Krisis Pangan Global: Mengapa Solusinya Tak Bisa Lagi Satu Teknologi?

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Krisis pangan global hari ini tidak datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, menguat, lalu meledak bersamaan dengan perubahan iklim ekstrem, konflik geopolitik, krisis energi, dan rapuhnya rantai pasok global. Dunia kini berada dalam situasi paradoks: teknologi pertanian berkembang pesat, tetapi sistem pangan justru semakin rentan. Indonesia, meskipun kaya sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, tidak sepenuhnya kebal dari gejolak ini.

Ironisnya, setiap kali krisis pangan mencuat, respons yang paling sering muncul hampir selalu sama: mencari satu teknologi unggulan untuk dijadikan solusi utama. Benih unggul diharapkan meningkatkan produksi, pupuk disubsidi agar hasil melonjak, digitalisasi digadang-gadang sebagai jawaban efisiensi, atau mekanisasi besar-besaran dianggap sebagai simbol kemajuan. Pendekatan ini terdengar masuk akal, tetapi sesungguhnya berangkat dari cara pandang yang terlalu sempit.

Krisis Pangan Global Tidak Bisa Dipahami Hanya dari Produksi

Selama puluhan tahun, persoalan pangan direduksi menjadi satu indikator utama: produksi. Jika produksi meningkat, ketahanan pangan dianggap tercapai. Padahal, produksi hanyalah satu simpul dalam jaringan sistem pangan yang jauh lebih kompleks. Di balik satu butir beras atau seikat sayuran, terdapat interaksi panjang antara air, tanah, energi, iklim, teknologi, manusia, dan tata kelola.

Masalah mulai muncul ketika salah satu komponen sistem tersebut diabaikan. Benih unggul dengan potensi hasil tinggi, misalnya, tidak akan berfungsi optimal tanpa ketersediaan air yang cukup dan terdistribusi dengan baik. Pupuk berkualitas tinggi justru dapat mempercepat degradasi lingkungan jika diaplikasikan tanpa pengelolaan air dan tanah yang tepat. Teknologi digital pertanian yang canggih dapat berubah menjadi beban baru ketika bergantung penuh pada listrik, jaringan internet, dan perangkat mahal yang tidak selalu tersedia di lapangan.

Krisis pangan global hari ini tidak datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, menguat, lalu meledak bersamaan dengan perubahan iklim ekstrem, konflik geopolitik, krisis energi, dan rapuhnya rantai pasok global. Dunia kini berada dalam situasi paradoks: teknologi pertanian berkembang pesat, tetapi sistem pangan justru semakin rentan. Indonesia, meskipun kaya sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, tidak sepenuhnya kebal dari gejolak ini.

Dalam konteks krisis pangan global, kegagalan terbesar bukan terletak pada kurangnya inovasi, melainkan pada cara kita merancang sistem pertanian secara parsial dan terpisah. Krisis pangan global hari ini menunjukkan bahwa kegagalan bukan terletak pada absennya teknologi, melainkan pada kegagalan kita membaca keterkaitan antar-komponen sistem pangan secara utuh.

Ilusi Solusi Tunggal di Tengah Krisis Multidimensi

Setiap teknologi lahir untuk menjawab masalah tertentu, dalam konteks tertentu. Ketika teknologi tersebut dipaksakan menjadi solusi universal, di situlah masalah baru muncul. Inilah yang dapat disebut sebagai ilusi solusi tunggal—keyakinan bahwa satu inovasi mampu menjawab seluruh kompleksitas krisis pangan.

Pendekatan parsial semacam ini justru memperbesar kerentanan sistem. Sistem pertanian menjadi semakin tergantung pada input tertentu, semakin boros sumber daya, dan semakin sensitif terhadap gangguan eksternal. Ketika iklim berubah ekstrem, pasokan energi terganggu, atau harga input melonjak, sistem yang tampak modern justru menjadi yang pertama terguncang.

Krisis pangan global bukan hanya krisis produksi, tetapi krisis desain sistem. Selama solusi dirancang secara terpisah-pisah, hasilnya hanyalah perbaikan sementara yang rapuh.

Ilusi Solusi Tunggal di Tengah Krisis Multidimensi

Setiap teknologi lahir untuk menjawab masalah tertentu, dalam konteks tertentu. Ketika teknologi tersebut dipaksakan menjadi solusi universal, di situlah masalah baru muncul. Inilah yang dapat disebut sebagai ilusi solusi tunggal—keyakinan bahwa satu inovasi mampu menjawab seluruh kompleksitas krisis pangan.

