Kementerian Keuangan Thailand menargetkan ekonominya tumbuh 2 persen tahun ini, sama seperti proyeksi sebelumnya. Pertumbuhan akan ditopang oleh sektor pariwisata dan permintaan domestik yang diperkirakan mampu mengimbangi perlambatan kinerja ekspor.
Kepala Kantor Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Vinit Visessuvanapoom, mengatakan ekspor yang menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Thailand diproyeksikan naik 1 persen tahun ini, membaik dibandingkan perkiraan sebelumnya yang memperkirakan minus 1,5 persen. Namun, laju pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat dari 12,9 persen pada 2025, seiring tingginya basis perbandingan, melemahnya volume perdagangan global, serta risiko dari kebijakan balasan perdagangan Amerika Serikat.
Sebagai ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara, Thailand masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penguatan nilai baht, tarif AS, tingginya utang rumah tangga, konflik perbatasan dengan Kamboja, hingga ketidakpastian politik menjelang pemilu awal Februari.
Nilai tukar baht telah menguat sekitar 1,1 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun ini, setelah melonjak 9 persen pada 2025, yang berpotensi menggerus daya saing sektor ekspor dan pariwisata.
“Pariwisata akan menjadi mesin utama pertumbuhan pada 2026,” kata Vinit dikutip dari Reuters, Selasa (27/1).
Jumlah wisatawan mancanegara diproyeksikan mencapai 35,5 juta orang, naik dari sekitar 33 juta pada tahun lalu, meski masih jauh di bawah rekor hampir 40 juta wisatawan pada 2019 sebelum pandemi.
Konsumsi swasta diperkirakan tumbuh 2,5 persen, ditopang aktivitas domestik yang tetap solid. Sementara itu, investasi swasta diproyeksikan meningkat 3,2 persen seiring mulai terealisasinya proyek-proyek yang dipromosikan pemerintah.
Di sisi lain, investasi pemerintah diperkirakan menyusut 1,7 persen, karena masa transisi politik dan proses administrasi yang diperkirakan menunda pengesahan anggaran fiskal 2027 sekitar tiga bulan. Belanja pemerintah diproyeksikan tumbuh 1,3 persen.
Kementerian Keuangan juga memperkirakan inflasi umum sebesar 0,3 persen tahun ini, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 0,5 persen, setelah inflasi tahun lalu tercatat minus 0,14 persen. Target inflasi bank sentral Thailand berada di kisaran 1-3 persen.
“Akan ada diskusi yang lebih intensif dengan bank sentral terkait target inflasi, dilakukan setiap tiga bulan, bukan setahun sekali, agar inflasi bisa kembali ke dalam kisaran target secepat mungkin,” kata Vinit.
Risiko utama ekonomi berasal dari volatilitas perdagangan global, serta tingginya utang rumah tangga dan usaha kecil.
Untuk 2025, ekonomi Thailand diperkirakan tumbuh 2,2 persen, dengan pertumbuhan tahunan pada kuartal IV diproyeksikan 1,8 persen. Data resmi PDB 2025 akan dirilis bulan depan oleh badan perencanaan negara. Ekonomi Thailand tumbuh 2,5 persen pada 2024.
AS telah mengenakan tarif sebesar 19 persen terhadap barang impor dari Thailand, sejalan dengan kebijakan tarif terhadap negara-negara lain di kawasan.



