KUPANG, KOMPAS - Semua korban longsor di Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, telah ditemukan tim SAR gabungan. Tiga orang tewas dalam peristiwa ini. Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) pun ditutup.
"Akhirnya tim SAR gabungan telah menemukan korban terakhir. Kami juga mengumumkan bahwa dengan ini operasi SAR kami akhiri," kata Kepala Kantor SAR Maumere Fathur Rahman lewat sambungan telepon pada Selasa (27/1/2025).
Fathur menyampaikan apresiasi atas keterlibatan berbagai pihak dalam operasi SAR gabungan. Ada Polri, TNI, badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), serta masyarakat setempat. Ia menyebut, kerja sama itu berjalan dengan baik.
Tim bahu membahu melakukan pencarian hingga hari keenam. Mereka menggunakan alat seadanya seperti cangkul, sekop, dan linggis. Ekskavator yang diharapkan membantu proses pencarian pun baru tiba menjelang operasi SAR ditutup.
Fathur mengingatkan masyarakat setempat dan di daerah lainnya agar waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Hujan dengan intensitas lebat dan angin kencang berpotensi menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor.
Seperti diberitakan sebelumnya, longsor yang terjadi pada Kamis (22/1/2026) itu dipicu oleh cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi. Longsoran tanah menimpa rumah warga atas nama Kongradus Lasa. Beberapa orang berada di dalam rumah tersebut.
Selain itu, 227 warga lain kini terancam. Mereka sudah dievakuasi. Namun, mereka diingatkan bahwa di permukiman desa itu terdapat banyak titik rawan longsor. Topografi berupa perbukitan. Alih fungsi lahan diduga menjadi penyebab longsor.
Serial Artikel
Longsor di Manggarai Timur, Satu Tewas dan Dua Hilang
Bibit siklon tropis 91S terpantau di selatan wilayah NTT dan NTB. Hal itu ikut memicu terjadinya cuaca ekstrem yang rawan memakan korban jiwa.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Sti Nenot'ek mengatakan, cuaca ekstrem itu dipicu pergerakan Bibit Siklon Tropis 91S di selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Sisi barat wilayah NTT, seperti Manggarai Timur, terdampak bibit siklon tersebut.
Di wilayah itu terbentuk belokan, pertemuan, dan perlambatan kecepatan angin. Akibatnya, hujan deras disertai petir dan angin kencang terjadi dalam durasi singkat. Bencana hidrometeorologi pun mengintai.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar tidak melaut di tengah kondisi cuaca buruk. SAR Maumere juga melaporkan, kini mereka mencari dua nelayan yang hilang di perairan Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka.
Dua nelayan itu dilaporkan tengah pergi mencari ikan rumpon atau rumah ikan buatan yang berjarak lebih kurang 5 mil laut atau 9,2 kilometer dari pinggir pantai. Setiba di sana, baling-baling perahu motor mereka rusak.
Korban sempat melapor kepada keluarga lewat telepon. Selepas itu, korban tidak bisa lagi dihubungi. Dua korban dimaksud adalah Anwar Mahmud (35) dan Norisius Sapa (31). Proses pencarian masih berlangsung di tengah angin kencang yang menerjang daerah itu.
Secara terpisah, Mansyur Dokeng, Ketua Kelompok Nelayan di Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, mengatakan, sudah lebih dari tiga pekan nelayan tidak melaut lantaran gelombang tinggi. "Mereka yang terpaksa melaut itu karena terdesak kebutuhan," ujarnya.
Menurut dia, banyak nelayan terjerat utang pada koperasi harian dengan bunga tinggi. Bisa sampai sepuluh persen. Setiap hari mereka harus mengangsur dan terancam denda jika terlambat membayar.
Serial Artikel
Siasat Bertahan Kala Iklim Berubah
Berbagai siasat dilakukan untuk bertahan di tengah iklim yang berubah. Masyarakat diingatkan agar bergerak lewat berbagai aksi.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483514/original/097201700_1769396724-Longsor_Cimahi_Bandung_Barat4.jpg)
