Beberapa tahun terakhir, susu fermentasi semakin sering hadir di rumah tangga. Kadang dibeli karena rekomendasi tenaga kesehatan, kadang karena cerita teman, kadang pula karena anak merasa "lebih enak di perut". Tidak selalu ada alasan ilmiah yang rumit dibaliknya, namun lebih sering karena pengalaman sehari-hari. Dari sini, muncul pertanyaan sederhana: apakah susu fermentasi hanya bagian dari tren hidup sehat, atau memang menjadi kebutuhan di tengah cara hidup kita hari ini?
Ketika Tubuh Mulai "Bersuara"Gaya hidup modern sering kali menuntut banyak hal dari tubuh, terutama dari sistem pencernaan. Pola makan yang tidak teratur, makanan praktis, dan tingkat stres yang tinggi membuat tubuh memberi sinyal (tidak selalu berupa rasa sakit, tetapi rasa tidak nyaman yang berulang). Pada titik ini, banyak orang mulai lebih peka terhadap apa yang mereka konsumsi.
Susu fermentasi masuk sebagai pilihan yang dirasakan lebih ringan. Bukan karena labelnya, tetapi karena tubuh merespons dengan lebih baik. Dalam pengalaman sehari-hari, rasa "cocok" sering kali menjadi alasan utama seseorang bertahan pada suatu pangan.
Produk Lama dengan Cerita BaruAda hal menarik yang terjadi di mana susu fermentasi sering dianggap sebagai inovasi modern, padahal praktik fermentasi susu sudah lama dikenal. Di berbagai daerah di Indonesia, produk seperti dadih telah menjadi bagian dari budaya makan yang dikonsumsi apa adanya, tanpa klaim kesehatan berlebihan.
Yang berubah adalah narasinya. Ketika produk yang sama masuk ke ruang urban dengan kemasan modern dan istilah ilmiah, maknanya ikut bergeser. Ia tidak lagi sekadar makanan, tetapi simbol kepedulian terhadap kesehatan. Perubahan ini tidak sepenuhnya salah, namun hanya menunjukkan bagaimana konteks sosial membentuk cara kita memandang pangan.
Mengapa Susu Fermentasi Terasa Lebih "Ramah"?Secara sederhana, proses fermentasi mengubah karakter susu. Kandungan tertentu menjadi lebih mudah dicerna, dan mikroorganisme baik berperan dalam keseimbangan saluran cerna. Namun, di luar penjelasan ilmiah, ada faktor lain yang sering diabaikan: pengalaman konsumen.
Banyak orang (termasuk anak-anak) merasa lebih nyaman setelah mengonsumsi susu fermentasi. Pengalaman ini kemudian diperkuat oleh cerita sesama konsumen, membentuk rasa percaya. Dalam praktiknya, kepercayaan inilah yang membuat suatu pangan bertahan dalam kebiasaan makan keluarga.
Tren yang Menjawab KebutuhanTidak bisa dimungkiri, tren berperan dalam memperkenalkan susu fermentasi ke khalayak luas. Namun, tren saja tidak cukup. Jika tubuh tidak merespons dengan baik, produk ditinggalkan. Dalam hal ini, susu fermentasi berada di persimpangan: ia dipopulerkan oleh tren, tetapi dipertahankan oleh kebutuhan nyata.
Fenomena ini juga terlihat pada meningkatnya minat terhadap yogurt lokal, susu kambing fermentasi, dan produk fermentasi rumahan. Ada keinginan untuk kembali pada pangan yang terasa lebih dekat, lebih dipahami, dan tidak berjarak dengan keseharian.
Catatan Kecil dari Sudut Pandang PanganDalam kacamata pangan, penting sekali untuk menempatkan susu fermentasi secara proposional. Ia bukan pangan ajain, dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan pola makan seimbangan. Kandungan gula, jumlah konsumsi,dan konteks diet tetap perlu diperhatikan.
Kearifan lokal sebenarnya telah lama mengajarkan hal ini: fermentasi digunakan untuk meningkatkan daya simpan, kenyamanan konsumsi, dan nilai guna pangan (bukan untuk menjanjikan kesehatan instan).
PenutupSusu fermentasi memberi kita pelajaran sederhana tentang hubungan manusia dengan pangan. Bahwa pilihan makan sering kali tidak berangka dari teori, tetapi dari tubuh, pengalaman, dan keseharian. Di tengah hiruk-pikuk klaim kesehatan, mungkin yang paling relevan adalah kembali mendengarkan tubuh sendiri.
Apakah ia tren atau kebutuhan? Bisa jadi keduanya. Yang jelas, susu fermentasi mencerminkan upaya masyarakat modern untuk hidup lebih selaras (tidak sempurna, tetapi lebih sadar).

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F27%2F5e865ab497f5e05ce21575e13cb063e7-1001978121.jpg)