Penulis: Fityan
TVRINews- Washington DC
Pemerintah AS beralih dari retorika agresif menuju deeskalasi politik di tengah ancaman 'shutdown' pemerintah.
Pemerintahan Trump secara mengejutkan meninggalkan strategi "sangkal dan serang" yang sempat digunakan sesaat setelah agen federal menembak mati Alex Pretti di Minneapolis.
Perubahan haluan ini terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam setelah serangkaian bukti video yang beredar luas di jagat maya meruntuhkan narasi awal pihak Gedung Putih.
Awalnya, administrasi Trump menggambarkan Pretti (37), seorang perawat Amerika, sebagai "teroris domestik". Sekretaris Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem, menuduh Pretti berniat "menimbulkan bahaya" dan "mengacungkan senjata". Senada dengan itu, penasihat senior presiden, Stephen Miller, bahkan melabeli korban sebagai sosok yang "berpotensi menjadi pembunuh." Dikutip BBC News Senin 26 Januari 2026.
Namun, tekanan publik dan bukti visual menunjukkan realitas yang berbeda. Rekaman video memperlihatkan Pretti sedang merekam agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) dengan ponselnya dan mencoba menolong seorang wanita sebelum akhirnya dilumpuhkan dan ditembak.
Pergeseran Nada Bicara
Sinyal perubahan sikap mulai terlihat pada Senin 26 Janauri 2026 pagi. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menolak untuk mengulangi komentar keras Miller dan memilih menekankan perlunya investigasi menyeluruh.
Presiden Trump sendiri melalui platform Truth Social menyebut kematian tersebut sebagai peristiwa "tragis," meski ia tetap menyalahkan "kekacauan yang dipicu Demokrat" atas situasi tersebut.
"Tom (Homan) adalah sosok yang tangguh namun adil, dan ia akan melapor langsung kepada saya," tulis Trump saat mengumumkan penunjukan Tom Homan untuk memimpin upaya penegakan hukum di Minnesota, menggantikan pendekatan bombastis pejabat sebelumnya.
Wakil Jaksa Agung, Todd Blanche, menggambarkan situasi di lapangan saat ini layaknya "tong mesiu" yang siap meledak. Ketegangan ini memicu keretakan di internal Partai Republik.
Gubernur Vermont, Phil Scott, secara terbuka mengkritik operasi tersebut sebagai "kegagalan total koordinasi" dan menyebutnya sebagai bentuk "intimidasi federal terhadap warga sipil."
Dilema Politik dan Ancaman 'Shutdown'
Kematian Pretti kini menjadi sumbu ledak politik di Washington. Partai Demokrat di Senat telah menyatakan akan memblokir anggaran Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) jika tidak ada pengawasan ketat terhadap taktik agresif ICE.
Hal ini berisiko memicu penutupan sebagian pemerintahan (partial government shutdown) pada Jumat mendatang.
"Saya akan memilih melawan pendanaan apa pun untuk DHS hingga kontrol lebih ketat diterapkan untuk meminta pertanggungjawaban ICE," tegas Senator Brian Schatz dari Hawaii.
Di sisi lain, Jaksa Agung Minnesota, Keith Ellison, menyatakan kepada BBC News bahwa penunjukan Tom Homan mungkin membuka ruang dialog baru.
"Saya tidak ingin menutup kemungkinan bahwa pemikiran yang masuk akal bisa menang," ujarnya, sembari mengingatkan bahwa krisis ini berakar dari posisi pemerintah federal yang selama ini dianggap "tidak masuk akal."
Meski Presiden Trump melaporkan adanya pembicaraan positif dengan Gubernur Minnesota, Tim Walz, publik masih menanti apakah perubahan presentasi ini akan diikuti oleh perubahan kebijakan nyata di lapangan.
Saat ini, pertaruhan terbesar adalah persepsi publik terhadap kebijakan imigrasi Trump isu inti yang membawanya kembali ke Gedung Putih, namun kini menghadapi ujian kredibilitas yang berat.
Editor: Redaktur TVRINews