Pendekatan parsial semacam ini justru memperbesar kerentanan sistem. Sistem pertanian menjadi semakin tergantung pada input tertentu, semakin boros sumber daya, dan semakin sensitif terhadap gangguan eksternal. Ketika iklim berubah ekstrem, pasokan energi terganggu, atau harga input melonjak, sistem yang tampak modern justru menjadi yang pertama terguncang.

Krisis pangan global bukan hanya krisis produksi, tetapi krisis desain sistem. Selama solusi dirancang secara terpisah-pisah, hasilnya hanyalah perbaikan sementara yang rapuh.

Mengapa Pendekatan Sistemik Tidak Lagi Bisa Ditunda

Pendekatan sistemik dalam pertanian berarti merancang teknologi dan praktik budidaya sebagai satu kesatuan yang saling menopang. Efisiensi air tidak dapat dipisahkan dari desain irigasi dan cara pemberian nutrisi. Pengelolaan tanah harus terhubung dengan strategi pemupukan dan dinamika perakaran tanaman. Teknologi budidaya perlu mempertimbangkan ketersediaan energi, kapasitas petani, serta ketahanan sistem dalam kondisi krisis.

Pendekatan ini juga menuntut perubahan cara kita memaknai inovasi. Inovasi bukan sekadar alat baru, melainkan cara baru dalam menyusun sistem produksi. Inovasi yang baik bukan yang paling canggih, tetapi yang paling sesuai dengan konteks ekologis dan sosial tempat ia diterapkan.

Dalam era perubahan iklim yang semakin tidak menentu, sistem pangan harus dirancang bukan hanya untuk kondisi ideal, tetapi untuk menghadapi ketidakpastian. Ketahanan pangan sejati tidak diukur dari rekor produksi tertinggi, melainkan dari kemampuan sistem bertahan, pulih, dan beradaptasi ketika tekanan datang dari berbagai arah.

Indonesia dan Tantangan Membaca Kompleksitas

Indonesia memiliki keunggulan agroekologi yang luar biasa. Namun potensi ini sering tereduksi oleh pendekatan kebijakan dan inovasi yang berjalan sektoral. Air dibahas terpisah dari pangan, energi terpisah dari pertanian, dan teknologi diperkenalkan tanpa selalu mempertimbangkan konteks lapangan.

Akibatnya, berbagai program berjalan berdampingan tetapi tidak saling menguatkan. Di satu sisi, petani didorong meningkatkan produksi; di sisi lain, mereka dihadapkan pada keterbatasan air, kenaikan biaya energi, dan degradasi lingkungan. Tanpa pendekatan sistemik, upaya meningkatkan ketahanan pangan justru berisiko memperbesar ketergantungan dan kerentanan dan menjauhkan kita dari pertanian berkelanjutan.

Krisis pangan global seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Bukan untuk mencari teknologi baru semata, tetapi untuk menata ulang cara kita merancang sistem pertanian.

Dari Logika Solo Menuju Orkestrasi

Jika krisis pangan dianalogikan sebagai sebuah orkestra yang kehilangan harmoni, maka solusi tunggal ibarat satu instrumen yang dimainkan terlalu keras. Ia mungkin terdengar menonjol, tetapi tidak menyatukan keseluruhan musik. Yang dibutuhkan adalah orkestrasi—menyelaraskan berbagai elemen agar bekerja bersama secara efektif.

Air, tanah, energi, teknologi, dan manusia harus diperlakukan sebagai bagian dari satu komposisi besar. Tanpa orkestrasi yang baik, setiap inovasi berisiko menjadi jawaban yang benar untuk pertanyaan yang keliru.

Dunia tidak kekurangan teknologi pertanian. Yang masih kurang adalah keberanian untuk meninggalkan cara berpikir parsial dan beralih ke cara berpikir sistemik. Di tengah krisis pangan global yang semakin kompleks, masa depan pangan tidak ditentukan oleh satu teknologi terbaik, melainkan oleh kemampuan kita merancang sistem yang cerdas, efisien, dan tahan terhadap perubahan. Selama krisis pangan global masih dijawab dengan solusi tunggal, ketahanan pangan akan tetap rapuh dan mudah terguncang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Komisi III soal Inosentius Diganti dari Hakim MK Usulan DPR: Ada Penugasan Lain
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Kondisi Terkini Longsor di Cisarua Bandung Barat
• 7 jam laludetik.com
thumb
Indonesia Tegaskan Dukungan pada Palestina, Menlu Sugiono Tekankan Solusi Dua Negara
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Sidang Chromebook, Jaksa Cecar Pejabat GoTo soal Investasi BUMN
• 31 menit lalubisnis.com
thumb
Diam-diam Reza Arap Telah Jalani Pemeriksaan Soal Kematian Lula Lahfah, Dicecar 30 Pertanyaan
• 6 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.