi menjadi kebutuhan mutlak dalam lanskap global saat ini.
Pengumuman kesepakatan ini juga datang hanya beberapa hari setelah Uni Eropa merampungkan perjanjian dagang terpisah dengan blok Mercosur di Amerika Selatan. Kesepakatan tersebut, yang juga bertujuan mengalihkan orientasi UE dari AS dan China, masih menunggu ratifikasi parlemen Eropa.
Perdana Menteri India Narendra Modi pun aktif mencari pasar baru bagi negaranya, yang pernah dijuluki Trump sebagai “raja tarif.” Kesepakatan dengan UE ini menjadi perjanjian dagang keempat yang diteken Modi sejak Mei tahun lalu, setelah kesepakatan dengan Inggris, Oman, dan Selandia Baru.
Ke depan, India juga membidik kerja sama dengan Mercosur, Chile, Peru, serta Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) guna mengamankan sumber daya strategis dan memperluas jejak globalnya.





