FAJAR, BARRU – Pembangunan Sekolah Rakyat senilai Rp240 miliar di Desa Lawallu Kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru mulai jalan.
Namun, hal tersebut mendapat protes dari pengurus BUMDES Lawallu. Mereka merasa tak dilibatkan dalam proyek yang dikerjakan PT Waskita Karya tersebut.
Ketua BUMDES Lawallu, M Rahmat menuturkan sejak mega proyek PT Waskita Karya dikerja, pihaknya hanya jadi penonton di Desa sendiri.
Padahal, kata dia BUMDES Lawallu siap bekerja dan bekerjasama dengan pelaksana kegiatan PT Waskita Karya.
“Kalo mau jujur banyak hal yang bisa kami lakukan pada kegiatan tersebut, sebab BUMDES juga berorientasi profit untuk kepentingan masyarakat dan Pemdes Lawallu,” terangnya.
“Yang jadi pertanyaan disini ketika kita hendak berkolaborasi dengan memasukkan penawaran ke perusahaan pelaksana kegiatan, namun sepertinya masih ada tembok yang tidak bisa kami tembus sebab beberapa bulan lalu penawaran BUMDES masuk sampai sekarang tidak ada respon sehingga kami sekarang jadi penonton saja,” lanjut dia.
Menurut dia, BUMDES Lawallu sangat siap dan punya legalitas segala bentuk dokumen kelengkapan guna kerja sama seperti suplai material lokal dan bahan bangunan lainnya.
“Kami melihat situasi dan kondisi pelaksana dan kami juga pahami bahwa perusahaan nasional BUMN seperti itu tentu punya mekanisme, tapi minimal BUMdes Lawallu dapat diberdayakan agar punya kegiatan dan mendapat nilai dari kegiatan pembangunan sekolah rakyat tersebut,” tutup Rahmat.
Sementara itu hingga berita ini diterbitkan Pimpinan Kegiatan Pembangunan Sekolah Rakyat PT Waskita Karya di Desa Lawallu yang coba di konfirmasi terkait hal ini belum berhasil ditemui.(mrl)




