Pemprov DKI menyampaikan solusi yang mereka siapkan untuk melindungi kesehatan korban banjir, khususnya di Jakarta Utara. Termasuk antisipasi risiko penyakit kencing tikus atau leptospirosis akibat genangan air.
Penyakit leptospirosis disebabkan oleh bakteri leptospira yang disebarkan melalui urine (air kencing) hewan yang terinfeksi, terutama tikus. Di Indonesia, penyakit ini biasanya melonjak saat musim hujan atau banjir.
Adapun gejalanya: demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot betis, mata merah, mual, serta kulit atau mata menguning pada kasus yang lebih parah.
Terkait antisipasi penyakit leptospirosis , Wali Kota Jakarta Utara, Hendra Hidayat, menjelaskan bahwa pemerintah wilayah telah bergerak melakukan langkah pencegahan di permukiman warga yang terdampak banjir.
Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan fasilitas layanan kesehatan tingkat kelurahan dan kecamatan.
“Untuk warga kami yang tergenang, setelah pascabanjir itu, kami sudah langsung berkoordinasi dengan Puskesmas Kelurahan dan Puskesmas Kecamatan untuk memberikan karbol. Pada saat mereka bersih-bersih, kita siram karbol semuanya. Itu untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Hendra saat mendampingi Gubernur DKI Pramono Anung meninjau proses normalisasi Kali Cakung Lama Rawa Indah, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (27/1).
Belum Ditemukan KasusDalam agenda terpisah Pramono kembali menyinggung isu kencing tikus dan layanan kesehatan bagi warga terdampak banjir. Ia menyatakan hingga saat ini belum ditemukan kasus kencing tikus di Jakarta.
“Termasuk pertanyaan tadi yang tadi pagi sebelumnya mengenai kencing tikus. Jadi saya terngiang-ngiang dengan kencing tikus, dan itu ternyata di Jakarta belum ada. Kalau ada, kami pasti akan secara preventif melakukan pencegahan terhadap itu,” ujar Pramono dalam acara grand opening Primaya Hospital Cakung, Jakarta Timur, Selasa (27/1).
Pramono juga menegaskan bahwa seluruh layanan kesehatan bagi korban banjir di Jakarta diberikan secara gratis, termasuk bagi warga yang kehilangan dokumen atau tidak memiliki BPJS Kesehatan.
“Kalau di Jakarta semuanya gratis karena semuanya bisa diurus. Ini di puskesmas yang kita lihat, puskesmas yang ada di Jakarta 44, kemudian pembantu puskesmas ada 292, dan rumah sakit juga 31. Semuanya kalau ada korban terdampak banjir maka kami gratiskan,” jelasnya.




