Juara Pertama
Pada acara wisuda, kepala sekolah mengumumkan nama siswa peraih peringkat pertama dan memintanya naik ke panggung untuk menerima penghargaan. Namun setelah dipanggil berkali-kali, barulah siswa itu perlahan naik ke panggung.
Seusai acara, guru bertanya kepadanya: “Ada apa? Kamu sakit? Atau tadi tidak mendengar namamu dipanggil?”
Siswa itu menjawab : “Bukan begitu. Saya hanya khawatir teman-teman yang lain belum mendengarnya dengan jelas.”
Hikmah:
Nama dan keuntungan pribadi telah mengikat begitu banyak orang, menjadi beban di hati banyak manusia. Kita dididik untuk berprestasi dan menonjol, tetapi kenyataannya, hanya sedikit orang yang bisa berada di puncak. Mayoritas tetaplah orang-orang biasa yang diam.
Jika dipikirkan kembali, bukankah menyadari bahwa begitu banyak orang hidup sama seperti kita—tanpa harus selalu menjadi yang pertama—justru sesuatu yang patut disyukuri?
Alasan yang Sangat Kuat
Sebuah bus penuh penumpang melaju kencang menuruni jalan menurun. Di belakangnya, seseorang berlari sekuat tenaga mengejar bus itu.
Seorang penumpang menjulurkan kepala dari jendela dan berkata : “Mas, sudahlah! Kamu tidak akan bisa mengejarnya!”
Orang yang berlari sambil terengah-engah menjawab: “Aku harus mengejarnya… karena akulah sopir bus itu!”
Hikmah:
Ada orang-orang yang harus berusaha mati-matian, karena jika tidak, akibatnya bisa sangat fatal. Namun justru karena harus mengerahkan seluruh kemampuan, potensi tersembunyi dan kemampuan yang tak disadari akan muncul sepenuhnya.
Oh, Ternyata Begitu
A: “Tetangga baru itu benar-benar menyebalkan. Tadi malam, saat tengah malam dan suasana sudah sangat sepi, dia tiba-tiba datang menekan bel rumahku berkali-kali!”
B: “Benar-benar keterlaluan! Kamu lapor polisi, tidak?”
A: “Tidak. Aku menganggap mereka orang gila, lalu aku terus meniup terompet kecilku.”
Hikmah:
Setiap kejadian pasti ada sebabnya. Jika kita mau lebih dulu melihat kesalahan diri sendiri, jawabannya bisa menjadi sangat berbeda.
Saat menghadapi konflik dan pertengkaran, cobalah bertanya pada diri sendiri apakah ada kesalahan di hati kita—mungkin dengan begitu, kita bisa lebih cepat berdamai.
Salah Paham
Suatu hari, Zhang San sedang mengemudi di jalan pegunungan sambil menikmati pemandangan indah. Tiba-tiba, sebuah truk datang dari arah berlawanan.
Sopirnya menurunkan kaca jendela dan berteriak: “Babi!”
Zhang San makin heran dan makin kesal. Dia pun menurunkan kaca jendela dan membalas : “Kamulah yang babi!”
Belum lama setelah itu, mobil Zhang San menabrak segerombolan babi yang sedang menyeberang jalan.
Hikmah:
Jangan salah menafsirkan niat baik orang lain. Itu hanya akan merugikan diri sendiri dan melukai orang lain.
Sebelum memahami situasi yang sebenarnya, belajarlah menahan emosi dan mengamati dengan sabar, agar tidak menyesal di kemudian hari.
Generasi Muda Patut Diperhitungkan
Seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya : “Apakah ayah selalu lebih tahu daripada anak?”
Ayah menjawab: “Tentu saja.”
Anak itu bertanya lagi : “Siapa yang menemukan lampu listrik?”
Ayah menjawab : “Edison.”
Anak itu kembali bertanya : “Kalau begitu, kenapa ayahnya Edison tidak menemukan lampu listrik?”
Hikmah:
Aneh tapi nyata—orang yang suka merasa paling senior justru sering terjatuh. Otoritas sering kali hanyalah cangkang kosong yang rapuh, apalagi di zaman yang terbuka dan beragam seperti sekarang.
Tak Perlu Tegang
Xiao Ming tidak sengaja menelan sedikit sabun saat mandi. Ibunya panik dan segera menelepon dokter keluarga.
Dokter berkata: “Saya masih menangani beberapa pasien. Mungkin baru bisa datang setengah jam lagi.”
Ibu Xiao Ming bertanya : “Sebelum dokter datang, apa yang harus saya lakukan?”
Dokter menjawab: “Beri Xiao Ming segelas air putih, lalu suruh dia melompat-lompat. Dengan begitu, dia bisa meniup gelembung sabun dari mulutnya untuk mengisi waktu.”
Hikmah:
Take it easy! Santai saja—hidup tidak perlu terlalu tegang. Jika sesuatu sudah terjadi, hadapilah dengan tenang. Mengkhawatirkan tidak ada gunanya, tegang terus lebih buruk daripada bersikap ceria.
Kunci
Sebuah gembok besar dan kokoh tergantung di pintu. Sebatang besi mencoba mencongkelnya dengan sekuat tenaga, tetapi tetap tidak bisa membukanya.
Datanglah sebuah kunci kecil. Tubuhnya ramping, masuk ke lubang kunci, diputar pelan, dan klik!—gembok pun terbuka.
Besi bertanya heran: “Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tapi tetap tidak bisa membukanya. Mengapa kamu bisa begitu mudah?”
Kunci menjawab: “Karena aku paling memahami hatinya.”
Hikmah:
Hati setiap orang ibarat pintu yang terkunci. Besi sekuat apa pun tidak akan mampu membukanya. Hanya kepedulian yang bisa menjadikan kita sebuah kunci halus—mampu masuk ke hati orang lain dan memahami mereka.
Renungan
Di dalam lelucon sering tersembunyi kebijaksanaan hidup. Jika kita mau melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, kita akan menemukan makna dan kesenangan yang berbeda pula.(jhn/yn)





